Senin , 10 Agustus 2020
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IV : Kebudayaan Adalah Ruh dan Spirit Kebangsaan
Dr. Achmad Charris Zubair (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan IV : Kebudayaan Adalah Ruh dan Spirit Kebangsaan

Dr. Achmad Charris Zubair
Pengajar Fakultas Filsafat UGM

Dr. Achmad Charris Zubair (ft. Ist)
Di mata seorang budayawan, warna bisa dijadikan ikon dan juru bicara kebudayaan yang mempunyai kekuatan simbolik. Ketua Dewan Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dr. Achmad Charris Zubair memberi ilustrasi bahwa, sebagai kekuatan simbolik, warna merah putih dan batik, bisa dipadukan sebagai ikon atau identitas nasional.

“Ini adalah tanda-tanda atau isyarat alam bahwa kita berdiskusi tentang merah putih yang ikonnya itu adalah batik. Maka di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ketika merah putih ditampilkan, karena berada di Jogja, misalnya maka batik menjadi penyeimbang,“ ucap Charris Zubair

Kalau kita berbicara mengenai kebangsaan di dalam kebudayaan, lanjut Zubair, kita sepakat dengan Pancasila, sehingga bicara kebangsaan dalam kebudayaan berarti juga bicara ideologi.

“Berdiskusi kebangsaan dalam kebudayaan berarti berdiskusi tentang ideologi. Ini pemahaman saya,” kata Zubair

Dosen Fakultas Filsafat UGM ini mengatakan, ideologi, bisa dilihat dari tiga tahapan. Yang pertama, pandangan dari dimensi ideal. Yakni dimensi idealitas yang bersifat retrospektif. Kalau kita bicara yang ideal, dimensi yang idealitas maka sesungguhnya kita sudah sepakat bahwa kebudayaan itu memang harus menjadi dasar bagi terwujudnya spirit kebangsaan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XII: Wayang dan Kebangsaan

“Tidak mungkin apa yang disebut dengan kebangsaan, nasionalisme, itu tidak didasarkan atas kebudayaannya sendiri,” tegasnya

Sehingga kebudayaan itu, lanjut Zubair, mestinya memang merupakan ruh dari terwujudnya spirit kebangsaan. Kebudayaan tidak hanya tari-tarian, itu pasti juga meliputi nilai budaya, meliputi pandangan hidup, norma sosial, bahkan sampai ke norma hukum, mulai dari norma moral, adat-istiadat, norma hukum, norma aturan sampai kepada sikap perilaku karya-karya kebudayaan.

Achmad Charris Zubair menambahkan, Pancasila itu sendiri termuat di dalam Pembukaan UUD alinea ke-4 yang itu sudah menjadi stad fundamental norm. Jadi Pembukaan dan di mana isinya Pancasila tidak mungkin diubah kecuali mengubah negara itu sendiri. Itu semangat kebangsaan kita, semangat yang diwujudkan dalam pembukaan yang berisi Pancasila yang sebetulnya juga merupakan kristalisasi kebudayaan sebagai semangat dasar bagi kebangsaan kita.

“Ini tentu dimensi restrospektif. Pancasila bukan merupakan satu hal yang mati yang hanya dipakai bicara untuk masa lalu, bicara tentang nostalgia, tidak berfungsi kalau begitu, sebab nanti hanya akan berhenti pada slogan, berhenti pada ungkapanungkapan ideal semata-mata,” ujar Zubair.

Yang kedua adalah dimensi realitas. Itu adalah kenyataan faktual dan aktual kekinian. Ada persoalanpersoalan yang merupakan realitas keindonesiaan dari dulu sampai kapanpun. Persoalan yang berupa kemajemukan, pluralitas, maka tali pengikatnya adalah Bhinneka Tunggal Ika. Itu sangatlah relevan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVIII: Kembali ke Musyawarah Mufakat

“Salah satu persoalan global yang paling serius itu sesungguhnya adalah hegemoni politik maupun budaya,” ucap Zubair

Menurut Zubair, sekarang ini kita masih menganut adanya stigmatisasi di dalam membagi bangsa dan negara, yaitu negara terbelakang, kemudian negara berkembang, kemudian negara maju, kemudian negara super power. Itu juga kita terapkan di negeri kita, ada daerah terbelakang, ada daerah maju, dan daerah terbelakang, yang berkembang itu pokoknya bisa disebut maju kalau ikut-ikutan daerah yang disebut maju.

Bangsa dan negara yang disebut terbelakang itu bisa disebut maju kalau mengejar negara-negara maju. Padahal dengan mengikuti itu, kita akan terjebak pada persoalan-persoalan politik, budaya, sosial, ekonomi, yang tidak bisa dicegah kalau kita tidak punya keberanian untuk mengubah stigma itu. Tapi kemudian ketika kita terjebak pada tradisionalisme, akhirnya juga malah kemudian menutup diri. Jadi ini persoalan-persoalan kekinian. Di sinilah sebetulnya dialog.

“Kebangsaan di dalam kebudayaan, di dalam menyelesaikan persoalanpersoalan faktual aktual kekinian, itu menjadi introspektif” pungkas Ahmad Charris Zubair.

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Kesimpulan

Diskusi Derap Kebangsaan seri XXVI, yang menghadirkan 3 narasumber, yakni, Idham Samawi, Anggota DPR-MPR RI, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *