Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, dan Toleransi
Prof. Dr. Sudjito, SH, MSi (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan VIII: Kebangsaan, Bhinneka Tunggal Ika, dan Toleransi

Oleh: Prof. Dr. Sudjito, SH, MSi

Berbicara tentang kebangsaan bhinneka tunggal ika dan toleransi dalam pandangan saya ini tidak boleh secara parsial, sepotong-potong, tetapi kita harus membicarakannya sebagai satu-kesatuan yang utuh. Karena kalau kita mengerti betul tentang ketiganya, ketiganya bertautan erat satu dengan yang lain. Kita tidak bisa berbicara tanpa harus menyeluruh utuh. Oleh karenanya pendekatannya, pendekatan yang holistik, bukan parsialistik.

Nah dalam kerangka seperti itulah maka apa yang disebut kebangsaan, bhinneka tunggal ika, dan toleransi seperti apa, konsepnya kayak apa, pelaksanaannya dan kita harus sampai kepada apa yang benar itu harus merupakan konstruksi bersama, dari semua komponen bangsa. Jangan sampai ada di antara kita merasa paling tahu, sok tahu tentang kebangsaan, tentang bhinneka tunggal ika, tentang toleransi, sayalah ahlinya, saya paling tahu dan saudara
harus ngerti itu dan mengikuti, itu namanya mendikte. Itu sudah jauh dari apa yang disebut Pancasilais. Itu jauh dari yang disebut toleransi itu sendiri, dan itu bibit-bibit perpecahan bangsa, itu yang pertama ingin saya ingatkan, harus kita jauhi. Berbicara bhinneka tunggal ika, harus melibatkan banyak orang dan konstruksi bersama. Toleransi juga seperti itu.

Saya akan mengawali mengenai kebangsaan. Dengan membuka pidatonya Bung Karno, tanggal 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI, beliau justru mengangkat masalah kebangsaan ini dan mengusulkan itu awalnya sebagai sila yang pertama. Kalaupun nanti dalam proses sehingga akhirnya finalnya ada di dalam pembukaan UUD 1945 tidak tertulis kebangsaan dan sila pertamanya bukan kebangsaan juga tapi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tetapi apa yang disampaikan Bung Karno mengenai kebangsaan itu sungguh amat penting untuk kita pahami, kita aktualisasikan pada kehidupan sekarang dan akan datang. Bung Karno antara lain berkata seperti ini, “… marilah kita mengambil sebagai dasar pertama, Kebangsaan Indonesia. Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa, bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Selebes, Bali atau lain-lain, tetapi kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationalestaat”, itulah Bung Karno. Nah kita hari-hari ini kalau kita mau jujur, kita merasakan bahwa masalah kebangsaan, masalah nasionalisme memang berada  dalam polemik yang kadang-kadang di sana-sini ada konflik, konfliknya antar suku bangsa, antar komponen bangsa, karena sesuatu hal yang sepele. Ini menunjukkan bahwa kita memang dalam berbangsa ini masih perlu mendewasakan diri. Kita belum selesai dengan sekedar mengatakan kita bangsa satu, bangsa Indonesia. Sumpah Pemuda dulu iya, dan kita hormat apresiasi luar biasa kepada pemuda-pemudi Indonesia waktu itu. Tetapi kalau pun itu mengenang, itu tidak cukup, kita harus aktualisasikan betul, bahwa kita berbangsa satu adalah
bangsa Indonesia dan oleh karenanya anti terhadap perpecahan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi di Tengah Kebangsaan yang Rapuh

Di situlah kemudian saya merasa perlu berbicara nasionalisme sejati itu kayak apa. Dalam pandangan saya, ada beberapa hal yang perlu dilihat sebagai indikator untuk sekaligus instrospeksi bagi kita, bagi diri-sendiri apakah saya sudah termasuk nasionalis sejati ataukah belum. Indikator yang pertama nasionalis yang sejati itu harus selalu mendasarkan setiap sikap penuturan, perilaku dalam berbangsa ini dasarnya adalah Pancasila. Jadi betul apa yang
disampaikan oleh Pak Idham, Pancasila itu di dada bukan sekedar dikalungkan sebagai tameng tetapi masuk dalam dada itu sendiri sehingga menjadi jiwa bangsa. Jiwa bangsa kita harus Pancasila itu, maka kalau jiwanya baik, sikap perilakunya nanti juga baik seperti Pancasila itu. Ini indikator yang pertama. Jadi, Pancasila itu harus menjadi jiwa bangsa.

Yang kedua, kita harus hati-hati, kalau sudah berpancasila, berbangsa, hati-hati karena di dalam pergaulan kehidupan kita bersama dengan bangsa lain, sejak Bung Karno pidato 1 Juni 1945 saja sudah ditengarai ada orang yang tidak mau dengan azas kebangsaan. Maunya hanya kemanusiaan. Tidak mau nasionalisme, maunya hanya kosmopolitisme. Itu lawan dari nasionalisme dan itu ada pada bangsa-bangsa yang umumnya penduduknya banyak. Kemudian tidak mau kalau dia berada di negara lain, kamu ditanya bangsamu apa, saya jangan ditanya soal
kebangsaan, saya itu manusia berhak hidup di belahan bumi mana pun. Hal ini sudah menafikan persoalan bangsa. Dia hanya melihat dirinya sendiri, ego kemanusiaannya, tetapi lepas dari masalah kebangsaannya. Maaf, padahal yang seperti itu sudah dibantah oleh Bung Karno. Nah pernyataan yang seperti itu, bantahan yang seperti itu hemat saya, maaf-maaf ini relevan untuk menghadapi realitas sekarang maraknya orang-orang Tionghoa di Indonesia akhir-akhir ini, yang kadang-kadang saya dengar, saya jangan ditanya soal kebangsaan, saya Indonesia, tetapi saya manusia yang berhak hidup di belahan bumi mana pun. Ini tidak cocok dengan pesan founding fathers.

Yang ketiga, indikator nasionalis sejati itu harus orang yang selalu peka, bukan pekak ya, peka, sensitif terhadap penderitaan rakyat. Ketika rakyatnya menderita, mereka justru berempati, oleh karenanya perlu siapa pun mengatakan dirinya nasionalis sejati itu mampu mengendalikan diri berempati kepada rakyat, jangan korupsi. Itu artinya orang gak mau mengendalikan diri. Mau sebanyak-banyaknya untuk dirinya, itu bukan nasionalis sejati.
Nasionalis sejati sensitif terhadap segala aspirasi rakyatnya.

Yang keempat, kita dihadapkan tidak usah ditutup-tutupi masalah bangsa ini ada, saya catat saja, masalah hutang luar negeri, berapa kita, siapa yang harus mbayar, bukan sekarang, tapi anak keturunan kita, generasi kita terbebani itu. Siapa yang mau disalahkan, bukan tempat salah-menyalahkan, tetapi ini realitas, bangsa ini menanggung beban kebangsaan, hutangnya makin menumpuk. Yang kedua, masalah tuna kedaulatan terhadap sumber daya alam.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VIII: Toleransi Butuh Persatuan Nasional Hindari Penyeragaman Keberagaman

Sumber daya alam kita melimpah gemah ripah loh jinawi, kolamnya kolam susu, kata Koes Plus. Tapi realitas hari-hari ini, SDA kita sudah tergadaikan ke bangsa lain. Gak bisa kita tutup-tutupi. Ini masalah bangsa. Yang ketiga, kita tuna kedaulatan di bidang hukum. Kita negara hukum, tetapi hukum kita bermasalah karena banyak orang mengartikan hukum itu Undang-Undang, hukum adat disingkirkan. Hukum agama halal dan haram itu, itu kan urusan ulama. Urusan bernegara hanya UU, sementara UU itu produk legislatif, tetapi di sana sering terjadi transaksional, wani pira dalam mebuat perundang- undangan, banyak bukan hanya satu dua, perundang-undangan kita ini konsepnya dari orang-orang tertentu dan orang-orang tertentu ini kebangsaannya, nasionalisme dipertanyakan. Mereka hanya berorientasi untuk kepentingan diri atau kelompoknya.

Yang kelima, nasionalisme sejati itu harus dibuktikan dengan keteladanan. Jangan mencari siapa teladan di negara kita saat ini yang Pancasilais, jangan bertanya begitu, kapan saya bisa menjadi teladan berpancasila untuk negara ini. Bertanyanya kepada diri sendiri, jangan mempertanyakan kepada orang lain, kita sudah nasionalis atau belum, tanyakan kepada diri sendiri, ini perlu keteladanan, kejujuran sekaligus kita harus mampu memberikan yang terbaik
untuk orang lain dan anak-anak kita.

Berikutnya mengenai bhinneka tunggal ika. Kita semuanya sudah tahu, bhinneka tunggal ika itu penting. Itu slogan, walaupun itu baru muncul di dalam kemerdekaan tahun 1955, tetapi kerajaan Majapahit justru melalui Empu Prapanca, sejak abad XIV, sudah mengenal bhinneka tunggal ika, berapa ratus tahun yang lalu, 700 tahun yang lalu.

Dan terbukti ketika semboyan bhinneka tunggal ika diimplementasikan bernegara, Kerajaan Majapahit mampu mencapai jaman keemasan. Kita sudah diberi contoh yang baik, mari kita juga serius dalam mengimplementasikan semboyan bhinneka tunggal ika ini.  Jangan kemudian bhinneka tunggal ika yang sudah menjadi semboyan bangsa, semboyan nasional, dipahami secara subyektif, secara parsialistik, berbicara tunggal ika, di mana-mana hanya dipotong kebhinnekaan, ikanya di mana, tolong diamati banyak di tempat-tempat pertemuan, media, pernyataan orang-orang yang tergolong penting tetapi bicaranya kebhinnekaan tetapi bukan bhinneka tunggal ika, ini sudah dipertanyakan pemahamannya tentang bhinneka tunggal ika itu sendiri, dipertanyakan pula komitmen kebangsaannya. Kalau kita berbicara bhinneka tunggal ika nanti ujungnya adalah persatuan, sila ketiga itu, tetapi
kalau kita hanya berbicara perihal kebhinnekaan ujung-ujungnya adalah perpecahan. Makanya kita harus hati-hati soal itu.

Berikutnya masalah toleransi. Hal ini yang saya kira menjadi pokoknya. Bagi saya, maaf saya berbicara agak mendasar, soal toleransi itu dari bahasa Latin bukan bahasa kita. Artinya secara padat saya katakan peneriman, pengakuan, dan penghormatan atas perbedaan pada pihak lain, disertai sikap membiarkan keunikannya,  kekhasannya masing-masing dan tidak mencampuri urusannya. Ini toleransi, Intoleransi yang berlawanan dengan seperti itu. Selalu ingin campur tangan, selalu ingin membatasi kebebasan, dan selalu mendikte, dan lain
sebagainya, itu intoleransi. Di sinilah maka kalau kita berbicara toleransi sekaligus intoleransi, hemat saya ini pasti kemudian kontekstual, tidak pada kata yang umum, berlaku universal, untuk semua urusan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VIII: Memperkokoh Toleransi

Setiap urusan ada kadar tingkat toleransi dan intoleransinya masing-masing. Saya ambil contoh di bidang hukum. Hukum itu juga bukan bahasa kita juga. Ini dari bahasa Arab. kalau kita barangkali kaidah. Hukum ini rumahnya nilai-nilai. Oleh karenanya hukum yang baik, harus berisi nilai-nilai yang baik. Untuk Indonesia tidak boleh ada nilai lain kecuali nilai-nilai itu harus nilai-nilai Pancasila. Semua hukum yang ada di Indonesia harus berisi, bersumber, dijiwai nilai-nilai Pancasila itu. Kalau ada hukum yang tidak dijiwai bersumber berisi nilai-nilai Pancasila, boleh atau tidak? Tidak! Artinya kita tidak boleh ada toleransi terhadap hukum yang menyimpang dari Pancasila.

Toleransi terhadap apapun hukumnya, baik itu action, baik itu pelaksanaannya, baik itu penegakan hukumnya, kalau terindikasikan keluar dari Pancasila, tidak boleh ada toleransi. Kemudian kita mengenal di bidang hukum ada yang disebut pluralisme hukum. Pluralisme hukum ini ada macam-macam hukum berlaku berbarengan pada negara ini. Dulu ketika kita dijajah kolonial, kolonialisasi, ada hukum Barat ada hukum adat. Bahkan ada hukum agama Hukum adat pun bermacam-macam.

Kita di dalam kerangka bhinneka tunggal ika, mestinya mengakui pluralisme hukum itu. Biarkan orang Bali dengan sistem kekerabatannya, biarkan orang Minangkabau dengan yang matrilinial, orang Bali dengan patrilineal, gak apa-apa. Satu menit lagi ya. Jadi kita harus menghormati yang seperti itu. Adat beda gak apa-apa. Tetapi kalau kita sudah bicara toleransi terkait dengan SARA, hati-hati. Hati-hati betul karena ini sangat sensitif, dan ini sudah terbukti secara empiris, ketika pilgub DKI ini kemudian menyembul sedemikian tinggi, hangat dipermasalahkan. Di situ kemudian orang berbicara siapa yang intoleran sebetulnya. Siapa yang menuduh adanya intoleransi. Toleransi harus semacam apa, ini yang masih perlu kita bicarakan bersama. Di situlah supaya nanti pilpres yang akan datang, pilkada yang akan datang, tidak memanas karena isu toleransi dan intoleransi. Maka masalah ini sebaiknya kita bicarakan bersama. Kita konstruksikan bersama sehingga nanti harapannya pilkada serentak, pilpres yang akan datang adhem ayem ada toleransi dalam ukuran kebenaran yang kita sepakati bersama. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Kemerdekaan, Demokrasi, dan Pancasila “Membudayakan Musyawarah Mufakat” Inspirasi Majapahit

Djoko Dwiyanto, Ketua Dewan Kebudayaan DIY Bentuk dan unsur-unsur negara kesatuan Republik Indonesia diyakini berurat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.