Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Kedu Pernah Memiliki Masa Kejayaan

Kedu Pernah Memiliki Masa Kejayaan

Suatu hari di tahun 732 Masehi, Raka Sanjaya, keturunan dinasti Syailendra, tertarik dengan keindahan dan kesuburan wilayah sekitar Sungai Progo. Sungai Progo adalah sungai yang ketika itu diidentikkan kejernihan dan kesejukannya seperti Sungai Gangga di India. Wilayah di sekitar Sungai Progo itu adalah kawasan yang sekarang disebut daerah bekas Karesidenan Kedu, Jawa Tengah.

Raka Sanjaya kemudian bermaksud mendirikan kerajaan di kawasan yang subur dan indah itu. “Ini daerah yang bisa membawa kecemerlangan dan kejayaan,” pikir Sanjaya.

Niat Sanjaya itu pun segera terwujud. Dengan bantuan rakyat yang saling bahu membahu, sebuah istan yang megah dalam waktu yang relatif singkat berdiri. Raka Sanjaya kemudian memberi nama kerajaannya itu dengan Mataram. Jadi, dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia, daerah Kedu tercatat sebagai pusat Kerajaan Mataram pertama, yang oleh pakar sejarah disebut Mataram kuno.

Sanjaya seorang raja yang bijaksana dan bertekad keras untuk memakmurkan rakyatnya. Karena itulah ia sangat dihormati dan disanjung rakyatnya. Apalagi seluruh rakyat di kerajaannya meyakini bahwa Sanjaya adlah seorang raja yang diberkahi oleh Bhatara Syiwa.

Sanjaya berhasil meluaskan wilayah Kerajaan Mataram (kuno), jauh di luar wilayah Kedu. Sayang, Sanjaya tidak dapat menikmati kejayaan kerjaan yang dibangunnya lebih lama lagi. Ia meninggal dunia di saat kejayaan dan kebesaran Mataram (kuno) sedang berlangsung.

 

Pancapana

Sepeninggal Sanjaya, anaknya yang bernama Pancapana naik tahta. Pancapana ternyata juga mewarisi bakat ayahnya dalam membangun dan membesarkan negara. Bahkan di tangan Pancapana, Mataram (kuno) semakin besar dan berjaya.

Sektor perdagangan atau perekonomian sangat mendapat perhatian Pancapana. Menurutnya, bila Mataram (kuno) bisa menguasai jalur perdagangan waktu itu, maka sudah dapat dipastikan kerajaan yang dipimpinnya benar-benar akan tampil menjadi besar, makmur dan disegani.

Ketika itu Sriwijaya di Palembang telah menjadi pusat perdagangan dunia. Saat itu terkenal dan kuat, karena perdagangannya. Pancapana lalu mengincar Sriwijaya. Baginya, bila dapat menundukkan Sriwijaya, berarti bisa menguasai jalur perdagangan dunia.

Setelah langkah negosiasi awal tidak membuahkan hasil, Pancapana lalu mengerahkan armada perangnya menyerang Sriwijaya. Perang besar pun terjadi. Angkata perang Sriwijaya yang besar dan kuat berusaha sekuat mungkin menangkis serangan Mataram (kuno).

Nasib baik sedang berada di pihak Mataram (kuno). Sriwijaya akhirnya berhasil ditaklukkan. Jalur perdagangan dunia itu pun kemudian berhasil dikuasai Mataram (kuno).

Pancapana tak puas sampai di situ. Ia semakin melebarkan sayapnya untuk menguasai jalur perdagangan yang ada di sepanjang Selat Melaka. Armada-armada asing dari India, Siam dan Indo-Cina yang saat itu juga berusaha menguasai jalur perdagangan di Selat Melaka berhasil disingkirkannya. Kemudian kerajaan-kerajaan di seputar Selat Melaka juga berhasil ditaklukkannya.

Mataram (kuno) yang berpusat di Kedu (Magelang dan sekitarnya) itu benar-benar mencapai masa kejayaannya di tangan Pancapana. Hampir seluruh wilayah di nusantara dan negara tetangga lainnya mengakui kekuasaan Mataram (kuno).

 

Kerukunan Beragama

Pancapana adalah seorang raja yang sangat menjunjung tinggi dan menghargai setiap keyakinan atau agama yang dianut rakyatnya. Pancapana sendiri penganut agama Syiwa, sedang permaisurinya, Dewi Tara, seorang penganut agama Budha. Di bawah pemerintahannya kerukunan umat beragama yang ada di kerajaannya, antara umat Syiwa (Hindu) dan Budha, terjalin dengan mesra.

Pancapana sangat menaruh peduli terhadap pembangunan kehidupan beragama. Ia sadar, kehidupan beragama rakyatnya tidak akan berjalan sebagaimana mestinya bila tempat-tempat ibadah dan fasilitas peribadatan  tidak dibangun oleh kerajaan.

Wujud nyata dari tekad dan kerukunan beragama yang terjalin ketika itu adalah dibangunnya candi Budha di Borobudur, yang kini terkenal dengan  nama Candi Borobudur. Candi Budha lainnya yang dibangun Pancapana adalah Candi Mendut di Mendut. Sedang sejumlah candi untuk agama Syiwa (Hindu) dibangunnya di beberapa tempat, seperti Candi Prambanan.

Mataram (kuno) yang berpusat di Kedu, ketika itu memang benar-benar tercatat sebagai suatu kerajaan terbesar di wilayah Asia Tenggara. Mataram (kuno) tidak hanya maju di bidang perekonomian dan pertanian, tapi juga sangat terkenal sebagai kerajaan yang sangat menghargai keyakinan rakyatnya dalam beragama dan beribadah. Agama sangat mendapat tempat di pemerintahannya.

Inilh sebagian dari kejayaan dan kebesaran masa lalu yang pernah disandang oleh daqerah Kedu. Kebanggaan itu seharusnya terpatri hingga hari ini, bahwa di wilayah Kedu pernah berdiri kerajaan besar yang kebesarannya diakui di seluruh Asia Tenggara. Setidak-tidaknya, Candi Borobudur dan Candi Mendut, merupakan salah satu bukti nyata dari kebesaran dan kejayaan masa lalu itu. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.