Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IV : Kebangsaan dalam Kebudayaan

Diskusi Kebangsaan IV : Kebangsaan dalam Kebudayaan

KGPAA Sri Paku Alam X
Wakil Gubernur DIY

Diskusi Kebangsaan IV di Pakualaman Yogyakarta (Ft: Ist)
PERWARA WREDHATAMA, Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, untuk yang ke empat kalinya menyelenggarakan Diskusi Kebangsaan dengan tema Kebangsaan dalam kebudayaan bertempat di kompleks Puro Pakualaman Yogyakarta jumat pagi 17 April 2017.

Hadir sebagai Pembicara Drs Idham Samawi, Budayawan Emha Ainun Najib, Prof Dr Faruk HT SU, Sri Paduka KGPAA Paku Alam X dalam sambutannya memberikan apresiasi yang tinggi kepada PWS telah menyelenggarakan “Diskusi Kebangsaan dalam Kebudayaan”, kegiatan ini sangat penting karena kebudayaan merupakan dasar pembentukan sebuah bangsa sekaligus sebagai alat untuk merajut kembali kebangsaan.  Kita semua menyadari bahwa pelestarian dan pengembangan budaya sebagai salah satu aset bangsa, perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Hal ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya masyarakat, sehingga budaya bangsa tidak terlindas oleh derasnya arus globalisasi yang membawa berbagai macam pengaruh dan dampak bagi kehidupan masyarakat.  Untuk itu perlu adanya kesadaran dan komitmen bersama dari seluruh komponen bangsa untuk tetap melaksanakan pembangunan kebudayaan ini dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Sedangkan kesadaran kebangsaan Indonesia adalah kesadaran multikultural yang menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah satu bangsa yang terdiri dari berbagai macam budaya, baik yang berlatar belakang agama, suku maupun keturunan.  Keberagaman budaya itu adalah ciri bangsa Indonesia, keberagaman budaya yang ada tidak akan dilebur menjadi suatu karakter tunggal. Konsep kebudayaan Indonesia adalah konsep Cultural Pluralism. Dalam konsep ini kelompok kelompok yang berbeda bahkan harus didorong untuk menumbuhkembangkan sistem budayanya masing-masing dalam kebersamaan Solidaritas atau kepentingan kelompok bahkan tetap dihormati dan dihargai.

Akan tetapi, apabila sudah menyangkut Solidaritas dan kepentingan bangsa, Solidaritas dan kepentingan kelompok harus ditinggalkan. Apabila sudah menyangkut kepentingan bangsa, maka komitmen solidaritasnya harus terangkat dari tingkat lokal primordial ke tingkat nasional yang membangsa. Keberadaan bangsa Indonesia didasarkan pada kesamaan tekat, semanagat dan cita-cita, yakni kesamaan tekat dan semangat untuk bersatu menjadi satu bangsa merdeka dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, keinginan bersatu itulah menjadi roh keberadaan bangsa Indonesia.

Untuk merajut nilai kebangsaan ini juga dapat kita lakukan melalui “dialog budaya” sebagaimana yang biasa kita lakukan. Hal ini akan sangat berguna dalam mengeleminasi setiap kemungkinan timbulnya konflik dimasyarakat yang kerap berujung pada kekerasan. sebagai akibat dari adanya perbedaan latar belakang, faham, keyakinan dan lain sebagainya. Dengan dialog budaya budaya akan membangun kesadaran bersama diantara pendukubg budaya (etnik) yang berbeda-beda. Dengan demikian, melalui dialog budaya juga akan ditemukan kebenaran bersama.

Hal ini penting karena perbedaan cara pandang berkait dengan pemahaman konsep harmoni pada masing-masing kelompok acapkali meruncing menjadi debat yang berkepanjangan, karena masing-masing mengklaim bahwa apa yang dikedapankan sebagagai paling benar.  Selain itu,  pemahaman dan pengetahuan tentang budaya berbangsa dan bernegara di tengah-tengah dinamika politik yang terus berkembang juga sangat diperlukan, karena hal ini merupakan upaya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia, agar setiap kelompok budaya saling menyapa dan mengenal, untuk saling memberi dan menerima. Sekaranglah saatnya kita mengukuhkan persatuan dan kesatuan bangsa yang tidak sebatas tawar menawar, tetapi dengan tawaran kehidupan budaya yang lebih hangat.

Demikian yang dapat saya sampaikan, Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa meridhoi kita semua Amin.

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (2)

KETIKA pidato kenegaraan berjudul “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah” itu disampaikan pada peringatan HUT ke-21 Kemerdekaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *