Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Peristiwa » Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (1) : “Jiwa Revolusionerku Tetap Membara”

Bung Karno dalam Wawancara Imajiner (1) : “Jiwa Revolusionerku Tetap Membara”

MESKI sudah lama meninggalkan kehidupan di alam fana, tepatnya sejak 20 Juni 1970, hampir 47 tahun lalu, Ir. Sukarno atau yang lebih populer dengan sebutan Bung Karno, proklamator kemerdekaan dan presiden pertama Republik Indonesia itu ternyata tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap berbagai perkembangan dan gejolak politik yang terjadi di Indonesia.

Di alam keabadian, ‘kediaman’nya sekarang, Bung Karno yang salah seorang puterinya yakni Megawati Sukarnoputri pernah menjabat sebagai Presiden RI, dan kini masih tetap memimpin PDI Perjuangan, masih terlihat tampan, tegar dan gagah. Bedanya, tubuhnya sekarang kelihatan sedikit agak kurus dibanding tahun 1066, terutama di bulan Maret, saat ia ‘menyerahkan’ Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) kepada Letjen Suharto. Dan, di luar dugaan, Supersemar itu telah dijadikan senjata sakti oleh Suharto untuk menurunkan Bung Karno dari kursi kepresidenan.

Walau Juni 2017 nanti Bung Karno akan berusia 116 tahun, kewibawaan dan kharismanya sebagai Seorang Pemimpin Besar Revolusi belum juga hilang. Sikap kebapakannya setiap kali bertemu dengan siapa pun, terutama dengan wartawan, masih tetap melekat. Semasa hidupnya, terutama ketika masih menjadi orang nomor satu di republik ini, Bung Karno memang sangat dekat dengan wartawan. Setiap ada persoalan politik atau pemerintahan yang ingin ditanggapi, ia tanpa ragu-ragu mengundang wartawan guna menyampaikan tanggapan dan penjelasannya.

“Wah, lama sekali. Lama sekali aku tidak bertemu dengan wartawan. Kapan ya, terakhir aku bertemu dengan wartawan? Kapan, ya? Apa ketika aku sedang sakit dalam keadaan di karantina oleh pemerintahan Orde Baru itu? Atau ketika aku menyaksikan si Rachma (Rachmawati Sukarnoputri, maksudnya) itu menikah? Aku lupa. Tapi sudahlah. Yang penting, hari ini aku sangat gembira dengan kedatanganmu. Sesuatu yang sama sekali tidak pernah kuduga. Ternyata masih ada juga wartawan yang mau mewawancaraiku, meski aku bukan Pemimpin Besar Revolusi lagi, bukan Paduka Yang Mulia lagi, sebuah sebutan yang sesungguhnya aku sendiri tidak suka. Dan, bukan presiden lagi. Tapi, tapi…..apa sesungguhnya yang ingin kau tanyakan kepadaku?” ujar Bung Karno penuh akrab.

Berikut rangkaian wawancara yang menarik dan menyenangkan dengan Bung Karno. Wawancara ini dilangsungkan pada bulan April 2017.

 

Tanya (T): Sampai sekarang ini, sampai usia Bapak yang tidak lama lagi akan genap 116 tahun, apakah Bapak masih tetap mengikuti perkembangan politik dan pemerintahan di Tanah Air?

 

Bung Karno (BK): Jangan panggil aku Bapak. Panggil aku Bung. Itu aku lebih suka. Setiap kali dipanggil Bung, semangatku kembali menggelora. Kembali muda. Seperti dulu saat pertama aku bertemu Utari yang puterinya Pak Cokroaminoto itu. Kemudian bertemu Inggit, mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) di tahun 1927, lalu bertemu dengan Fatmawati di Bengkulu, menggali dan melahirkan Pancasila serta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia bersama Bung Hatta. Eh, coba diulangi pertanyaanmu tadi. Maklum aku sudah tua, hampir seratus enambelas tahun.

 

T: Begini Bung. Apakah Bung masih tetap mengikuti perkembangan politik dan pemerintahan di Tanah Air hingga sekarang ini?

 

BK: Semangat dan jiwa revolusionerku tetap membara, tidak pernah reda. Tidak pernah padam. Tidak pernah hilang. Sampai kapan pun, bara semangat semangat itu tetap menyala dan bergelora di dalam jiwaku. Karena itu aku tidak pernah berhenti barang sedetik pun dalam mengikuti apa yang sedang terjadi di Tanah Air. Apa yang dilakukan Suharto, sejak ia kuberi Supersemar hingga terpaksa menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998 setelah berhari-hari didemo mahasiswa di seluruh Tanah Air, tak pernah lepas dari perhatianku. Demikian juga ketika Suharto diganti BJ Habibie, kemenangan PDI-Perjuangan yang dipimpin anakku, Megawati Sukarnoputri, pada Pemilu Juni 1999, ditolaknya pertanggungjawaban Habibie dalam Sidang Umum MPR Oktober 1999, gagalnya Megawati meraih kursi kepresidenan karena dijegal dan dihalangi kelompo-kelompok lawan politiknya di MPR, sampai terpilihnya Gus Dur menjadi presiden dan Megawati wakil presiden, senantiasa menjadi titik perhatianku. Begitu pula ketika Gus Dur tak lagi menjabat presiden, dan kedudukannya sebagai presisden diganti oleh Megawati. Lalu tampilnya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden menggantikan Megawati, sampai kemudian terpilihnya Joko Widodo menjadi presiden, aku tak pernah berhenti memperhatikan dan menyimak apa yang terjadi.

Aku ini nasionalis sejati. Dari dulu hingga sekarang, aku tidak pernah plintat-plintut dalam bersikap. Karenanya, sebagai seorang nasionalis sejati, aku tetap merasa terlibat dengan setiap peristiwa dan gejolak apa pun yang terjadi di negeriku. Bila ada luka sekecil apa pun di negeriku itu, aku ikut merasakan sakitnya.

 

T: Sebelum berbicara tentang puteri Bung, Megawati Sukarnoputri, yang sempat menjadi wakil presiden, kemudian presiden dan kini masih tetap memimpin PDI-Perjuangan sebagai partai politik terbesar sekarang ini di Indonesia, apakah Bung Masih masih mau berkomentar dulu atau berbicara sedikit tentang diri Suharto yang dulu Bung beri Supersemar dan BJ Habibie yang kemudian menggantikannya sejak Mei 1998?

 

BK: Apa? Bicara tentang Suharto dan Habibie? (Bung Karno seperti berpikir sesaat. Tampaknya ia sedang menimbang-nimbang dalam hati, apakah ingin membicarakannya atau tidak). Boleh. Boleh juga. Mungkin masih ada yang bisa diutarakan. Tapi, tunggu sebentar, aku sedang mencoba mengingat-ingat bagaimana wajah Suharto di tahun-tahun itu, baik sebelum maupun sesudah kuberi Supersemar. *** (Sutirman Eka Ardhana/bersambung)

Lihat Juga

Menyimak Ulang Pidato Kenegaraan Terakhir Bung Karno (1)

SETIAP memperingati HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, ingatan kita tentu tidak bisa lepas kepada tokoh bangsa …

2 Komentar

  1. Maria Kadarsih

    Ditunggu lanjutan waeancara imajinernya dgn BUNG KARNO…semoga romantika dengan para perempuan yg pernah singgah dlm kehidupan Bung Karno juga diungkap.
    Salam Perwara bung Eka Ardhana

  2. A Daru Maheldaswara

    Wawancara Imajiner (yang dulu paling sering dilakukan SKM “MINGGU PAGI” pada era saya masih jadi salah seorang redakturnya), sebenarnya lebih dimaksudkan untuk menggali sisi positif dan sisi kemanfaatannya. Bukan sekadar romantisme. Dan Bung Sutirman Eka Ardhana cukup berhasil melangkah kesana. Mungkin yang juga perlu diungkap adalah pemikiran-pemikiran Bung Karno yang belum berhasil dilaksanakan, tapi itu sangat mendukung atau membantu pengelola negeri ini mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia : KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA.
    Bravo Bung Eka.
    Terus berkarya, meski sudah disebut wredhatama.
    Mari lawan lupa dan pikun.
    Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *