Selasa , 21 November 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Kata Bung Karno, Ketuhanan Harus Berkebudayaan
Prof. Dr. H Amin Abdullah (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan VIII: Kata Bung Karno, Ketuhanan Harus Berkebudayaan

Oleh: Prof. Dr. H Amin Abdullah, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga

KITA harus sadar betul bahwa keindonesiaan, kebangsaan, NKRI, Pancasila, kebhinneka-tunggal-ikaan itu memang harus dirawat, harus dibicarakan, from time, anytime. Tidak hanya ketika ada masalah lalu kita sadar, kaget, dan sudah lupa tidak bicara begini. Nah ini, begini terus-menerus, karena ini harus dipupuk, kebangsaan itu harus dipupuk, kalau tidak berat sekali.

Lima dalam dadanya Garuda (seperti disebut Pak Idham Samawi): Pertama Ketuhanan, kedua Kemanusiaan, ketiga Persatuan, yang keempat Permusyawaratan, jadi skala apa pun harus bermusyawarah kita ini, tidak bisa adigang, adigung, adiguna, kemudian Keadilan Sosial. Lha lima itu sebetulnya, kalau dulu diperas lagi oleh Bung Karno, jadi gotong-royong. Nilai-nilai begitu kan kadang lupa, apalagi generasi muda, kalau yang tua-tua begini saya kira masih ingat betul.

 

Ketuhanan yang Berkebudayaan

Nah, saya akan mengikuti, tapi hal yang saya ingat betul dari Bung Karno saat itu, ketika dia menyebut Ketuhanan. Bung Karno tegas menyatakan bahwa Ketuhanan itu harus berkebudayaan. Jadi tidak ada Ketuhanan yang tidak berkebudayaan. Nah, kata-kata kebudayaan itu penting sekali, jadi Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur. Wah itu mendalam sekali. Jadi kelihatannya, banyak orang yang berketuhanan tetapi tidak berpekerti luhur. Begitu, kan? Ketuhanan yang hormat-menghormati sama orang lain. Itu fundamental sekali. Kita berketuhanan, tetapi ketika khutbah mencerca orang lain. Ini tidak, berketuhanan yang tidak berkebudayaan.

Saya kira itu kata kunci. Jadi kita berketuhanan tetapi jangan lepas dari budaya. Kecerdasan bangsa kita ini sebetulnya luar biasa. Banyak teman-teman sudah menunjukkan pada saya, bangsa mana yang melebihi kerumitan bangsa Indonesia. Saya kira itu benar. Maka semua orang mengatakan sampai sekarang, bahkan dari dulu tahun 1997-1998, banyak memprediksi bahwa bangsa Indonesia itu akan menjadi Balkan, Balkanisasi. Dulu itu sudah bicara seperti ini. Saya pernah di Bosnia Herzegosvina,  pernah ke Macedonia, itu dulu di Yugoslavia. Pemimpinnya Yugoslavia itu, Tito, dulu teman dekat Pak Karno (Sukarno, Presiden RI pertama).

Yugoslavia sudah terpecah menjadi belasan negara kecil. Ada Montenegro, Macedonia, kemudian Bosnia Herzegosvina, Kosovo, dan lain-lain. Apakah kebangsaan kita akan seperti itu? Kalau kita tidak merawatnya dengan baik, hal seperti itu bisa terjadi.  Saya pernah ke Bosnia Herzegosvina hadiri seminar tentang gerakan Islam kontemporer. Saya masuk museum. Seperti Bandara Adisucipto begitu, di bawahnya itu ada terowongan, besar sekali dan jadi museum. Terowongan itu dulu untuk mengantarkan makanan dari satu grup ke grup yang ada di sebelah sana. Bayangkan, kalau bandara kita nantinya seperti itu. Jadi, kebangsaan kita harus dirawat. Akibatnya berat sekali kalau kita tidak merawatnya.

Mari kita bicara tentang strenghts, threats, opportunity dan weakness. Strengthsnya saya kira pertama diawali dari Sumpah Pemuda, Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa, tetapi saat itu tidak menyebut satu agama. Itu strength. Di Indonesia, sejak era Gajah Mada sudah seperti itu, maka dia tidak menyebut agama. Yang kedua ketika pembentukan Undang-Undang Dasar 45, mayoritas umat Islam menginginkan ada tujuh kata. Begitu, kan. Lalu ada usulan dari Timur, kalau tujuh kata itu ada, kami akan tidak mengikuti Indonesia. Lalu Pak Hatta konsultasi kepada wakil NU, dan Muhammadiyah saat itu. Kemudian wakil NU dan Muhammadiyah mengatakan oke, coret saja itu. Luar biasa itu, toleransi yang luar biasa.

Strengths ketiga, ketika Pak Presiden Suharto meminta bahwa asas-asas Pancasila harus masuk organisasi, organisasi agama maksud saya. Wah, perdebatan luar biasa, NU, Muhammadiyah, Al Khairat, Kristen, Katholik dan lain sebagainya. Apa kata AR Fachrudin saat itu, setelah debat lama, dia bilang sudah, harus diterima Pancasila itu. Dia menyebut itu seperti helm. Sekarang kalau orang tidak pakai helm, ditangkap polisi ya. Apalagi sekarang sudah pakai CCTV. Begitu, kan? Nah, akhirnya diterima oleh Muhammadiyah. Dan, orang NU mengatakan Pancasila final. Dua civil society ini luar biasa. Pemerintah dengan dua civil society itu menyatu, sehingga bisa mengantarkan kita mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kalau kita tidak punya civil society yang kuat semacam itu, negara juga bisa kedodoran juga.

Yang kedua, pluralitas demokrasi dan juga inklusivitas toleransi itu sudah bagian yang tak terpisahkan daripada ajaran agama. Semua agama mengatakan itu adalah bagian dari kemaslahatan, itu kekuatan yang luar biasa. Yang ketiga adalah kohesivitas sosial, solidaritas sosial kita, itu sudah menjadi modal sosial dan modal kultural yang luar biasa. Dulu, pada Pemilu 2014 yang paling hangat itu dan mudah-mudahan tidak terjadi lagi, di mana black compaign luar biasa saat itu. Tetapi ketika masuk ke bilik suara, semua modal sosial, modal kultural, muncul. Tidak mudah diblack compaign dengan cara apa pun. Itu kekuatan luar biasa bangsa Indonesia, dia kembali kepada jati dirinya. Bahkan kita itu adalah Bhinneka Tunggal Ika. Bahwa kita plural of the earl beginning. Kita adalah makhluk-makhluk yang bertoleransi sejak dulu sampai sekarang. Apa-apapun halangannya harus kita hadapi. Begitu. Jadi tiga itulah saya kira strengthnya.

 

Ancaman ‘Badai Gurun Panas’

Sekarang threats-nya. Mengapa ada ancaman sekarang? Oke, ini adalah dunia global, jadi kita Indonesia tidak bisa menyendiri, terisolasi, tetapi luar biasa gerakan networking internasional yang kemudian disebut gerakan trans-nasionalisme. Itu dia sebetulnya yang mengkhawatirkan sekali. Itulah yang saya sebut badai gurun pasir yang panas. Kita kena badai gurun pasir sejak tahun 90, memuncak 2000, 10 hangat, 2010 masuk. Waktu 2005 saya sudah merasa itu, 2005 itu sudah luar biasa dan peneliti asing sudah mengingatkan, hati-hati Indonesia. Tapi ini 10 tahun, 2015 terasa betul, lalu Pak Jokowi mengambil tindakan tahun 2017. Better late then matter. Saya kira begitu. Tetapi badai gurun panas itu singkatnya begini. Ada doktrin, ada ajaran, dari agama atau pemahaman keagamaan atau apa, yang melewati tadi itu, networking media sosial. Media sosial ini yang tidak pernah kita temukan pada era Republik Indonesia yang dibangun tahun 1945.

Setelah 70 tahun ini, kita punya tantangan baru namanya media sosial. Nah, di media sosial itu lalu dibaca ada doktrin, namanya setia kepada kelompoknya dan menolak kepada kelompok orang lain, loyalty and disfailable. Loyal hanya kepada kelompoknya sendiri, agamanya sendiri, sukunya sendiri, etnisnya sendiri, tetapi menolak agama orang lain, suku orang lain, etnis orang lain. Inilah yang bertabrakan dengan Bhinneka Tunggal Ika. Doktrin ini menjalar ke mana-mana, dan tanpa sadar langsung muncul jargon-jargon baru tafsiriyah, mengkafirkan orang lain yang berbeda, berbeda penafsiran agamanya, mudah-mudah dikafirkan, dimurtadkan, halal darahnya.

Vocab-vocab yang sama sekali berbeda dari yang dirancang oleh founding father parents kita. Kita harus menyebutnya founding parents, karena di situ ada dua tiga wanita yang juga berperan, jadi ini tidak bisa disebut founding father, tapi founding parents karena moderator kita juga mothers. Luar biasa. Jadi begini, doktrin ini kemudian masuk itu tafsir, lalu kok kemudian NKRI disebut menjadi thogut, waduh. Lah, ini dia badai dari gurun pasir, begitu kan.

Tetapi kita kan negara terbuka, dalam arti globalisasi dan sebagainya. Kemudian, muncul pula pandangan bahwa Indonesia tidak tepat, ini harus diganti dengan khilafah. Ini sebetulnya kalau mau bicara-bicara kebangsaan kan ini intinya. Kalau kita bisa menghadapi ancaman itu baik keindonesiaan kita, saya kira kita sudah oke.

 

Mentalitas Maritim

Sekarang ketiga opportunity. Opportunitynya begini saya kira. Orang-orang di luar negeri, bahkan saya baru keliling 1,5 bulan di luar negeri, dari Berlin, London sampai LA, mereka ingin tahu, mengapa ada orang Islam coraknya seperti Indonesia, kok tidak seperti yang mereka lihat di sebelah sana itu. Kok Indonesia berbagai pulau 17.000, 14.000 sampai 17.000, tergantung naik turunnya air laut. Kalau air laut pasang, itu tenggelam jadi 14.000, tapi kalau surut 17.000. Kira-kira begitu. Karena susah sekali mendata pulau di Indonesia. Mereka kagum, bagaimana itu 17.000, 14.000 pulau, bahasanya 700. Uni Sovyet yang 50  bahasa runtuh. Ini yang 700 kok masih eksis, begitu kan? Sumber daya alam macam-macam, itulah yang disebut, mungkin pada zaman Gajah Mada tadi disebut mentalitas maritim.

Mentalitas orang Indonesia itu kekuatannya adalah mentalitas kepulauan maritim, bukan mentalitas kontinental. Itu saya kira. Mengapa Indonesia kayak begini, dalam cobaan yang luar biasa, dia masih back to basic, karena ada mentalitas dan itu sudah menjadi sub disness, di bawah sadar. Ketika nanti ada ancaman, itu yang muncul, yaitu mentalitas kepulauan. Mana ada sih toleransi yang saya kira juga di situ, corak toleransi Indonesia yang spesifik berbeda dengan toleransi di negara lain, karena berbasis maritim. Mana ada orang Bugis lalu merapat ke Ambon, merapat ke Papua, karena dia mencari ikan, lalu mendarat, lalu minta air, lalu ditolak. Tidak ada dalam sejarah Indonesia. Wellcome di mana-mana. Antar pulau-pulau itu wellcome, siapa pun yang datang maka di sini agama paling lengkap, ya di Indonesia. Oke, jadi wellcome ini kadang-kadang kita lupa mentalitas maritim itu. Saya setuju sekali Pak Jokowi membikin laut dual hight, tetapi mentalitas itu tadi menerima orang lain apapun keadaannya, apapun sukunya, apapun agamanya, diterima dengan baik. Luar biasa itu. Bedakan dengan mentalitas kontinental.

 

Museum of Tollerance

Kita lihat, ketika ada konflik, apa yang dilakukan Jerman Barat dan Jerman Timur, membikin tembok. Mana mungkin kita bikin tembok ini antara Jawa sama Kalimantan, malah yang dibikin tol laut, coba. Ini yang kadang lupa kita menjelaskan negara maritim, mentalitasnya maksud saya. Ketika Jerman Barat, Jerman Timur, apa namanya, diputihkan semua, apa-apaan ini. Nah, itu sekarang saya melihat museum of tollerance yang ada di Washington, itu mengangkut apa namanya mengangkut tembok besar dibawa ke sana untuk mendidik orang di sana. Di Amerika yang sekarang sudah agak goyang, setelah 200 tahun pun digoyang dengan white supremasi. Jadi tidak hanya kita, Amerika yang sudah 200 tahun digoyang sekarang. Dengan white supremasi. Maka mereka punya museum of tollerance. Luar biasa.

Museum of tollerance itu yang saya belum lihat ada di Indonesia, dan itu penting. Jadi tidak hanya film, walau film itu penting, tapi museum of tollerance itu penting karena kita luar biasa, karena harus merawat dari segala macam yang begitu. Museum of tollerance itu bisa diambil seluruh dunia. Apa yang terjadi di Rwanda? Apa yang terjadi di Suriah sekarang? Apa yang terjadi di Mesir, apa yang terjadi di Balkan? Wah, kalau itu dibikin museum di Yogya, hebat itu. Ini dia yang saya maksud dengan mentalitas maritim, itulah cikal-bakal Bhinneka Tunggal Ika.

Weakness, apa kelemahan kita? Saya kira di forum semacam ini, mari kita cari weakness kita, kita harus waspada, kita harus tahu, apa sebetulnya kelemahan kita dari waktu ke waktu, dari periode ke periode. Dilihat, dikaji ulang, dicari solusinya dan lain sebagainya. Ada tiga kata kunci di sini sebenarnya. Yaitu right. Ini orang sekarang sudah lupa, orang Indonesia dengan hak-hak, jadi konstitusi itu memberi hak-hak kepada semua ecolbefellow, di beberapa daerah sudah melupakan itu. Jadi dihidupkan ecolbefellow, tetapi karena beda suku, beda agama, maka bukan lagi keindonesiaan, tapi kedaerahanisme umpamanya, right itu sudah tidak tampak lagi. Itu nanti dari waktu ke waktu, diskusi ke delapan, sembilan, sepuluh kita fokus tentang right.

Kemudian recognism itu juga harus toleransi, tadi kan sebetulnya mengakui keberadaan orang lain, menghormati, ya kita beda, tetapi kita sama-sama hidup bersama. Itu juga sudah menipis, menipis dan harus digaungkan kembali.

Dan yang ketiga adalah redistribusm dalam arti sila kelima, sila kelima itu adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itu adalah redistribusm dalam arti sumber daya, dalam arti ekonomi, dalam arti akses, pengetahuan, dalam arti akses politik, ensofort. Dengan begitu ketika kita bisa melihat dengan SWOT, saya kira speaker jernih Indonesia kuat, di mana kesempatan ke depan, di mana lemahnya, semua dengan begitu kita akan utuh melihat keindonesiaan. (SEA)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *