Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Jumeneng Anteng, Sugeng, Sugih Jeneng

Jumeneng Anteng, Sugeng, Sugih Jeneng

APORISMA Jawa yang tertuang di dalam judul tulisan ini tentu menjadi gegadhangan‘ atau cita-cita luhur orang Jawa. Oleh karena itulah semenjak bayi manusia lahir di dunia ini kemudian diberi –pusaka asma-nama. Dan peristiwa itu diperbaharui lagi pada acara wiyosan atau neton yang dibarengi dengan berbagai lambang yang ada di bumi, seperti dian, gula Jawa ‘setangkep’,  jenang-jenangan, bunga setaman, tumpeng, jajan pasar.

Lalu apa makna sesungguhnya dari pemahaman ini. Dari berbagai  sarasehan yang dilakukan oleh paguyuban-paguyuban di berbagai wilayah, didapat simpul yang mempesona. Bahwa manusia hidup itu diberi semacam tugas yang indah yang tersembul lewat lambang yang digelar setiap ‘netonan atau ‘wiyosan’. Lambang itu adalah harapan akan hidup (dian) yang membawa harapan manis (gula), untuk tumpeng-tumapaking penguripan-tumindak lempeng, tumuju Pengeran-) -jajan pasar mampu membuat nama harum, (bunga) dan agar hidup berkerukunan yang mewujudkan keselarasan hidup.

Manusia hidup diharapkan mampu mendirikan namanya-jumeneng secara sentosa. Artinya kewibawaannya pun dijaga. Sebab Jawa disini berarti menjaga kewibawaan, bukan mengumbar nafsu. Jawa- nJaga wibawa, bukan nguja hawa. Jumeneng itu harus disertai ketenangan ‘anteng‘ kesentosaan, tidak gampang tergoda oleh gebyar duniawi. Ia harus hidup, sugeng, hidup itu indah. Dan ‘sugih jeneng’ artinya kaya akan amal dan budi baik. Dan biasanya kalau orang mampu ‘jumeneng anteng, sugih jeneng’ rejeki bakal mengikuti.

Harapan ini memang bukan sesuatu yang mustahil. Orang Jawa sangat rindu akan keselarasan ini. Oleh karena itulah kerinduan akan keselarasan dilambangkan pada tiga tahapan, yakni keselarasan dengan diri sendiri. Mampu mengenali diri, mendudukkan diri secara benar. Keselarasan dengan alam, memahami benar bahwa ia bagian dari alam, dan bukannya menguasai alam. Dan yang ketiga adalah keselarasan dengan Allahnya. Lantaran ia adalah ciptaanNya.

Memang pantas diakui bahwa masyarakat Jawa sangat mengharapkan agar hidup dan kehidupan selaras dengan kodrat alam. Hal ini akan bisa berhasil tercipta apabila setiap anggota masyarakat Jawa dalam setiap tingkah laku, berpedoman pada tatanan-tanan yang telah diyakni masyarakat Jawa sendiri. Secara garis besar, ada dua kaidah pokok yang mendasari norma moral masyarakat Jawa yaitu bahwa dalah setiap situasi anggota masyarakat Jawa dituntut bertindak aweh rasa resep, sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan pasulayan atau konflik.

Simak juga:  Kliwon sebagai Pusat Kehidupan Orang Jawa

Sikap yang sedemikian itu untuk selanjutnya lebih dikenal sebagai prinsip kerukunan. Yang kedua adalah bahwa setiap situasi diharapkan anggota masyarakat Jawa dalam cara berbicara dan membawakan diri selalu menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain. Sikap hormat ini bukan berarti takut.

Hal ini disesuaikan dengan derajat dan kedudukan seseorang. Prinsip ini lebih dikenal dengan nama Prinsip Hormat.

Dalam perilaku sehari-hari anggota masyarakat Jawa secara konsepsional diharapkan memperhatikan prinsip tersebut tadi. Bila anggota masyarakat sudah dapat memelihara keseimbangan bati dan penenangan emosi, berarti ia telah mencapai kematangan moral atau jiwa.

Kedua prinsip tersebut menjadi sumber jiwa Jawi dan terlihat pada semua kebiasaan, perbuatan, dan tingkah laku orang Jawa sehari-hari meskipun dengan kadar yang berbeda-beda.

Pada prinsipnya jiwa (moral) tersebut diajarkan turun-temurun kepada generasi-generasi yang lebih muda. Adapun cara penerusan moral tersebut dapat melalui berbagai cara misalnya dengan nasihat, larangan, tabu, uraian langsung dan sebagainya.

Dalam kehidupan bermasyarakat selalu timbul tataran nilai. Nilai merupakan konsepsi yang biasanya menunjukkan suatu tataran yang sesuai dengan adat dan struktur di dalam masyarakat. Hal ini bukan berarti bahwa nilai itu dapat dilihat melalui adat, tetapi adat seakan-akan merupakan sebagian manifestasi dari nilai yang dianut masyarkatnya.

Tataran nilai tersebut melandasi tingkah laku manusia. Apabila tataran nilai itu timbul dalam masyarakat dan kemudian tataran itu menjadi pilihan masyarakat, maka tataran nilai itu akan diniati untuk dilaksanakan dan diusahakan kelestariannya.

Dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada nalar akan lahir penilaian benar dan salah, dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada karep, maka akan lahir penilaian baik dan buruk, dari perbuatan dan tingkah laku yang bersumber pada kepercayaan akan lahir sifat-sifat religius dan non religius. Yang menentukan penilaian itu adalah kelompok-kelompok etnis tertentu atau masyarakat. Pelestarian penilaian itu dilakukan oleh masyarakat, kelompok-kelompok, dan bangsa tertentu karena nilai merupakan suatu ukuran yang diyakini dan harus ditegakkan untuk melestarikan irama kehidupan yang sesuai dengan kodrat alam dan cita-cita luhur suatu masyarakat atau kelompok-kelompok tertentu maupun bangsa tertentu.

Oleh adanya penilaian itu pula, maka timbul pula larangan-larangan, aturan-aturan, dan pembatasan yang tujuannya untuk mengaur tingkah laku menauia dalam hidupnya agar sesuai dengan harkat dan martabat yang dicita-citakan measyarakatnya. Adanya penilai menyebabkan timbulnya tatanan di dalam masyarakat itu sendiri.

Simak juga:  Simbol Ketajaman Pikir dan Kelembutan Hati

Dalam abad yang makin kompleks in persoalannya kini apakah hal-hal di atas masih mendapatkan porsi besar dalam pemikiran? Setiap hari kita didera untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hidup menjadi merobot dan porsi perenungan kian berkurang. Pola ibadah terkurangi. Perenungan juga makin dangkal.Kita jadi sering lupa pada tujuan akhir dari seluruh kehidupan manusia.’Masihkah orang Jawa gemar maneges dan manekung pada Yang Maha Agung?’

Masihkah orang Jawa konsekuen menghayati budayanya? Sikap isin, andhap asor, tepo sliro, rukun, ngajeni, sabar, nrima, serta menjauhi sikap kasar, drengki, srei, jail, methakil, mumpung, dahwen, open, dumeh rasanya kurang terperhatikan lagi. Perseteruan, tawuran, korupsi, manipulasi, perjudian, penganiayaan, yang tak selaras dengan budaya Jawa dan mungkin juga budaya lain, makin mengemuka. Ini menjadi tengara bahwa tatanan moral yang diyakini dan dicita-citakan mendapatkan tantangannya. Banyak orang Jawa yang kini tak tahu bahasanya sendiri, lebih-lebih bahasa krama  dan krama inggil. Banyak rumah tangga enggan menggunakan bahasa Jawa lagi. Lalu bagaimana mungkin mengerti dan menghayati budaya Jawa kalau bahasa Jawa saja tidak tahu? (Jawa ilang budayane?)

Di era yang penuh iming-iming duniawi, kita didorong untuk meninggalkan hal-hal batiniah, yang sebetulnya mendorong manusia menjadi manusia yang utuh.

Manusia pada dasarnya memiliki hakikat yang kompleks, dan dituntut untuk senantiasa mengendalikan bagian tersebut agar bekerja secara harmonis selaras dan seimbang. Disebut di dalam manusia ada bagian yang lebih rendah yakni pancaindera dan yang lebih tinggi yakni akal budi. Kedua hal ini harus dipertahankan secara harmonis.  Kemampuan yang rendah mengabdi kepada kemampuan yang lebih tinggi. Apabila ini tak terlaksana terjadilah pemberontakan dalam kodrat manusia. Keselarasan ini tidak saja ada diri manusia, tetapi juga di luaran dirinya. Konsep Aku-alam-Allah mendasari pemahaman ini. Dalam setiap pertentangan antara berbagai hubungan, maka hubungan dengan Allahlah yang senantiasa dinomorsatukan, baru kemudian dengan sesama manusia. Oleh karena itulah muncullah pemahaman ‘Surodiro Jaya, jayaningrat, lebur dening pangastuti’.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *