Selasa , 13 November 2018
Beranda » Essai EAN » Kalau Memang Harus Mokèl

Kalau Memang Harus Mokèl

“Sebenarnya”, Pakde Sundusin menggeremang, “yang memprihatinkan bukan manusia, dunia dan Indonesia. Puncak kesedihan saya adalah bahwa hidup kita tidak berguna. Bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa untuk Negeri, bangsa dan masyarakat kita…”

Pakde Tarmihim merespons: “Kalau kita segera memasuki tahun-tahun yang membuat perasaanmu ngeri, hatimu sedih dan pikiranmu terkuras, ada dua firman yang mungkin membantu detoksifikasi jiwa kita”

“Pertama: Sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan baik buruknya hal ihwalmu. Kedua: Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat  menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia

Ketiga Pakde bersama anak-anak muda itu “jagongan” kelelahan pasca asap Mbah Shoimun. Minum kopi pahit, merokok dedaunan yang bukan tembakau tapi tetap dicampuri cengkeh, diolesi cairan yang diseduh dari akar pohon entah apa. Semua bahan itu mereka ambil dari tengah hutan tempat mereka “kuliah”.

“Kayaknya kita memang keracunan oleh Shoimun”, kata Tarmihim, “kita ingin pensiun dari memikirkan Negeri kita karena Mbah Shoimun ngakunya juga pensiun sejak wafatnya Nabi Sulaiman itu?”, sahut Pakde Tarmihim.

Brakodin tertawa. “Segera kita akan resmi jadi anak buah Iblis. Kabarnya Iblis, Kaisar Kejahatan, juga berpikir untuk mogok massal dan stop dari tugasnya begitu manusia memasuki Abad Renaissance. Iblis merasa tidak efektif lagi, karena target godaan yang mereka konsep sudah jauh dikalahkan oleh tingkat keserakahan manusia sendiri”

Tiba-tiba Toling menyela: “Bukannya Jin memang umumnya jahat-jahat, Pakde?”

“Memang sih”, Brakodin merespons, “banyak kalangan Jin yang stress dan depressed karena keputusan mutasi atau pensiun dini, gara-gara manusia ternyata begitu hebat prestasinya. Akhirnya banyak Jin yang ngawur: jadi hantu, merasuki jiwa manusia, orang pada kesurupan. Pokoknya dendam kepada manusia. Akhirnya semua Jin hancur citranya. Semua Jin dianggap buruk dan jahat. Kemudian gejala ini dijadikan komoditas oleh sejumlah orang pintar. Jin-jin stres diusir, dibacakan “ainama takunu” atau “lau anzalna” atau “afahasibtum” atau yang umum ya Ayat Kursi…”

“Iya lho”, Pakde Sundusin menambahkan, “Kasihan Jin. Dibentak-bentak. Kalau Cak Markesot dulu Jin-nya dielus-elus melalui tengkuk dan jidat orang yang dirasukinya. Cak Sot dengan lembut berkata “Kamu ikut saya saja ya, nanti kita ngobrol yang tenang… Orang ini banyak kesulitan hidupnya, jangan tambahi repotnya ya…”. Akhirnya si Jin pergi dengan lego-lilo karena merasa diayomi”

“Memang makin aneh manusia zaman sekarang”, kata Jitul, “untuk benar, selalu harus dengan menyalahkan yang lain. Berbuat baik nolong orang dari Jin, harus dengan menganiaya Jin. Mbah Markesot tidak sanggup menolong Jin. Apalagi manusia”

“Makanya kun madhluman wala takun dholiman”, kata Junit, “Jadilah orang yang dianiaya, kalau pilihan lainnya hanya menjadi orang yang menganiaya”

“Nggak lah”, Toling tidak setuju, “kalau ada yang menganiaya saya, ya carok…”

“Iya sih”, Seger sepakat, “kalau kita puasa menahan diri habis-habisan, lantas dijahati orang, ya mokèl lah, puasa batal nggak apa-apa meskipun belum Maghrib”.

DAUR-II 263,
Yogya, 4 Nopember 2017

Lihat Juga

Presiden Sorga Neraka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.