Beranda » Pendidikan » Jurnalistik Dakwah, Sejarahnya Dulu (1)

Jurnalistik Dakwah, Sejarahnya Dulu (1)

I

 DENGAN bantuan seorang sahabat untuk menulisnya, Rasulullah Muhammad SAW membuat sepucuk surat kepada Raja Bahrain yang bernama Al Mundzir bin Sawa. Rasulullah lalu mengutus sahabat Al Ala bin Al Hadhrami menyerahkan surat itu kepada Raja Mundzir.

Raja Al Mundzir menerima dengan ramah dan penuh hormat kedatangan Al Aloa bin Al Hadhrami. Lalu dengan penuh hikmad dibacanya surat dari Rasulullah SAW itu.

Surat berstempel dengan ukiran tulisan Muhammadurrasulullah itu berisi demikian:

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah, ditujukan kepada Al Mundzir bin Sawa. Salam sejahtera untukmu. Sesungguhnya aku memuji untukmu kepada Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia. Amma ba’du. Sesungguhnya barangsiapa yang telah bershalat dengan shalat kami, menghadap kiblat kami dan memakan hewan sembelihan kami maka itulah orang Islam, baginya mendapatkan jaminan Allah dan jaminan Rasul-Nya. Barangsiapa di antara Majusi yang menyukai demikian maka ia aman dan barangsiapa yang membangkang maka wajib baginya membayar jizyah.”

Setelah membaca surat dari Rasulullah SAW itu, wajah Raja Al Mundzir berseri-seri. Ia pun terlibat pembicaraan yang serius dan menarik dengan Al Ala bin Hadhrami mengenai kebenaran Islam yang diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW.

“Tidak seorang pun yang bisa menghalangi keinginanku untuk menerima serta meyakini suatu agama yang membawa manusia ke kebahagiaan di dunia dan akhirat,” ujar Raja Al Mundzir bin Sawa kepada Al Ala.

Kepada Al Ala bin Hadhrami sebagai utusan dari Rasulullah SAW, Raja Al Mundzir menyatakan kesediaannya untuk memeluk Islam. Ketika Al Ala akan berpamitan pulang, Raja Al Mundzir pun berkata, “Tunggulah dulu, saya akan membuat surat balasan kepada Rasulullah.”

Maka ia pun menulis surat dengan tulisan yang indah disertai bahasa yang padat dan mengena.

Surat balasan dari Raja Al Mundzir itu berisi demikian:

Amma ba’du. Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah membaca suratmu untuk penduduk Bahrain. Lalu di antara mereka ada yang mencintai Islam, terpesona dan memeluknya, namun sebagian ada pula yang membencinya. Sedangkan di negeriku ada penganut Majusi dan penganut Yahudi, maka berilah penjelasan perintahmu tentang hal itu kepadaku.

Surat dakwah Nabi Muhammad SAW kepada Raja Mundzir bin Sawa tak hanya berhenti di situ. Surat balasan dari Raja Mundzir itu dibalas lagi oleh Rasulullah. Surat kedua dari Rasulullah SAW itu berisi demikian:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Rasulullah ditujukan kepada Al Mundzir bin Sawa.

            Salam sejahtera untukmu. Sesungguhnya aku memuji untukmu kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad hamba-Nya dan utusan-Nya. Sesungguhnya aku mengingatkan engkau kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung. Sesungguhnya barangsiapa yang berlaku baik, maka seharusnya ia berlaku baik kepada diri sendiri. Barangsiapa yang mentaati utusan-utusanku dan mengikuti perintahnya maka sungguh ia mentaati aku. Barangsiapa yang berlaku baik kepada mereka, maka ia telah benar-benar berlaku baik kepadaku. Sesungguhnya para utusanku telah memujimu dengan baik. Sesungguhnya aku telah menolongmu mengenai kaummu. Maka biarkanlah orang Islam itu, selagi mereka tetap pada ke-Islamannya, aku memaafkan para pembuat dosa maka terimalah mereka. Sesungguhnya engkau selagi berbuat baik, maka kami tidak akan merubah engkau dari perbuatanmu. Barangsiapa yang tetap pada keyahudiannya atau kemajusiannya maka wajib baginya membayar jizyah.

Sesungguhnya sejak masa kebangkitan dan perkembangan Islam, berdakwah melalui tulisan sudah dipandang Rasulullah SAW sebagai salah satu bentuk atau langkah dakwah yang efektif. Seperti surat Rasulullah SAW yang dikirimkan kepada Raja Bahrain Al Mundzir bin Sawa, yang merupakan langkah berdakwah melalui tulisan itu, telah mendapat sambutan sangat menggembirakan.

 

II

            Apa yang dimaksud dengan Jurnalistik Dakwah? Bila jurnalistik memiliki arti sebagai suatu kegiatan menyampaikan pesan atau berita kepada khalayak ramai (masyarakat) melalui saluran media, maka Jurnalistik Dakwah dapatlah diartikan sebagai suatu kegiatan menyampaikan pesan berupa dakwah kepada khalayak ramai melalui saluran media. Tekanannya tentu pada media pers (media massa cetak), baik surat kabar, majalah, maupun tabloid. Karena melalui media pers, pesan dakwah itu tentu saja disampaikan melalui karya tulisan.

Secara sederhana, Jurnalistik Dakwah bisa diartikan sebagai kegiatan berdakwah melalui karya tulisan. Karya tulisan itu dimuat di media pers. Baik dalam bentuk berita, feature, artikel, laporan atau reportase, tajuk dan karya jurnalistik lainnya.

Karena dimaksudkan sebagai pesan dakwah, maka karya-karya jurnalistik itu sudah semestinya berisi ajakan atau seruan mengenai pentingnya meraih keberhasilan, mencapai kemajuan, mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kenistaan. Ajakan dan seruan yang semuanya bersumber dari aqidah Islam, tauhid dan keimanan.

 

III

Bila kita melihat kembali ke awal-awal kelahiran dan kebangkitan Islam, maka jelaslah terlihat bahwa sesungguhnya Jurnalistik Dakwah itu sudah dimulai dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jurnalistik Dakwah yang dimulai Rasulullah itu dilakukannya dengan mengirimkan surat-surat dakwah kepada para kaisar, raja dan pemuka masyarakat.

Pada tahun ke-6 Hijrah terjadi perdamaian antara kaum Muslimin dengan orang-orang Quraisy. Perjanjian perdamaian itu dikenal dengan sebutan Shulhul Hudaibiyah. Setelah perdamaian itu terwujud, untuk lebih mengembangkan-luaskan syiar Islam, Rasulullah SAW lalu menempuh langkah dakwah yang baru dengan berdakwah melalui tulisan-tulisan atau surat.

Rasulullah menyusun dan merancang isi dakwah melalui tulisan atau surat itu, kemudian para sahabat yang menjadi penulisnya. Untuk meyakinkan penerimanya bahwa surat itu dikirim oleh Rasulullah SAW, maka di setiap surat diberi stempel dari cincin perak yang berukirkan tulisan Muhammadurrasulullah.

Melalui jasa para sahabat dan utusan-utusan terpercaya lainnya, surat-surat dakwah itu dikirimkan kepada sejumlah kaisar, raja dan pemimpin negeri. Surat-surat yang dikirimkan itu semuanya berisi ajakan dan seruan untuk meyakini akan kebenaran Islam sebagai pegangan hidup di dunia dan akhirat.

Surat-surat dakwah dari Nabi Muhammad SAW itu dikirimkan antara lain kepada Kaisar Romawi Timur Hiraqlus (Hiracles), Raja Persia Kisra Abrawaiz, Raja Habsyi An Najasyi, Raja Mesir (Qibthi) Muqauqis, Gubernur Kekaisaran Romawi Timur di Damsyiq Al Harist bin Abi Syammar Al Ghassani, Raja Bahrain Al Mundzir bin Sawa, pimpinan Bani Khuzaah Rifaah bin Ali, Raja Umam Jaifar bin Jalunda, dan penguasa Yamamah Hudzah bin Ali.*** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVI: Setiap Tahun di Dunia, Hutan Seluas Jawa Hilang

Prof. Dr. Ir. Cahyono Agus DK, MSc, Guru Besar Kehutanan UGM PADA kesempatan ini karena …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *