Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Seputar Jurnalisme (7) : Jurnalisme Isu dan Desas-Desus

Seputar Jurnalisme (7) : Jurnalisme Isu dan Desas-Desus

KEBEBASAN pers di era reformasi memang telah disambut dengan penuh sukacita oleh kalangan pers nasional. Pers seakan benar-benar telah menemukan jatidirinya, sebagai penyampai informasi, pendidik masyarakat, penghibur dan sekaligus alat kontrol sosial. Sayangnya, era kebebasan pers itu diawali dengan euforia atau demam kebebasan yang berlebihan, bahkan cenderung lepas kendali. Bahkan, tak sedikit media pers yang cenderung melupakan bahwa sesungguhnya dalam kerja jurnalistiknya ada tatanan hukum dan kode etik jurnalistik.

Seakan sejak jauh hari sebelum datangnya reformasi ada ‘keberanian’ yang terpendam dalam, ‘keberanian’ yang tak mampu terungkapkan. Sehingga ketika era kebebasan pers itu datang, maka pers pun seakan berlomba untuk saling menunjukkan atau menampilkan ‘keberanian’ yang terpendam sekian lama. Masalahnya, tidak sedikit pers yang terkesan gagap dalam menunjukkan ‘keberanian’nya itu. Akibatnya, tidak sedikit media pers yang berubah fungsinya sebagai penyampai informasi yang positif, menjadi penyampai atau penyeru cacimaki, hujatan, cercaan, cemooh dan media provokatif.

Mantan Presiden Soeharto yang semasa masih menjadi presiden begitu dihormati, disegani dan ‘ditakuti’ pers nasional, telah menjadi ‘bulan-bulanan’ kebanyakan media pers dengan dijadikan obyek hujatan dan cercaan. Tidak hanya mantan Presiden Soeharto, tapi juga keluarga, anak-anak serta orang-orang dekat di sekitarnya yang disebut sebagai kroni-kroninya juga mengalami hal yang sama. Mereka menjadi obyek hujatan dan cercaan yang ternyata memang laris dijual ke pembaca.

Seperti baru saja terbebas dari penderitaan dan ketakberdayaan yang panjang, kebanyakan media pers telah meluapkan emosinya melalui pemberitaan-pemberitaan yang bersifat emosional dan cenderung tendensius. Dan, bagi mantan Presiden Soeharto, tidak hanya kebijakan-kebijakan politiknya semasa pemerintahan Orde Baru yang dihujat dan dicerca, tapi juga sampai ke persoalan-persoalan pribadi, persoalan-persoalan keluarga. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya, pers yang semula begitu terkesan santun, penuh hormat, dan menyanjung Pak Harto bahkan juga kepada segenap kerabatnya, tiba-tiba berubah menjadi garang, berani, dan kehilangan ‘tata krama’. Pers yang semula terkesan menunduk, tak berani menatapkan matanya ke Pak Harto dan keluarga, tiba-tiba berani mendongakkan kepala, dengan mata melotot dan memerah.

Simak juga:  Jurnalisme Corong (2) : Jurnalisme Saling Serang

Tidak sedikit media pers yang justru mengedepankan isu ketimbang fakta. Isu dan desas-desus seakan-akan jauh lebih berharga nilainya dibanding fakta yang seharusnya menjadi pegangan utama pers dalam pemberitaannya. Dan yang selalu dijadikan obyek isu itu masih tetap seputar mantan Presiden Soeharto, keluarga dan orang-orang dekatnya. Misalnya, isu tentang harta kekayaan keluarga Soeharto yang triliyunan rupiah (ratusan triliyunan) baik yang tersimpan di dalam negeri, maupun pada bank-bank di luar negeri. Disamping itu juga isu tentang perusahaan keluarga Soeharto yang mencapai hampir 300 perusahaan, isu tentang aktivitas bisnis anak-anakinya, dan beragam isu lain yang tekanannya lebih pada keinginan untuk memojokkan.

Bahkan ada media pers yang tanpa sungkan-sungkan menurunkan laporan yang cukup kontroversial yakni menyebut mantan Presiden Soeharto sebagai dalang peristiwa G-30-S/PKI di tahun 1965. Padahal sumber laporan itu adalah salah seorang tokoh G-30-S/PKI itu sendiri. Ada pula media pers yang menurunkan tulisan cukup mengejutkan yakni menyatakan mantan Presiden Suharto adalah keturunan Cina, dan banyak isu lainnya.

Gembira dan Sedih

Reformasi menggembirakan, tapi sekaligus menyedihkan. Setidaknya ini terjadi di dalam kehidupan pers nasional. Kran kebebasan yang diberikan telah ditanggapi secara berlebih-lebihan, dan ditafsirkan secata tidak benar. Kemerdekaan dan kebebasan pers yang diberikan seakan pers bebas berbuat dan memberitakan apa saja. Seakan tidak ada lagi aturan-aturan hukum, tidak ada lagi tata nilai, tatakrama dan etika. Kode Etik Jurnalistik seakan terabaikan begitu saja. Pers di awal-awal reformasi, seakan sedang mengalami mimpi buruk. Kebebasan pers yang diperoleh, telah disalahtafsirkan, seakan pers bebas menginformasikan apa pun, dengan cara apa pun, dengan kalimat dan gaya apa pun. Dan, seakan pers tak lagi perlu mempertimbangkan apakah informasi yang diberikan kepada publik itu mengandung kebenaran atau sebaliknya.

Simak juga:  Jurnalisme Menghukum (1): Trial by The Press Menjadi Pilihan

Kebebasan seakan diartikan pers tidak lagi harus berpihak pada hati nurani, tapi berpihak pada kepentingan, kepada bisnis, pasar dan keuntungan. Hati nurani telah dicampakkan. Hati nurani dipandang bukan lagi suatu hal yang penting dan berguna bagi kelangsungn hidup pers.

Booming media pers di era reformasi membuat pers tidak lagi bertumpu kepada hati nurani, tetapi bertumpu pada kepentingan  pasar dan keuntungan bisnis. Persaingan yang ketat di pasaran membuat kepentingan bisnis mengalahkan segala-galanya. Isu, desas-desus, hujatan dan cercaan memang sedang menjadi bisnis yang menggiurkan dan laris dijual kepada pembaca.

Akan halnya hati nurani, nasibnya hanya terpuruk di laci meja atau di bawah tumpukan isu, desas-desus dan cercaan. Dan, sebagai seseorang yang sempat mencoba membangun jurnalisme hati nurani itu, saya tentu sangat sedih. Untunglah, saya mulai terhibur lagi, ketika kondisi jurnalisme ‘hiruk-pikuk’ seperti itu tak berlangsung lama. Saya gembira, berangsur-angsur pers nasional telah menemukan jatidirinya kembali. Berangsur-angsur jurnalisme yang menghujat, mencemooh, mencerca, penuh fitnah, menghilang dari wajah pers nasional.

Tapi, di tahun 2016 dan 2017, saya terhenyak lagi ketika menyaksikan munculnya jurnalisme hoax. Maaf, saya seperti kehilangan kata-kata. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.