Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VII: Kebangsaan, Pancasila dan Keberagaman
Ons Untoro

Diskusi Kebangsaan VII: Kebangsaan, Pancasila dan Keberagaman

Oleh: Ons Untoro

Kali pertama di Indonesia, keberagaman yang dimiliki bangsa ini dipertunjukkan dalam satu upacara peringatan Hari Kemerdekaan  RI ke 72 di Istana Preseden. Dalam peringatan ini para pemimpin negara mengenakan pakaian adat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, sehingga orang tahu, bahwa di Indonesia kaya akan kebudayaan, salah satunya berupa pakaian adat. Beragam pakaian adat yang dikenakan bisa kita mengerti, bahwa perbedaan itu indah. Identitas bisa ditunjukkan justru karena ada yang berbeda. Rasanya, peringatan Hari Kemerdekaan RI 72 merupakan wujud dari apa yang disebut sebagai politik kebudayaan yang dilakukan oleh Presiden RI, dalam hal ini Joko Widodo, sekaligus ia hendak berbisik pada bangsa, bahwa perbedaan dalam kebersamaan sangat menyenangkan.

Diskusi Kebangsaan ke 7, yang diselenggarakan, Selasa 22 Agustus 2017 di Auditorium Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Gedung Thomas Aquninas Lantai 3 menyajikan tema ‘Kebangsaan Dalam Masyarakat Multikultural’ dengan narasumber Drs. Idham Samawi,Anggota DPR RI. Dr. Greg. Sri Nurhantanto, SH., LL.M. Rektor Universitas Atma Jaya Yogya, Sr, Zulyqodir, Pengajar Fisipol Universitas Muhamadiyah Yogyakarta dan Bambang Kusumo Prihandono, MA, Kaprodi Sosiologi Atma Jaya Yogyakarta.

 

Pancasila Menjadi Dasar Negara

Dalam berbicara kebangsaan, tidak bisa melepaskan Pancasila dan nasionalisme. Semua pembicara menyentuh dua nilai itu, seolah keduanya selama ini dilupakan, sehingga ketika ada nilai lain yang muncul untuk ditawarkan, kita seperti terkejut dan mencari-cari pegangan agar kita tidak jatuh terjeremban dalam lubang yang tidak diingninkan oleh bangsa ini. Nilai yang (kembali) dipegang sudah lama menjadi dasar dari tegaknya bangsa ini, namun agak lama nilai itu menjadi bahan indoktrinasi, dan bahkan  mulai dilupakan, atau setidaknya jarang disebut.

Tetapi sebelum memiliki Pancasila, bangsa ini sudah bersatu melalui apa yan disebut sebagai nasionalisme, yang oleh Bendedict Adresson disebut sebagai imagine Community. Melalui nasionalisme  bangsa ini bisa menuju kemerdekaan, tentu saja peran para pemimpin bangsa seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir dan para pemimpin lainnya tidak bisa dilupakan, dan lebih-lebih rakyat Indonesia yang bersama pemimpin berjuang untuk menuju kemedekaan RI.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Dialog

Para pemimpin tahu, bahwa nasionalisme tidak tunggal, tetapi disangga oleh perbedaan. Karena di Indoensia terdiri dari bermacam suku, jenis keyakinan, warna kulit dan lainnya. Dalam perbedaan itu bangsa Indonesia bisa bersatu untuk menjadi bangsa yang besar, dan negaranya kuat. Selama hampir 20 tahun Soekarno menjaga RI agar tetap bersatu, dan melahirkan Pancasila sebagai upaya untuk menjaga keberagaman yang dimiliki bangsa ini.

“Bagi saya, Pancasila adalah alat pemersatu bangsa, ia adalah nilai yang menyatukan bangsa ini dalam perbedaan,” kata Bambang Kusumo Prihandono, Kaprodi Sosiologi Universita Atma Jaya Yogyakarta (UAJY)

Idham Samawi melihat secara agak berbeda. Bagi Idham Samawi, secara berkelakar sering mengatakan, selama ini Pancasila dianggap sebagai barang keramat, yang setiap hari tertentu diberi kembang dan dibakarkan kemenyan.

“Pancasila, saya melihat, selama ini belum menjadi ideologi kerja” kata Idham Samawi.

Zulyqodir, sebagai warga Mumammdiyah sepenuhnya mendukung apa yang telah menjadi keputusan organisasinya itu. Kata Zuly, “Muhammadiyah secara resmi sudah menyatakan negara Pancasila adalah negara yang tidak perlu diubah. Secara resmi dalam keputusan Muktamar Muhammadiyah di Makassar, 26 Agustus 2015 yang lalu, mengatakan bahwa negara Pancasila adalah sebagai sebuah negara yang telah disepakati oleh seluruh para pendiri bangsa, dan seluruh elemen masyarakat Indonesia, yang di mana umat Islam paling banyak, harus menjadi saksi, dengan cara apa, membuat kebajikan-kebajikan di negara berdasarkan Pancasila.

Sri Nurhartanto, Rektor UAJY sambil mengajak melihat jejak sejarah mengatakan, bahwa seperti pernah dikatakan Soekarno, bahwa Pancasila sebagai dasar NKRI sudah final. Tidak perlu lagi diperdebatkan rumusannya, lebih-lebih diganti.

Ditengah tergerusnya nasionalisme, seolah bangsa kita seperti kehilangan orientasi untuk hidup di ruang yang sama dalam perbedaan. Selama berpuluh-puluh tahun nasionalisme menjadi rujukan hidup bersama dalam perbedaan, namun ketika orang mulai menawarkan pegangan lain, tetapi sepenuhnya tidak menerima perbedaan, kita merasa perlu meneguhkan kembali atas kesepakatan yang salama ini telah diambiil. Pancasila adalah satu nilai yang, selama ini, telah diterima sebagai dasar negara dan dari sana hidup bersama dalam perbedaan dijalani bersama.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Darurat Ideologi, Pancasila Harus “Working Ideology”

 

Nasionalisme Dalam Keberagaman

Seringkali, yang terjadi dalam keseharian berbeda dengan yang diwacanakan. Dalam keseharian kita sudah terbiasa hidup dalam perbedaan, hampir-hampir tidak ada masalah dalam perbedaan itu.  Masalah baru muncul ketika perbedaan itu diwacanakan, menjadi perbincangan. Masalnya tidak terletak pada perbedaan itu sendiri, melainkan justru pada perbedaan persepnsi dalam memahami keberagaman. Dialog antar kelompok sosial memang terus terjadi: dialog antara Jawa dan  Tionghoa masih terus berlangsung, masing-masing saling mengisi dan menguatkan. Jawa dengan jenis keyakinan yang lain terus melakukan dialog. Yang menjadi soal, jika dalam dialog salah satu merasa paling benar, atau merasa di atas yang lain, sehingga konflik tak bisa dihindarkan.

Dalam menuju kemerdekaan, sejak awal sudah disadarim,  bahwa sebagai bangsa kita, dari masing-masing daerah memiliki perbedaan yang kuat. Bahkan dari segi bahasa kita sudah berbeda. Ada banyak bahasa daerah, bahasa melayu hanyalah salah satu dari sejumlah bahasa daerah lainnya. Namun ketika bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, bahasa daeran lainnya tidak menolak. Justru dari bahasia nasional itulah, dalam perbedaan kita menjadi satu tanpa melupakan bahwa kita berbeda.

Dan, masing-masing bahasa daerah dibiarkan untuk terus hidup, bahkan  sejumla kosa kata diserap masuk dalam kosa kata bahasa Indonesia. Dari titik ini setidaknya kita bisa tahu, sebagai bahasa pemersatu, bahasa Indonesia memiliki keterbatasan kosa kata, karena itu perlu mengambil dari kosa kata bahasa daerah.

Ini baru menujuk segi bahasa, belum jenis kesenian, pakaian adat, upacara-upacara, jenis makanan dan seterusnya. Dari segi makanan misalnya, di Yogya kita bisa menemukan aneka menu makanan berinteraksi dengan menu makanan lainnya. Di Yogya kita bisa menikmati menu makanan dari Padang, Makasar, Aceh, Meenado bahkan menu makana dari China. Aneka makanan yang beragam tersebut berinteraksi dengan menu khas Yogya, yakni gudeg, tanpa masing-masing merasa dipinggirkan.

Simak juga:  Mantan Wartawan Yogya Meninggal Saat Diskusi Kebangsaan

Dari segi menu makanan, gudeg menerima menu-menu dari daerah lainnya, dan orang dari kota atau daerah lain, bisa menikmati gudeg Yogya. Dalam kata lain, dari segi makanan perbedaan bukan menjadi masalah.

Dari jenis kesenian, kita bisa menemukan aneka kesenian dari banyak daerah yang terus dijaga kelangsungan hidupnya. Di Papua ada jenis kesenian yang terus tumbuh dan dijaga kelangsungan, di Sumaatra, Kalimanta, Jawa, Sunda, Aceh dan daerah-daerh lainnya memiliki kesenian yang berbeda-beda. Dari ragam kesenian, jenis makanan, pakaian adat, upacara-upacara yang mengkonstruksi kebudayaan nasional.

Dalam kata lain, kebuadayaan Indonesia adalah rangkaian dari seluruh kebudayaan yang ada di daerah-daerah, dan masing-masing kebudayaan daerah menyangga apa yang disebut sebagai Indonesia.

Identitas yang dimiliki setiap daerah, justru bisa terlihat ketika identitas itu disandingkan dengan identitas lain dari daerah yang berbeda. Identitas yang berbeda-beda itu, dan berada dalam satu ruang yang bernama Indonesia, yang kemudian mengental menjadi spirit bersama untuk bersatu, yang kita kenali sebagai nasionalisme. Kemerdakaan kita yang sudah memasuki usia 72 tahun, tak bisa dilepaskan dari jiwa nasionalisme itu. Jiwa itu menggumpal menjadi satu bangsa, dan setiap daerah terus memelihara perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber konflik.

Jadi, selama ini jiwa, nasionalisme kita (di) hidup (i) oleh keberagaman yang dimiliki bangsa kita. Meski kita tahu, norma untuk melawan dan mengusir penjajah kita menggunakan norma penjajah, ialah demokrasi. Norma yang datang dari luar, apapun namanya, seringkali mencoba mempersoalkan keberagaman, tetapi norma demokrasi malah seperti sebuah kolam, yang memberi ruang agar perbedaan terus tumbuh dan berkembang: saling mengisi dan menguatkan.

Maka, kita perlu menjaga nasionalisme terus menyala dan kolam demokrasi semakin jernih, sehingga perbedaan yang kita miliki, keberagaman yang telah menjadi warna hidup kita semakin menjernihkan demokrasi. (*)

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.