Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan Membutuhkan Kecerdasan dan Kematangan Etis
Dr. Arie Sujito, Sosiolog Fisipol UGM (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan Membutuhkan Kecerdasan dan Kematangan Etis

Oleh: Dr. Arie Sujito, Sosiolog Fisipol UGM

HARI ini saya mengucapkan terimakasih diundang di forum ini, forum Paguyuban Wartawan Sepuh, yang sebagai senior, sebagai pencari berita masih cukup concern perhatian soal bangsa, dan itu menjadi bagian penting kita untuk mengatakan bahwa kalau yang senior saja masih punya komitmen untuk berjuang, tentu yang muda harus jauh lebih aktif untuk membawa proses ini ke arah yang lebih baik.

Ini catatan saya yang pertama, oleh karena itu saya apresiasi Paguyuban Wartawan Sepuh. Tadi Pak Idham dan Prof Sudjarwadi sudah menyampaikan, banyal hal bagaimana spektrum perubahan yang terjadi sekarang ini dan kalau kita bicara tentang nasionalisme, seberapa relevan buat masa depan Indonesia dan seberapa relevan buat anak muda, dan kalau itu relevan, bagaimana kita kerjakan itu semua.

Apa yang kita alami sekarang memang terjadi transformasi besar. Perubahan yang berlangsung di Indonesia, juga karena arus global yang konsekuensi dari tradisi kita sebagai negara berkembang mau menuju ke negara yang maju. Suka tidak suka, kita harus belajar banyak dari perubahan itu, dan tentu kita harus menyiapkan proses-proses yang ada.

Nah kalau bicara tentang nasionalisme, kita tentu belajar tentang sejarah keindonesiaan. Indonesia itu lahir dari proses panjang, di mana ikatan persatuan sebagai bangsa, nasionalisme dipahami sebagai ideologi, mencintai bangsa, dengan segala konsekuensinya. Kalau pada saat era pra kemerdekaan, perjuangan itu sangat nyata yang ditandai oleh persatuan rakyat Indonesia, pemimpinnya di dalam keberagaman apakah suku, agama, etnis, dan seterusnya untuk melawan imperialisme. Sejarah tentang sumpah pemuda, sejarah kemerdekaan kita bersatu, itu adalah hal-hal yang penting untuk dibicarakan, dan hari ini mempelajari sejarah berarti mempelajari tentang value dan pesan penting atas persatuan itu.

Ketika kita bicara soal itu, maka sejarah tidak sekedar dipelajari sebagai sebuah doktrin, tetapi sejarah harus dipetik sebagai sebuah makna untuk dikaitkan dengan tantangan hari ini. Oleh karena itu kalau bicara soal Pancasila, yang The Founding Father itu sudah menggagas, sudah merumuskan dengan cerdas, dan ingat apa yang dilakukan oleh the founding father itu sangat visioner.

Sukarno pernah bicara soal bagaimana imperialisme, sesuatu yang sebetulnya pada saat itu belum begitu nyata. Tetapi Sukarno sudah memprediksi akan ada ekspansi besar-besaran negara maju, yang itu melakukan upaya-upaya pencaplokan ke berbagai negara. Yang dalam bentuk perdagangan, dalam bentuk budaya, dalam bentuk politik. The founding father itu menyadari betul bangsa ini memiliki potensi besar, tetapi kalau tidak dikelola dengan baik, juga akan mengalami kedodoran.

 

Pahami Sejarah Secara Cerdas

Kalau dalam perspektif itu kita kaitkan dengan tantangan sekarang, yang harus dijawab adalah memahami sejarah itu secara cerdas untuk menjadikan sebagai bahan respon tantangan hari ini. Suka tidak suka bahwa arus teknologi dan informasi berkembang di Indonesia. Kita tidak lagi bicara tentang nasionalisme dalam pengertian sekadar mencintai Indonesia, tetapi bicara juga soal menegakkan kedaulatan. Pancasila tidak sekedar dihafalkan, Pancasila tidak sekedar dibaca, pada saat kita upacara, atau ketika kita pidato, tapi yang lebih dari itu adalah menerjemahkan Pancasila itu dalam praktek kebijakan, dalam praktek kebudayaan praksis dan mengilhami Pancasila itu di dalam kehidupan sehari-hari.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan dalam Kepahlawanan Millennial

Kadang-kadang kita lupa bahwa ingat Pancasila kalau ada masalah. Kalau ada konflik etnik, konflik agama, kita baru ingat bahwa kita punya Pancasila. Sebaliknya pada saat tidak ada konflik yang muncul kita lupa pada Pancasila. Padahal lima sila Pancasila yang kita pelajari betul, kalau kita tafsirkan secara lebih baik, lebih kritis secara praksis. Banyak hal yang sebetulnya dibicarakan the founding father pada saat menyusun Pancasila itu.

Nah, tugas ilmuwan itu adalah mendiskusikan, memperdebatkan Pancasila itu agar berkembang, menginspirasi dalam riset, dalam perkembangan teknologi, dan seterusnya. Tugas policy maker adalah menerjemahkan Pancasila itu pada saat menyusun kebijakan, menyusun Undang-Undang atau program-program apapun. Dan tugas aparat hukum juga menjadikan Pancasila itu sebagai kekuatan pada saat dia mengambil keputusan, mengambil pertimbangan-pertimbangan.

Begitu juga dalam masyarakat kita, contoh yang paling konkrit. Kita di jalanan itu, interaksi pada saat kita berhadapan dengan orang lain menggunakan kendaraan, di situ diuji mentalitas kita. Taat aturan itu sesungguhnya tidak harus ada polisi, ada lampu merah, hijau, kuning, dan tanpa polisi pun mestinya tetap taat. Tapi kadang-kadang kalau tidak ada polisi, helm itu ditaruh di jok.

Dan saat ini, kritik saya sejak dulu sampai sekarang, anak-anak muda itu cerdas dalam pengertian kecerdasan otak, tapi secara etik kadang-kadang lupa. Kalau mau masuk perguruan tinggi, itu dites tidak buta warna. Tanya Prof. Sudjarwadi mantan rektor saya dulu. Ketika anak mau masuk perguruan tinggi terutama eksak, hendak jadi dokter harus bebas dari buta warna itu. Tapi ketika di jalanan, kita tidak bisa membedakan warna merah, kuning, hijau, semuanya dianggap hijau.

Kalau kita bicara soal demokrasi, itu lihatlah di jalanan. Kalau orang tidak lagi khawair kepada persoalan-persoalan kepentingan orang lain, mana mungkin ia disebut sebagai bagian Pancasilais. Saya sedih sekarang ini dunia yang milenial, anak-anak yang makin cerdas, makin hebat, anak-anak sekarang ini tahu banyak hal, sayangnya itu belum tentu mendalam.

Seperti apa yang disampaikan oleh Prof. Sudjarwadi tadi. Kadang-kadang bosan, ini tidak hanya terjadi di Indonesia, di berbagai bangsa di belahan bumi, juga mengalami permasalahan itu. Nah, sekarang orangt-orang muda perlu lihat, gejala yang muncul sekarang ini, di sosmed, orang lebih suka mendokumentasi dibandingkan aksi kemanusiaan. Kalau ada tabrakan atau perkelahian di jalanan, orang tidak segera melerai tapi dia rekam dulu, diupload. Ada orang tabrakan dan meninggal, tidak segera mari kita bawa, ngurus ini, lapor ke polisi, tapi direkam dulu. Ada ibu-ibu yang bertengkar, tetangganya ribut bahkan mungkin sampai meninggal, gara-gara jantung atau kenapa, direkam dulu, upload. Kesadarannya di sini ini adalah kesadaran naif. Seharusnya yang kita lakukan adalah tolong dulu, boleh merekam tapi jangan lupa menolong ini. Dan, yang paling penting melahirkan solidaritas itu penting, tapi menolong untuk kepentingan kemanusiaan itu jauh lebih penting.

Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang relevan dalam konteks perubahan hingga hari ini. Tantangan kita yang harus kita jawab adalah apa yang terjadi atas sejarah itu bisa berdialog dengan generasi sekarang? Apa yang diistilahkan kebangsaan dalam kepahlawanan milenial, adalah pahlawan itu tidak sekadar hari ini membawa bambu runcing melawan imperialisme. Tapi itu simbolik. Kalau dulu iya. Simboliknya adalah pesan simbolik atas sejarah adalah bagaimana perlawanan pada saat itu meskipun membawa bambu runcing tetapi berani melawan imperialisme. Kalau hari ini adalah etika untuk bersatu dalam solidaritas kebangsaan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Generasi Milenial dan Tantangan Kebangsaan

Musuh kita adalah kemiskinan, ketidakadilan dan kesenjangan. Musuh kita adalah corruption. Musuh kita adalah kerusakan ekologi. Musuh kita bukan mereka yang beda agama, musuh kita bukan mereka yang beda etnis, musuh kita bukan mereka yang beda partai. Jangan sampai saudara-saudara kita itu digelapkan oleh usaha-usaha seperti ini. Karena sejarah kita memberi pengalaman yang cukup berharga, bahwa para founding father kita itu memiliki spektrum yang cukup luas tentang perbedaan ras, agama, etnis, dan sebagainya. Tapi mereka bisa bersatu karena etiketnya adalah melawan imperialisme.

Nah, tugas kita adalah kecerdasan yang kita miliki mampu menerjemahkan itu. Jangan sampai kita itu gampang marah, gampang terprovokasi, bentrok, hanya gara-gara perbedaan etnis, agama atau afiliasi politik. Terlalu mahal itu biayanya. Tapi sebaliknya yang harus kita lakukan adalah kita harus bersihkan republik ini dari kecenderungan keculasan. Praktekkan Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari. Dan kita bisa lakukan dalam banyak hal.

 

Dialog Lintas Generasi

Saya usulkan, harus ada dialog lintas generasi. Bapak-bapak, Ibu-ibu yang senior harus meng-floorkan sejarah masa lalu itu menjadi sesuatu yang mudah dibuat, dipahami untuk anak-anak muda sekarang. Anak muda kita dorong untuk belajar sejarah tetapi yang senior juga terbuka terhadap generasi-generasi baru. Sehingga menafsirkan Pancasila, konstitusi dan sebagainya dengan cara baru, dengan perspektif baru, tentu tidak kehilangan nilai atas sejarah itu. Oleh karena itu yang jadul dengan jaman now, itu sebetulnya adalah pesan penting buat kita bahwa kebangsaan itu tetap relevan di era milenial. Tapi dengan perspektif dan cara anak milenial itu menerjemahkan.

Pahlawan, itu bisa tumbuh di banyak anak-anak muda yang membantu orang-orang miskin di komunitas, mengajari anak-anak yang tidak sekolah di pedalaman, membantu daerah-daerah yang kekeringan, anak-anak muda membuat saluran air, membuat informasi-informasi ke publik, menciptakan solidaritas kemanusiaan. Itu adalah pahlawan-pahlawan baru yang hari ini didedikasikan. Apa yang dia miliki, pemikiran, kerja-kerja dia, dalam perspektif kebangsaan.

Oleh karena itu banyak hal yang bisa kita manfaatkan dengan teknologi dan informasi itu. Karenanya saya usul pada forum ini mari dialog lintas generasi itu menjadi cara kita supaya tidak terjadi gep. Generasi lama tidak merasa mengklaim pemilik sejarah republik dan generasi muda juga tidak merasa dia kehilangan konteks atas keindonesiaan masa lalu, karena sesungguhnya satu sama lain itu berkait.

Menerjemahkan Pancasila dengan animasi yang enak, dan kemudian bisa dipahami itu sangat penting. Film-film kita jangan hanya berisi sinetron-sinetron yang membuat orang mewek, merusak mental. Saya bukan anti sinetron, tidak. Tapi harus ada kontestasi pengetahuan yang membicarakan tentang soal kebangsaan, soal anti kemiskinan, anti kesenjangan dan seterusnya itu dalam praktek-praktek kebudayaan kontemporer.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Bermunculan Pahlawan Milenial

Itu artinya apa? Di perguruan tinggi pun para dosen dituntut juga untuk aware juga soal ini. Seorang dosen yang baik bukan orang yang disiplin administrasi textbook, itu gak relevan dosen yang hanya textbook. Dosen yang tentu mampu menterjemahkan tantangan yang ada ke dalam tradisi baru untuk melihat anak-anak muda ini belajar dengan cara yang baik. Tidak sekadar di kelas seperti orang ceramah, tapi diajak ke lapangan supaya menumbuhkan sensitivitas. Topiknya pun tidak sekedar menghafal, tapi ada inspirasi-inspirasi. Ujian tidak hanya sekedar ngisi satu a,b,c dan sebagainya, dia bisa ke lapangan dan membuat karya-karya yang praksis termasuk baik itu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial.

Dari sinilah saya kira, kebangsaan kita membutuhkan kecerdasan dan kematangan etis. Persoalan Pancasila, persoalan kebangsaan, persoalan konstitusi, persoalan NKRI, persoalan kebhinnekaan dan sebagainya harus dikemas dalam bahasa-bahasa baru yang pesannya secara substansial berasal dari sejarah keindonesiaan tapi diformulasikan dengan cara baru.

Milenial dalam pengertian ini tidak akan kehilangan sensitivitas atas sejarah. Sebaliknya para senior the founding father pun juga tidak akan kehilangan sensitivitas pada perubahan. Dengan perspektif ini, anak-anak muda dengan kecerdasan yang dimiliki bisa melakukannya. Saya punya optimisme untuk itu. Energinya anak muda itu berlebihan.

 

Yogya Cermin Kebangsaan

Kalau mendiskusikan soal klithih, fenomena klithih terjadi di beberapa tempat. Mengapa ini terjadi? Pendekatan mengatasi klithih gak bisa hanya mengandalkan proses hukum. Ini terjadi dis-orientasi anak-anak muda sebagian, tapi banyak anak-anak muda yang juga berkarya, caranya bagaimana? Pendekatan hukum oke, untuk menciptakan efek jera, tapi yang jauh lebih penting adalah edukasi, baik di keluarga, di masyarakat, kampanye tentang kreativitas anak muda.

Anak-anak muda yang melakukan tindakan kekerasan itu bisa jadi bukan problem moral, tetapi mereka mengalami dis-orientasi karena ruang-ruangnya makin sempit. Maka itu perguruan tinggi dipaksa harus kreatif untuk memfasilitasi mereka. Pemerintah harus cepat ikut bertanggung jawab soal seperti ini.

Yogya itu adalah istimewa. Keistimewaan Yogya harus berkorelasi positif sebagai cermin kebangsaan. Cermin kemajemukan. Dan cermin kecerdasan anak-anak muda. Ini saya ingatkan kepada pemerintah daerah provinsi, kabupaten, kota termasuk politisi agar berpikir kualitas keistimewaan terus kita naikkan, kita tingkatkan. Yogya sebagai sentra pendidikan, sentra budaya, agar orang bisa belajar atas keindonesiaan dari Yogyakarta ini.

Karena itu saya sarankan komunitas di Yogyakarta itu ada asrama-asrama kemahasiswaan hidup rukun berinteraksi, jangan menciptakan ketegangan, tapi buat keistimewaan itu lebih bermakna. Saya kira ini tantangan terakhir yang harus dijawab adalah membaca secara cerdas agar generasi satu dengan yang lain terus memberi makna yang baru. Saya punya optimisme soal itu, semoga Yogyakarta menjadi daerah yang terus menggelorakan kebangsaan, menjadi tempat yang nyaman, orang dari mana pun hadir di sini. Karena itu mari kita kembangkan nasionalisme itu sebagai kekuatan Indonesia menghadapi arus perubahan globalisasi. *** (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.