Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Sains & Tekno » Kassian Cephas Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

Kassian Cephas Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

Sejarah fotografi di Indonesia diawali pada tahun 1841. Di tahun itu, Juriaan Munich, seorang pegawai kesehatan Belanda ditugaskan oleh Kementerian Kolonial Kerajaan Belanda untuk datang ke Batavia (sekarang Jakarta). Munich datang dengan membawa kamera dauguerreotype.

Tugas Munich di Batavia adalah untuk mengabadikan tanaman-tanaman serta kondisi alam yang ada di Indonesia dengan kameranya. Kamera dauguerreotype  yang merupakan teknologi fotografi terbaru di masa itu telah digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk mendata semua hal yang berkaitan dengan Hindia Belanda.

Misalnya tentang kondisi atau keadaan suatu wilayah, perilaku, adat istiadat dan budaya masyarakatnya, dan banyak hal lainnya lagi. Foto-foto itu bisa menjadi sumber informasi sekaligus bahan pijakan dalam menentukan strategi dan kebijakan kolonialnya di Hindia Belanda (Indonesia).

Sepanjang 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia, yaitu sejak 1841 sampai 1941, penggunaankamera atau alat fotografi tersebut nyaris sepenuhnya berada  di tangan orang Belanda (Eropa), kemudian sebagian kecil orang keturunan Cina (Tionghoa) dan Jepang. Dari hasil penelitian Pemerintah Kolonial Belanda diketahui sejak tahun 1850 hingga 1940 di Hindia Belanda terdapat 540 studio foto yang tersebar di 75 kota besar dan kecil. Kemudian sepanjang tahun itu pula terdata sebanyak 315 fotografer berdarah Eropa (Belanda), 186 orang Cina, 45 orang Jepang, serta empat orang pribumi Indonesia. Dan, salah seorang fotografer pribumi itu adalah Kassian Cephas.

 

Orang Yogya

Kassian Cephas adalah fotografer pribumi yang pertama di Indonesia. Sayang sekali namanya berpuluh-puluh tahun tenggelam dan nyaris tak dikenal di negerinya sendiri, sebagai seseorang yang memiliki peran dan jasa besar dalam sejarah keberadaan fotografi di negeri ini.

Kalau saja pada bulan Juni 1999 tidak diselenggarakan pameran foto-foto karya Kassian Cephas di Keraton Yogyakarta, nama Kassian Cephas mungkin tidak diketahui banyak orang di Indonesia. Bahkan, para penggemar dunia fotografi di negeri ini pun pasti merasa asing bila mendengar namanya. Padahal selain sebagai seorang pribumi yang pertama berprofesi sebagai forografer profesional, seorang sejarawan Belanda, Gerrit Knaap, di dalam bukunya “Cephas,Yogyakarta: photography in the Service of the Sultan” menyebut Kassian Cephas sebagai salah seorang pionir modernitas di Indonesia.

Siapa sesungguhnya Kassian Cephas? Kassian Cephas adalah seorang pribumi asli Jawa yang lahir di Yogyakarta pada 15 Februari 1844 dari pasangan Kartodrono dan Minah. Tapi kemudian ia diangkat sebagai anak angkat oleh pasangan Adrianus Schalk dan Eta philipina Kreeft. Ia pun kemudian sempat  disekolahkan ke Belanda.

Dalam usia relatif muda, di tahun 1860-an Cephas mengenal dunia fotografi. Bahkan di tahun-tahun itu juga ia mulai belajar menjadi fotografer profesional. Kariernya sebagai fotografer profesional diawalinya dengan magang pada Isidore van Kinsbergen, fotografer Belanda yang pada tahun 1863 – 1875 bertugas di  Jawa Tengah.

Kariernya sebagai fotografer profesional semakin melejit ketika di tahun 1888 ia membantu Isaac Groneman yang membuat buku-buku tentang kebudayaan Jawa. Buku-buku karya Isaac Groneman, yang seorang dokter itu di antaranya “In denKedaton te Jogjakarta”dan “De Garebeg’s te Ngajogjakarta”.  Di dalam buku-buku itu terdapat sejumlah foto karya Kassian Cephas.

Pada masa Kesultanan Yogyakarta diperintah Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Kassian Cephas diangkat sebagai fotografer keraton. Dalam kedudukannya sebagai fotografer keraton, ia dapat memotret berbagai peristiwa budaya atau momen-momen khusus yang diadakan di dalam keraton.

Ketika pada tahun 1889–1890 pemerintah kolonial Belanda melalui Archaeologische Vereeniging atau Archeological Union (AVAU) di Yogyakarta melakukan proyek penelitian di kompleks Candi Prambanan (Candi Loro Jonggrang), Kassian Cephas dipercaya untuk membantu pemotretan.

Saat AVAU melakukan penggalian dasar Candi Borobudur, Kassian Cephas juga dilibatkan. Selama proyek penggalian dasar candi itu berlangsung, ia menghasilkan sedikitnya 300 lembar foto. Dari hasil jerih payahnya itu ia memperoleh honor sebesar 3000 gulden. Padahal dana keseluruhan untuk proyek penggalian dasar Candi Borobudur itu hanya sebesar 9000 gulden.

Karya-karya foto Kassian Cephas di masa itu sering dijadikan souvenir-souvenir berharga oleh kalangan elit Belanda. Terutama foto-fotonya tentang Keraton Yogyakarta, Sultan, keluarga dan kerabat Sultan, para abdi dalem, serta beragam ritual budaya dan kesenian. Dan, karya-karyanya itu terhimpun dalam souvenir album berjudul “Souvenir von Jogjakarta”.

Kassian Cephas, sang pionir modernitas fotografi di Indonesia ini meninggal dunia pada tahun 1912, dengan meninggalkan warisan karya-karya fotografi yang tak ternilai harganya. Dan, hampir semua karya-karyanya itu tersimpan di Negeri Belanda.

Lihat Juga

Kisah Kopi Dari Mintaraga Pakasi Di Antara Puisi dan Musik

Mintaraga Pakasi, seorang coffee Grading dari Surabaya menyampaikan kisah mengenai kopi di Indonesia di antara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *