Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Pendidikan » Seputar Jurnalisme (3) : Jurnalisme yang Membenci Kesewenangan

Seputar Jurnalisme (3) : Jurnalisme yang Membenci Kesewenangan

Sebagian aksi mahasiswa di kampus UGM pada April 1998. (Ft: dok)

 

BANYAK hal yang ditanyakan Dorinda Elliott. Dan, saya pun mencoba menjelaskan dengan apa adanya. Tapi ada satu pertanyaan lainnya yang sempat juga membuat saya bimbang untuk menjawab secara lugas. Padahal pertanyaannya sederhana saja, tapi untuk menjawabnya saya terpaksa harus berpikir hati-hati, cermat, dan tepat.

“Dengan kondisi politik di Indonesia seperti sekarang ini, apakah koran Anda akan tetap setia dengan gaya jurnalisme seperti sekarang ini? Apakah jurnalisme yang dibangun di koran ini menurut Anda cukup aman untuk nasib koran ini ke depan? Apakah Anda tidak takut izin terbit koran ini akan dicabut oleh penguasa?” demikian serentetan tanya dari Dorinda Elliott.

Jujur, saya sempat tergagap dan bimbang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimana kalau kekuasaan tetap kuat, tak bisa digoyahkan? Apakah masih akan berani bertahan dengan gaya jurnalisme yang begitu? Bagaimana kalau penguasa murka, lalu mencabut SIUPP atau izin terbit koran? Kalau izin terbit koran dicabut, koran pun berhenti terbit. Lantas bagaimana nasib sekian banyak wartawan, karyawan, loper, pengecer dan ratusan orang yang menggantungkan hidupnya dari koran ini? Sekian banyak orang akan kehilangan pekerjaan. Sungguh menyedihkan. Beragam pertanyaan berkecamuk di benak saya ketika itu.

Tapi saya tak bisa berlama-lama dengan beragam tanya yang berkecamuk itu. Dorinda Elliott tampak menunggu serius jawaban saya. Saya pun mencoba tegar. Mencoba untuk tidak bimbang dalam menjawab. Saya tak boleh surut ke belakang. Saya harus tetap tunjukkan bahwa koran ini siap untuk menghadapi resiko apa pun.

“Kami akan mencoba sekuat mungkin mempertahankan gaya jurnalisme yang begini. Walau mungkin kekuasaan bisa tersinggung, bisa marah, lalu mencabut izin terbit koran ini. Bila itu terjadi, kami siap untuk menghadapi semua itu. Tapi, mudah-mudahan itu tidak terjadi. Mudah-mudahan kekuasaan bisa memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Bisa memenuhi apa yang diinginkan oleh rakyat, terutama mahasiswa-mahasiswa,” jawab saya, walau sempat tergagap.

“Saya bangga dengan sikap dan pilihan koran Anda ini,” kata Dorinda Elliott di akhir pertemuan.

 

Peristiwa 4 April

Membaca laporan atau hasil kerja wartawan yang datang dari lapangan tentang bagaimana aksi unjukrasa dan bentrokan itu terjadi, serta melihat foto-foto dari wartawan foto yang merekam kondisi para pengunjukrasa yang terluka dan tergeletak di sejumlah tempat, sungguh telah membuat hati nurani terusik dan tersayat. Ada rasa ngilu. Ada rasa luka dan perih menyayat.

Perasaan yang sama juga muncul ketika suatu hari seorang wartawan yang meliput aksi unjukrasa mahasiswa di kampus UGM datang tergopoh-gopoh dan melaporkan tentang adanya seorang polisi berpakaian sipil nyaris tewas karena dikeroyok dan dianiaya secara brutal oleh peserta unjukrasa.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 4 April 1998. Polisi naas yang bernama Yuswohadi dan berpangkat Sersan Mayor itu sedang menjalankan tugasnya memantau aksi unjukrasa mahasiswa di kampus pusat UGM. Malang, penyamarannya di tengah-tengah mahasiswa yang sedang menggelar aksi unjukrasa itu diketahui. Tak ayal lagi, ia pun jadi korban bulan-bulanan mahasiswa pengunjukrasa. Ia ditendang, ditinju dan dipukul, hingga babak belur, bahkan sampai tidak sadarkan diri. Untunglah ketika itu mendadak muncul Amien Rais, tokoh reformasi dari kampus UGM. Kalau saja Amien Rais tidak datang menyelamatkannya, sulit dibayangkan entah nasib apa yang akan menimpa polisi naas itu lebih jauh.

Polisi itu telah menjadi korban kesewenang-wenangan dari mahasiswa yang emosional dan kehilangan nalar. Saya pun seakan merasakan rasa sakit dan derita yang dialami polisi malang tersebut.

Jurnalisme hati nurani, jurnalisme yang tidak memihak kepada siapa pun. Jurnalisme yang tidak memihak kepada mahasiswa pengunjukrasa, maupun aparat keamanan atau penguasa. Jurnalisme hati nurani bukanlah jurnalisme partisan, melainkan jurnalisme yang hanya berpihak kepada suara hati nurani, berpihak kepada mereka yang teraniaya, mereka yang tertindas. Berpihak kepada korban kesewenang-wenangan, seperti halnya polisi malang bernama Yuswohadi itu, serta berpihak kepada keadilan dan kebenaran.

Jurnalisme hati nurani adalah jurnalisme yang membenci kesewenang-wenangan, membenci ketidakadilan, membenci kebrutalan, dan membenci perilaku yang arogan, anarkis dan vandalisme. Jurnalisme hati nurani bukanlah jurnalisme yang menghujat, bukanlah jurnalisme yang memfitnah, bukan jurnalisme mencerca, mencacimaki dan bukanlah jurnalisme mencemooh. Jadi, rasanya tidaklah keliru kalau kepada Dorinda Elliott saya mengatakan gaya jurnalisme yang dipilih itu adalah jurnalisme hati nurani. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Mencari dan Membangun Ide Penulisan

IDE merupakan ‘senjata utama’ bagi wartawan (jurnalis), dan juga penulis, baik itu penulis fiksi maupun …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *