Selasa , 20 November 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IX: Kebangsaan Dalam Religi dan Budaya
Ons Untoro bersama tim kesehatan STIKES Wira Husada (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan IX: Kebangsaan Dalam Religi dan Budaya

Untuk melihat religi dan budaya, agaknya kita perlu menilik apa yang pernah ditulis oleh Clifford Geeertz dalam bukunya ‘Abangan, Santri dan Priyayi’. Kaum abangan, bisa kita pahami bukan dari kalangan priyayi sekaligus santri. Tiga kategori dalam pandangan Geertz, tampaknya sistem kepercayaan kaum abangan, yang dalam tema diskusi ini masuk dalam kategori religi dan budaya. Ignas Kleden, seorang pemikir kebudayaan, dalam konteks abangan, santri dan priyayi seperti disebut oleh Geertz menyampaikan pikirannya:

“Dalam sistem budaya, kelompok abangan berorientasi pada nilai-nilai Jawa atau kejawen, yang berpusat pada ritual seperti slametan dan kepercayaan kepada berbagai roh dalam alam. Kelompok santri berorientasi pada ajaran dan nilai-nilai islam yang terjamin dalam suatu ortodoksi doktriner, sedangkan kelompok priyayi masih berada dibawah pengaruh alam pikiran dan nilai-nilai Hindu dan melakukan berbagai spiritual exercis yang bersifat mistik”

Selain agama yang dipercaya dan dipeluk, ditengah masyarakat masih hidup satu sistem kepercayaan seperti disebut Gerrtz. Bukan masyarakat tidak percaya terhadap agama, tetapi kebudayaan memberikan nilai-nilai yang hidup ditengah masyarakat, dan mereka menjalankan ritual bersama dengan masyarakat lain, bahkan dengan orang yang berbeda agama. Di satu desa di Blitar, jika orang memiliki ujar akan keberhasilan atas apa yang diujarkan, mereka melakukan satu ritual bersama dengan masyarakat disatu makam yang diyakini sebagai cikal bakal dari desa tersebut dan disebutnya sebagai dayangan.

Atau ritual lain, yang dikenal sebagai bentuk kebudayaan masyarakat, seperti misalnya bersih desa, wiwitan dan sejumlah ritual lainnya, yang kemudian sering disebut sebagai satu tradisi dari masyarakat setempat, dan disetiap daerah memiliki ritual yang berbeda-beda, dan (telah) dianggap sebagai kebudayaan dari masyarakat setempat.

Tampaknya kita perlu memahami, bahwa manusia lahir tidak di ruang hampa kebudayaan, tetapi manusia lahir sudah ada kebudayaan yang dihirupnya, dan dalam kehidupan keseharian manusia memiliki sistem keyakinan, yang ‘dihidupi’ oleh kebudayaan. Sistem keyakinan yang dijalani berbeda dengan agama yang dianutnya. Satu diskusi seri kebangsaan, yang mengambil tajuk ‘Kebangsaan Dalam Religi dan Budaya’ adalah upaya untuk mengenali sistem kepercayaan masyarakat Indonesia yang bhineka, dan sistem itu telah menjadi kultur masyarakat setempat.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IX: Kearifan Lokal

Diskusi yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma (USD), diselenggarakan, Selasa, 24 Oktober 2017 di ruang Koendjono lantai IV USD, dengan narasumber Dr.Anthon Haryono, M.Hum, pengajar jurusan sejarah USD., Prof. Dr. Suwardi Endraswara, pengajar Universitas Negeri Yogyakarta, Purwanta pengajar jurusan sejarah USD  dan Dr. Muhammad Damami dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Salah satu cara melihat kebangsaan, misalnya dengan Lagu Indonesia Raya, karena lagu ini merupakan lagu kebangsaan, setidaknya seperti apa yang dikatakan oleh Suwardi Endraswara. Setiap daerah memiliki gaya sendiri dalam memimpin menyanyikan Indonesia Raya, bahkan tanpa pemimpin pun, lagu Indonesia Raya bisa dinyanyikan bersama sampai selesai.

Suwardi Endraswara melihat, bangsa kita, tampaknya sekarang baik itu dari religi ataupun dari budaya, kita itu sedang sakit. Diakui atau tidak, entah itu gula, ataupun ginjal, ataupun jantung, itu kita sedang sakit

“Kita sedang amenangi tetapi tidak berani amerangi. Bangsa kita tampaknya baru sampai ke tingkat itu, sehingga catatan saya ini dari segi religi juga belum mendalam, sehingga banyak yang mengaku-ngaku orang beragama, tapi tidak relegius” kata Suwardi Endraswara.

Bagi Damami, berbicara menyangkut agama dalam kaitannya dengan religi tidak begitu kentara, dan bukan sensitif sebenarnya, tetapi lebih rumit. Agama, menurut Damami menawarkan pandangan tetapi religi adalah pandangan yang tidak perlu ditularkan. Tetapi agama berbeda, ia menawarkan kepada masyarakat diluar komunitasnya.

Damami melihat, kebangsaan dalam konteks diskusi ini mirip dengan kata nasionalisme. Sedangkan kita tahu, nasioanalisme yang muncul di Indonesia adalah imbas dari kesadaran nasionalisme di Eropa.

Dalam konteks nasuionalisme ini, yang ditengarai antara penjajah dan yang dijajah. Para pemikir Indonesia termasuk Soekarno, demikian Damami mengatakan, menggunakan cara berpkir dialektikanya Hegel, sebagai alat untuk perjuangan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IX: Kebangsaan Membingkai Keragaman

“Kalau untuk memerdekan rakyat Indoensia, model dialektika Hegel masih bisa dipakai. Karena cara berpikir seperti itu untuk menegasi semangat rakyat yang terjajah untuk mengenyahkan penjajah” kata Damami.

Damami melihat, cara berpikir relasi koeksistensional, untuk kebangsaan di Indonesia lebih bisa dipahami, ketimbang mengambil cara berpikir dialektikanya Hegel, nilai-nilai seperti kerukunan, gotong royong, mudah untuk dimengerti dan sudah dilakukan di Indonesia.

“Dalam kata lain, kalau kita mau bicara soal agama, atau katakan religi, untuk menerapkan paradigma relasi koeksistensi, perlu satu modal pokok, yaitu ketulusan” ujar Damami.

 

Religi Dalam Bingkai Keberagaman

 Dua pembicara lain, keduanya dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Anton Haryono dan Purwanta, meletakkan religi dalam bingkai keberagaman. Keduanya tidak secara langsung menyentuh religi, namun lebih menyinggung bingkainya. Purwanta misalnya, mencoba melihat religi dari sisi Pancasila, setidaknya dari sini kita bisa mengenali sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengakomodasi sistem kepercayaan lokal Dalam konteks ini, Purwanta menngatakan:

“…..Pancasila perlu dikembangkan sebagai kerangka berpikir untuk mencermati fenomena yang berkembang. Keadilan sosial, sebagai contoh, tidak hanya dijadikan perspektif untuk mengkaji kesetaraan hak umat beragama, tetapi juga berlaku bagi para penghayat kepercayaan kepada Tuhan YME.”

Keberagaman dalam kepercayaan, dalam konteks Pancasila bersumbu pada sila pertama, sehingga meskipun sistem kepercayaannya berbeda, tetapi tidak keluar dari ruang yang telah tersedia dari sila dalam Pancasila. Dalam konteks ini, Anton Haryono mengatakan:

“Pancasila dan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” pada hakekatnya adalah buah dari suatu kesadaran mendalam akan keragaman. Konon, nilai-nilai dasar yang terumuskan dalam Pancasila digali oleh para pendiri bangsa dari kearifan-kearifan lokal yang tersebar di banyak wilayah kultural Indonesia (Nusantara). Artinya, kesadaran akan keragaman bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Kesadaran seperti itu telah tumbuh jauh sebelum konsepsi keindonesiaan muncul di panggung sejarah”.

Kita tahu, keragaman dari bangsa kita bukan hanya dari segi etnis, suku dan lainnya, tetapi juga sistem kepercayaan lokal. Secara forma kita memiliki beberapa agama, Islam, katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu, bahkan sekarang Aliran Kepercayaan boleh masuk dalam identitas di KTP. Dari segi ritual dalam konteks kebudayaan, disetiap daerah di Indonesia memiliki ritual yang berbeda-beda, dan semuanya untuk memuliakan Tuhan. Dalam konteks ini, Anton Haryono mengatakan:

“Mengingat keragaman merupakan realitas Indonesia, maka kesadaran mengenainya perlu dirawat dan diperkuat secara berkelanjutan oleh seluruh komponen bangsa. Oleh karena itu, realitas Indonesia yang beragam dan nilai strategis dari kesadaran mengenainya penting untuk dinarasikan terus menerus secara kontekstual. Efektivitas dan produktivitas narasi akan membesar bila praktik politik (dan kehidupan lain) mengindahkan etika. Bahkan, praktik seperti itu bisa dipahami sebagai narasi tersendiri yang potensial untuk menangkal berkembangnya pengabaian terhadap realitas keragaman”.

Kita tahu, perbedaan tak bisa dihalangi kehadirannya, tak bisa lain kita harus menerimanya. Kita perlu saling kerjasama dalam perbedaan, karena di dalam keberagaman, kita akan menemukan kenyamana, bukan sebaliknya ancaman. Dalam kata lain, keberagaman bukan sebagau suatu masalah, melainkan bisa dimengerti sebagai berkah. Kiranya, apa yang pernah dikatakan oleh John F. Kennedy, setidaknya seperti dikutip Denny JA bisa kita sertakan untuk menutup tulisan ini. Kata Kennedy:

“Kita tak bisa menghentikan kehadiran perbedaan di antara kita. Namun kita bisa bekerjasama untuk hidup bagi dunia yang lebih nyaman bagi perbedaan dan keberagaman”.

(Ons Untoro)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Dialog

Totok Sudarwoto Ketua LKMI: Kearifan Lokal Perlu Diperkokoh Nama saya Totok Sudarwoto Lembaga Kebudayaan Nasional …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.