Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Peristiwa » Kanjeng Kyai Tunggul Wulung Salah Satu Pusaka Keraton Yogya
Bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung (ft. net)

Kanjeng Kyai Tunggul Wulung Salah Satu Pusaka Keraton Yogya

KANJENG Kyai Tunggul Wulung merupakan salah satu dari empat bendera pusaka yang dimiliki Keraton Yogyakarta. Sebagai salah satu pusaka yang dihormati, bendera Tunggul Wulung yang diberi gelar Kanjeng Kyai itu diyakini memiliki kekuatan atau kesaktian yang mampu mengusir wabah penyakit menular. Sehingga ketika ada wabah penyakit menular menyerang rakyat, bendera Tunggul Wulung itu pun dikibarkan. Kibasan angin dari bendea pusaka itu dipercaya telah membebaskan rakyat dari bencana penyakit menular.

Keyakinan yang berkembang di masyarakat mengenai kesaktian dari bendera Tunggul Wulung itu dikarenakan adanya cerita atau dongeng yang menyatakan bendera pusaka tersebut dibuat dari kain bekas sorban Nabi Muhammad SAW.  Bahkan cerita mengenai kain bekas sorban Nabi Muhammad itu oleh sebagian masyarakat di Yogyakarta telah diyakini kebenarannya.

Sebagaimana yang terdapat di dalam cerita atau dongeng, konon Sultan Agung Hanyokrokusumo semasa memerintah Kerajaan Mataram pernah berkeinginan bila  meninggal dunia jasasnya dimakamkan di dekat Masjid Mekah. Tapi keinginan Sultan Agung itu ditolak oleh Khatib Masjid Mekah, Syeh Imamn Sufingi, dengan alasan ia keturumam manusia dan jin. Menurut Syeh Imam Sufingi, keturunan campuran manusia dan jin tidak pantas dimakamkan dekat masjid yang diagungkan dan dimulyakan di Mekah.

Sultan Agung kecewa dan marah atas penolakan Syeh Imam Sufingi terswbut. Di dalam kekecewaannya, Sultan didatangi Ratu Kidul sebagai penguasa di Kerajaan Laut Selatan. Ratu Kidul menyarankan Sultan Agung untuk membalas rasa sakit hatinya itu dengan mengirimkan bencana penyakit ke Mekah.. Setelah disetujui Sultan Agung, balatentara Kerajaan Laut Selatan diberangkatkan menuju Mekah dipimpin  Nyai Rara Kidul dan Nyai Kidul untuk menebarkan bencana  wabah penyakit menular.

Banyak penduduk kota Mekah yang menjadi korban dari bencana penyakit menular itu. Melihat hal tersebut Imam Sufingi menjadi resah dan cemas. Ia pun kemudian bertanya perihal penyakit menular itu kepada Sunan Kalijaga yang khusus datang dari Jawa untuk melaksanakan ibadah sembahyang Jumat di Masjid Mekah. Sunan Kalijaga kemudian menceritakan sebab-musabab wabah penyakit menular.

Menyadari hal itu, Syeh Imam Sufingi meminta bantuan Sunan Kalijaga untuk meminta maaf kepada Sultan Agung. Permohonan maaf itupun kemudian disampaikan Sunan Kalijaga kepada Sultan Agung. Berkat nasihat dan petunjuk Sunan Kalijaga, Sultan Agung pun kemudian menerima permintaan maaf Imam Sufingi..

Atas kesediaan Sultan Agung memberikan maaf, Syeh Imam Sufingi lalu bermaksud akan menghadiahkan kepasa Sultan sehelai kain bekas sorban Nabi Muhammad SAW. Sunan Kalijaga lalu pulang ke Jawa menjemput Sultan Agung untuk menerima hadiah kain sorban  di Mekah.

Setibanya di Mekah, Sultan Agung menerima pemberian hadiah kain bekas sorban Nabi Muhammad tersebut langsung dari Syeh Imam Sufingi. Penyerahannya berlangsung di dalam Masjid Mekah. Setelah itu Sultan Agung membawa kain bekas sorban itu keluar dari masjid dan mengibar-ngibarkannya seperti layaknya bendera. Ketika mengibar-ngibarkan kain bekas sorban Nabi itu, Sultan Agung lalu berseru kepada Nyai Rara Kidul dan Nyai Kidul untuk membawa pulang balatentaranya meninggalkan kota Mekah.. “Nyai Rara Kidul, begitu melihat kain bekas sorban Kanjeng Nabi Muhammad kukibar-kibarkan seperti layaknya bendera pusaka Keraton, maka segera tinggalkanlah kota Mekah ini,” seru Sultan Agung.

Seketika itu pula kota Mekah terbebas dari bencana wabah penyakit menular. Dan, oleh Sunan Kalijaga kain bekas sorban Nabi Muhammad itu diberi nama Tunggul Wulung.  Sejauhmana kebenaran cerita atau dongeng tentang bendera pusaka Kyai Tunggul Wulung itu, wallahu’alam! ***(Sutirman Eka Ardhana)

1 komentar

  1. Cerita diatas adalah riwayat yg dipercaya sebagaian masyarakat Jawa. Namun faktanya, bendera Tunggul Wulung ternyata adalah bendera yang diberikan oleh kekhalifan Turki keapda kerajaan Demak sebagai penanda bahwa Demak adalah perwakilan kekhalifahan Islam di pulau Jawa.

    Hal ini diterangkan oleh Sultan Hamengkubuwono X pada Pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI 2015 (KUII-VI 2015) di Yogyakarta.

    Berikut link beritanya: https://news.detik.com/berita/2843843/cerita-soal-pusaka-keraton-yogya-warisan-dari-kekhalifahan-islam-turki

    Semoga bisa meluruskan keyakinan yg keliru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *