Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Kecelakaan Pesawat Terbang Pertama di Indonesia, 19 Februari 1913

Kecelakaan Pesawat Terbang Pertama di Indonesia, 19 Februari 1913

Tanggal 19 Februari 1913 sebenarnya merupakan hari bersejarah bagi sejarah penerbangan di Indonesia, karena pada tanggal tersebut di tanah air kita dilakukan penerbangan pesawat terbang yang pertama.

Penerbangan pesawat terbang yang pertama itu dilakukan oleh seorang penerbang bangsa Belanda , JWER Hilgers, di Surabaya. Pesawat yang digunakan Hilgers pada hari bersejarah itu adalah pesawat terbang Fokker. Namun perlu pula dicatat, selain sebagai orang yang melakukan penerbangan pertama di Indonesia, Hilgers juga tercatat merupakan penerbang pertama yang mengalami kecelakaan udara.

Setelah sempat membuat kekaguman warga kota Surabaya dan sekitarnya, pesawat Fokker yang dikemudikan Hilgers tiba-tiba mengalami kecelakaan dan kemudian jatuh di di kampung Baliwerti. Untung, Hilgers sendiri luput dari maut, kecuali hanya mengalami cidera kecil.

Penerbangan Holgers tersebut layak dicatat sebagai awal mula kebangkitan dunia penerbangan udara di Indonesia. Karena pada tahun 1914 Angkatan Darat Hindia Belanda mendirikan Proet Vlieg Afdeling (PVA) atau Bagian Penerbangan Percobaan.

Empatbelas tahun kemudian, tepatnya 1 November 1928, dunia penerbangan di tanah air kita mencatat perkembangan baru dengan berdirinya perusahaan penerbangan KNILM yang merupakan kerja sama antara Deli Maatschappy, Nederlandse Handel Maatschappy, KLM dan Nederland.

Pada hari itu juga dimulailah perhubungan udara dari Jakarta ke Semarang dan Jakarta ke Bandung dengan sekali terbang dalam sehari. Pesawat terbang yang digunakan waktu itu Fokker F-7.

Dan, pada masa kemerdekaan, seiring diproklamasikannya Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta, negara kita mulai membangun suatu kekuatan di udara dengan memperkokoh dan menongkatkan perkembangan dunia penerbangan yang telah ada.

Kemudian, pada 9 April 1946, Presiden Soekarno menetapkan berdirinya Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Sejak pembentukan AURI ini, pembangunan penerbangan nasional di ranah air terus mengalami peningkatan tahap demi tahap, meskipun dengan peralatan dan kemampuan yang terbatas.

 

Pekan Penerbangan

Semenjak itu AURI giat membangun diri demi menciptakan suatu pertahanan udara yang mantap. Disamping itu upaya mengenalkan diri kepada masyarakat luas terus dilakukan dengan berbagai upaya, agar rakyat Indonesia benar-benar mengetahui meski baru setahun merdeka, tapi kemampuan AURI dan penerbang-penerbangnya sudah bisa dibanggakan.

Dalam rangkaian memperkenalkan kemampuan penerbangan yang ada saat itu, pada peringatan satu tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, di Yogyakarta dilangsungkan Pekan Penerbangan yang pertama.

Pekan penerbangan yang pertama kali dilaksanakan setelah kemerdekaan itu berlangsung selama dua hari, tepatnya dari tanggal 22 hingga 24 Agustus 1946 di Lapangan Terbang Maguwo (sekarang Bandara Adisutjipto).

Dalam Pekan Penerbangan tersebut, selain masyarakat luas dapat menyaksikan secara bebas pesawat-pesawat terbang yang punya sejarah dan peran penting dalam perjuangan bangsa itu dari dekat, kepada umum diberi pula kesempatan untuk ikut terbang.

Dibukanya kesempatan kepada umum untuk ikut terbang keliling kota Yogya itu ternyata telah mendapat sambutan yang meluap dari warga masyarakat. Akibatnya, peminat yang ingin ikut dalam terbang keliling itu sangat besar jumlahnya. Karena tidak mungkin semua mereka yang berminat dibawa terbang keliling, akhirnya pihak penyelenggara mengambil kebijaksanaan dengan melakukan pengundian terhadap mereka yang berminat tersebut.

Tentu saja banyak warga masyarakat yang kecewa, karena tidak berhasil meraih undian menjadi peserta terbang keliling kota secara gratis itu. Namun pun begitu, mereka cukup terhibur juga dengan adanya acara itu sendiri di samping menyaksikan kegiatan-kegiatan lainnya selama Pekan Penerbangan berlangsung.

Pekan Penerbangan yang pertama di Yogyakarta itu sebelumnya sudah diawali dengan acara steleng penerbangan. Acara steleng penerbangan ini juga merupakan yang pertama dilakukan waktu itu dengan tempatnya tetap di Yogyakarta. Kegiatan steleng penerbangan itu berlangsung dua hari, 17 dan 18 Agustus 1946.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya permualaan tahun 1947, di Yogyakarta diselenggarakan kembali Pekan Penerbangan. Pekan Penerbangan yang kedua ini jauh lebih meriah dan semarak dibandingkan dengan Pekan Penerbangan pertama.

Pada Pekan Penerbangan kedua tidak kurang dari 5000 orang murid sekolah memadati Lapangan Terbang Maguwo. Anak-anak sekolah ini tidak saja datang dari dalam kota Yogya, tapi juga berdatangan dari kota-kota di luar Yogya. Mereka yang datang dari kota-kota di luar Yogya datang dengan menumpangi kereta api secara gratis.

Dalam Pekan Penerbangan yang kedua, selain diadakan acara ikut terbang keliling, juga diselenggarakan demonstrasi terbang formasi dan aerobatik. Tercatat 27 pesawat terbang yang ada waktu itu ikut ambil bagian dalam Pekan Penerbangan yang semarak tersebut. Bahkan tercatat pula, sebuah pesawat Dakota dari Filipina turut berpartisipasi memeriahkannya.

Pada bulan Agustus 1948, acara yang sama berlangsung lagi di Yogyakarta. Acara tersebut juga dimaksudkan sebagai merayakan tiga tahun Proklamasi Kemerdekaan RI.

Kegiatannya diawali dengan steleng penerbangan (semacam pameran) selama seminggu, 17 hingga 22 Agustus 1948. Kegiatan yang berlangsung di “Balai Prajurit” Yogyakarta tersebut berlangsung meriah dan menunjukkan keberhasilan pembangunan AURI. Steleng Penerbangan di “Balai Prajurit” itu dibuka oleh Ibu Negara, Fatmawati Soekarno (isteri Presiden Soekarno).

Dalam kesempatan itu selain hadir Presiden Soekarno, Wapres Moh. Hatta dan Pangsar Jenderal Sudirman, juga hadir Kepala Staf Angkatan Darat, Kepala Staf Angkatan Laut, di samping tentunya hadir Kepala Staf Angkatan Udara. Bahkan terlihat hadir pula, peninjau-peninjau militer dari UNCI. Pada Steleng Penerbangan tahun 1948 ini AURI bahkan menampilkan kebolehannya membuat sebuah pesawat peluncur dan pesawat sport.

Selain itu pada tanggal 22 hingga 23 Agustus 1948 diadakan pula peringatan Hari Penerbangan di Lapangan Terbang Maguwo. Dalam acara ini, selain dimeriahkan demonstrasi penerbangan juga terjun payung serta memberikan kesempatan ikut terbang kepada umum. Acara ini disaksikan langsung oleh Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, peninjau-peninjau UNCI dan sementara pejabat lainnya.

Bulan Agustus 1946 memang dapat dicatat sebagai saat bersejarah dan sekaligus membanggakan, karena pada bulan tersebutlah telah dilaksanakan Pekan Penerbangan pertama di Indonesia.

Namun sebulan kemudian, tepatnya pada bulan September 1946 terjadi malapetaka dan bencana yang menyedihkan bagi kebangkitan dunia penerbangan dan Angkatan Udara kita.

Pada bulan September 1946 itu, sebuah pesawat pengintai Tatjikawa 98 “Tjukiu” mengalami kecelakaan di atas Yogyakarta dan kemudian jatuh terbakar persis di kampung Gowongan Lor. Dalam kecelakaan pesawat terbang itu telah gugur Opsir Penerbang Husen Sastranegara dan Sersan Rukidi.

Seminggu setelah bencana di Yogyakarta, lagi sebuah pesawat Tatjikawa 98 “Tjukiu” jatuh terbakar di Ambarawa. Dua penumpangnya Opsir Penerbang Wim Prajitno dan Kadet Sunharto gugur sebagai kusuma bangsa. *** (Sutirman Eka Ardhana)

 

  • (Sumber bacaan: Buku Sejarah Penerbangan, R.J Salatun, Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakyat NV, Jakarta, 1950)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.