Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan dalam Kepahlawanan Millennial

Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan dalam Kepahlawanan Millennial

Renungan Spesifik Bagi Indonesia

Oleh: Sudjarwadi (Generasi X),
Rina Satriani (Generasi Y), dan Pramesti Prihutami (Generasi Z)

Prof. Sudjarwadi
Dalam dua dasawarsa terakhir, teknologi memiliki perkembangan yang sangat dinamis dan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku manusia. Salah satu hasil dari perkembangan teknologi adalah globalisasi yang secara langsung meningkatkan interaksi antar individu melalui pertukaran pandangan, pemikiran, dan aspek-aspek budaya lainnya dimana generasi muda saat ini adalah generasi yang paling terpapar dalam perkembangan globalisasi. Diskusi mengenai dampak positif dan negatif dari globalisasi terhadap rasa berbangsa dan bertanah air selalu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan, terutama bagaimana generasi muda sekarang menafsirkan pemahaman dan pemikiran dalam hal sumbangsih mereka secara umum terhadap negara dan khususnya masyarakat. Secara harfiah, kebangsaan adalah rasa dan kesadaran diri sebagai bagian dari suatu negara yang tertanam secara alami di dalam diri seseorang dalam berbangsa dan bernegara. Sejauh ini, globalisasi acapkali dianggap telah melunturkan rasa kebangsaan generasi muda terhadap negara. Padahal jika dipandang lebih jauh, rasa kebangsaan dan globalisasi dapat berjalan beriringan tanpa menyalahkan pihak manapun dalam mewujudkan arti kecintaan dan kesetiaan terhadap negara melalui aksi-aksi pengabdian terhadap masyarakat secara keberlanjutan.

Berbicara mengenai pengabdian tidak lepas dari arti kepahlawanan. Selama ini, anggapan pahlawan adalah orang-orang yang telah berjasa memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajah. Namun seiring berkembangnya teknologi dan arus globalisasi serta telah merdekanya bangsa Indonesia, arti kepahlawanan memiliki pergeseran makna. Walaupun secara harfiah makna dari kepahlawanan masih sama yakni rasa rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, kepahlawanan pada masa sekarang adalah seseorang yang mampu mengedepankan kepentingan umum di atas kepentingan pribadinya, memiliki jiwa yang berani, dan rela berkorban demi kemaslahatan bersama. Hal ini dikarenakan secara realita masa sekarang orang yang rela berkorban untuk sesama, entah itu dari segi waktu, tenaga, ataupun finansial jumlahnya jauh dari yang diharapkan.

Memaknai arti kebangsaan dan kepahlawanan pada masa sekarang tidak bisa lepas dari peranan generasi millennial. Secara harfiah, millennial berarti identitas yang diberikan kepada generasi Y yakni mereka yang lahir dalam rentang waktu (range) sekitar tahun 1981-1995. Demografi generasi millennial di Indonesia mencapai sekitar 40% dari total jumlah penduduk Indonesia (BPS, 2017). Dengan jumlah yang besar ini, generasi millennial dapat menjadi roda penggerak tumbuhnya rasa rela berkorban untuk membantu sesama dan berbakti kepada negara. Salah satu perwujudannya adalah pengembangan pendidikan karakter melalui pendidikan tinggi, dimana pendidikan tinggi berperan sebagai fasilitator atau wadah untuk belajar. Spesifik Indonesia dalam persemaian karakter terpuji selama pendidikan dasar dan menengah belum dapat mencapai mutu yang dikehendaki oleh masyarakat. Oleh karena itu pendidikan tinggi di Indonesia masih perlu meningkatkan cara-cara agar calon pemimpin bangsa dalam kampus-kampus perguruan tinggi mendapatkan pendidikan, keteladanan, dan lingkungan terbaik untuk tumbuhnya karakter terpuji tersebut.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan Membutuhkan Kecerdasan dan Kematangan Etis

Berorientasi kepada sifat kepahlawanan, tentu kampus-kampus wajib melakukan program-program dan kegiatan pendidikan yang menyuburkan karakter terpuji. Agar calon pemimpin bangsa mampu selalu merasa bersyukur atas takdirnya dapat mengikuti pendidikan tinggi. Diharapkan mereka merasa terpanggil untuk memberikan pengorbanan setelah lulus bagi kemajuan masyarakat dan bangsanya di manapun dia berada. Menciptakan kondisi tersebut di kampus-kampus perguruan tinggi tidak boleh sembarang namun harus memahami cara-cara generasi millennial berpikir dan berperasaan.

Dari sejumlah studi telah diketahui bahwa generasi millennial dikenal lebih tertarik pada fleksibilitas waktu dalam bekerja dan hal tersebut tidak menjadikan mereka menjadi seseorang yang individualis. Banyak dari generasi millennial melakukan aksi-aksi kemasyarakatan yang dapat dimaknai sebagai bentuk pengorbanan karena mereka rela menjalani hari-harinya jauh dari kenyamanan hidup demi dapat membantu masyarakat. Salah satu dari contoh yang tidak terhitung jumlahnya adalah ide gerakan Pencerah Nusantara –di antaranya Diah Saminarsih -yang bertujuan agar masyarakat yang tinggal di desa-desa terpencil di Indonesia mendapatkan fasilitas kesehatan yang sama seperti di kota. Gerakan tersebut dilakukan dengan mengirimkan tenaga kesehatan yang rela meluangkan waktu dan pikirannya untuk membantu warga desa-desa terpencil dan terluar di bidang kesehatan selama satu tahun. Selain itu, dalam skala yang lebih kecil misalnya Fuji Riang Prastowo – peneliti muda – yang membantu mempertemukan keluarga-keluarga keturunan Jawa yang terpisah dari saudaranya ketika penjajahan Belanda pada masa ini melalui sosial media dan sedang berusaha untuk menggali lebih dalam lagi mengenai kebudayaan Jawa lama yang sudah mulai luntur di kalangan muda masyarakat Indonesia. Selain budaya Jawa, Indonesia sangat kaya dengan berbagai jenis kecerdasan budaya yang perlu dirajut maknanya bagi kekuatan bangsa dalam format Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity).

Adanya pengaruh globalisasi perlu dipastikan untuk menjadi pendorong generasi millennial memanfaatkan teknologi dalam berbuat kebajikan dan harus ditingkatkan jumlahnya agar kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang melakukan percepatan untuk tercapainya cita-cita bangsa Indonesia. Walaupun tidak bergerak secara simultan, kelompok-kelompok yang melakukan kebaikan tersebut merupakan cerminan dari jiwa kepahlawanan masa kini. Dapat disimpulkan bahwa kepahlawanan millennial memiliki jiwa atau roh berkorban untuk kepentingan bangsa dengan tindakan-tindakan nyata sesuai dengan konteks kekinian yaitu kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Apabila dikaitkan dengan rasa kebangsaan maka kebangsaan dalam kepahlawanan millennial adalah pemahaman yang mendalam atas cita-cita bangsanya, potensi untuk mencapai cita-cita bangsa tersebut, cara berpikir berdasar ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni masa kini, serta keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan nyata penuh pengorbanan bagi tercapainya cita-cita tersebut. Generasi millennial yang melakukan tindakan seperti tersebut adalah para teladan yang dibutuhkan oleh generasi selanjutnya dan yang terdekat adalah generasi Z yang sudah mulai masuk di perguruan tinggi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Monjali Ikut Menggodog Generasi Masa Depan

Perbuatan teladan akan menjadi panduan bagi generasi lebih lanjut dalam menentukan sikap dan tingkah laku di kehidupan sehari-hari. Nilai kepahlawanan tidak hanya lagi sebatas pada kekuatan fisik, namun juga kekuatan berpikir dan mencari solusi atas permasalahan yang muncul. Oleh karena itu, nilai-nilai dari sikap dan tingkah laku tersebut haruslah mencerminkan apa yang telah dicita-citakan oleh bangsa Indonesia yaitu adil, makmur, dan sejahtera. Cita-cita ini hakikatnya tidak dapat dijalankan oleh perseorangan, namun dengan niat baik dan bekerjasama.

Berdasarkan wawasan tersebut,tulisan ini memilih cara berpikir yang berorientasi kepentingan bangsa Indonesia. Pahlawan adalah siapa saja yang memberikan hidupnya untuk kepentingan bangsa. Menghadapi masa depan Indonesia memerlukan pahlawan-pahlawan untuk tercapainya cita-cita bangsa seperti dikemukakan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Perjalanan menuju capaian cita-cita tersebut tidak mungkin bebas dari kendala dan hambatan-hambatan. Kendala dan hambatan tersebut sebenarnya bersumber utama pada kurangnya kemampuan manusia untuk mengelola segenap sumber daya yang dikaruniakan Tuhan dalam wujud sumber daya fisik, baik alam maupun buatan manusia (human made), maupun sumber daya insani atau sumber daya manusia. Jadi yang menentukan tercapainya cita-cita bangsa adalah kualitas manusia tersebut atau sumber daya insani.

Sukses suatu bangsa mencapai cita-cita harus mengandalkan masyarakat terdidik yang mengambil porsi 90 persen penentu dan hanya sepuluh persen yang dikaitkan dengan sumber daya alam. Pendekatan terbaik adalah membangun masyarakat berilmu atau knowledge based society. Semua ilmu wajib dikembangkan dan diterapkan untuk kemaslahatan Indonesia melalui pengembangan dan penerapan ilmu melalui jalur-jalur enam rumpun ilmu, yaitu ilmu agama, ilmu humaniora, ilmu sosial, ilmu alam, ilmu formal, dan ilmu terapan. Semua jalur ilmu tersebut harus dikemas penerapannya dengan memandang gelombang revolusi industri dan dialog karakter kebangsaan di semua level pendidikan.

Satu hal yang harus dipahami, dimengerti, dihayati, dan diamalkan oleh calon-calon pahlawan bangsa di zaman millennium adalah proses pengembangan amal ilmu menghadapi kenyataan hidup yang makin kompleks. Dalam konteks ini generasi millennial harus merdeka pemikiran, tidak dijajah oleh pemikiran-pemikiran dari luar yang bertentangan dengan sifat dasar kepentingan dan budaya Indonesia. Sebagai contoh misalnya pengembangan ilmu sosial harus memiliki inti dasar orientasi yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Demikian juga ketika mengembangkan ilmu humaniora tidak boleh melupakan kata kunci orientasi yang tertulis sebagai dasar negara yaitu adil dan beradab, lengkapnya kemanusiaan yang adil dan beradab. Pada tataran ilmu agama, generasi millennial wajib memahami kepentingan bangsa bahwa agama-agama adalah landasan untuk persatuan dan kesatuan Republik Indonesia dengan ciri saling pengertian tuntas dalam hal multi agama dan multi budaya (inter religion and cross culture understanding).

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Generasi Milenial dan Tantangan Kebangsaan

Dengan contoh pemikiran pengembangan beberapa rumpun ilmu tersebut generasi millennial tidak boleh lupa atas sejarah perkembangan ilmu yang telah terjadi sampai dengan saat ini dan ke depan. Perkembangan ilmu tersebut sejak ilmu yang bersifat monodisiplin meningkat menjadi monodisiplin modern dan berproses lanjut dalam konteks kemajuan teknologi membentuk pengetahuan multidisiplin, interdisiplin, dan transdisiplin. Fakta menunjukkan solusi terbaik atas persoalan kehidupan zaman ini adalah pendekatan interdisiplin dan transdisiplin. Ini artinya bahwa ahli-ahli ilmu tidak mungkin sukses bekerja sendirian, namun harus bekerja sama dalam teamwork untuk menyelesaikan persoalan yang sedang menjadi tantangan-tantangan khusus untuk diberi solusi (point of interest to be solved). Zaman superman, superwoman, superperson sudah berakhir dan harus diusahakan percepatan peningkatan penciptaan superteam.

Pahlawan bangsa di zaman millennial yang berilmu komprehensif dapat bekerja dalam suatu teamwork dengan maksimal dan memberikan hidupnya bagi kepentingan bangsa melalui aktualisasi kemampuan puncaknya yang sedang ditunggu bangsa Indonesia. Yakni yang mampu secara massal meningkatkan nilai ekonomi segenap sumber daya mencakup fisik dan insani dalam koridor cita-cita pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dengan jiwa atau roh Pancasila. Pahlawan itu di antaranya mempunyai pemikiran dan tindakan yang sukses dalam menghalangi berkembangnya pengaruh-pengaruh negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, sekaligus sukses menyuburkan pertumbuhan manfaat positif dari perkembangan IPTEKS.

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebangsaan dalam kepahlawanan millennial adalah rasa kebangsaan yang tidak sekedar diomongkan namun tercermin dari bentuk-bentuk tindakan nyata sehari-hari yang rela berkorban dengan bekerja keras dan cerdas, tahu potensi bangsa, tantangan, dan cara solusinya untuk mencapai cita-cita bangsa yang telah terpatri dalam jiwanya (rela berkorban demi kepentingan bangsa, berpikir, dan bertindak sesuai tantangan zaman).

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.