Selasa , 20 November 2018
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Jawa Mengutamakan Kearifan Ketimbang Kewaskithaan

Jawa Mengutamakan Kearifan Ketimbang Kewaskithaan

DI DALAM kehidupan masyarakat Jawa dua kata ‘wicaksana’ dan ‘waskitha’ merupakan dua kata yang sering jadi perdebatan, mana yang lebih unggul. Sebab kedua kata itu sering disebut sebagai upaya manusia untuk meningkatkan diri sehingga menjadi arif-bijaksanaa dan tahu sebelum sebuah peristiwa terjadi.(Ngerti sakdurunge winarah)

Perdebatan kedua kata ini sering dimunculkan dalam kisah wayang. Dalam cerita ki dalang perdebatan ini  tidak saja melibatkan para kawula, tetapi para dewa di kahyangan pun ikut berrebut unggul dalam  soal kebijaksanaan dan kewaskitaan ini.

Al kisah dalam cerita wayang “Raibnya Dewi Sembadra“, Janaka atau Permadi dibikin bingung oleh ulah isterinya. Sembadra pergi lantaran tahu bahwa Harjuna ada main dengan Dewi Banowati. Seluruh negeri Amarta Pura geger.

Harjuna bingung, sudah dicari di seantero negeri Amarta Pura, Sembadra tak ditemukan. Saking pusingnya, Harjuna memanggil Gatutkaca. Yang dipanggil pun datang dengan terbata-bata.

Tanpa memberikan alasan yang jelas Harjuna pun menyerahkan kembalinya Dewi Sembadra di tangan Gatutkaca. Sebagai kemenakan yang bertanggungjawab, Gatutkaca pun menyanggupi dan berkata dengan mantab :”Sendika dhawuh“. Dan dengan gesitnya lalu melesat ke udara untuk mencari Sembadra.

Tetapi Gatutkaca pun kebingungan, sedang suaminya sendiri saja tidak tahu di mana isterinya berada, apalagi kemenakannya. Gatutkaca kebingungan. Aneh dicari di seluruh negeri tak ditemukan bibinya itu. ‘Saking’ bingungnya, Gatutkaca kemudian lari ke Kahyangan. Dalam pandangannya pasti para dewa tahu dimana Dewi Sembadra berada.

 

Semua Pihak Untung

Di kahyangan ternyata tengah terjadi perdebatan antara dewa Kamajaya dan dewa Kuwera. Keduanya berdebat masalah kawicaksanaan dan kewaskithaan. Mana yang lebih baik ‘wicaksana’ atau ‘waskitha’. Waskitha dimaksudkan adalah tahu segala sesuatu sebelum terjadinya peristiwa. Sementara bijaksana adalah menguntungkan semua pihak. Di dalam pewayang orang yang paling bijaksana disebutkan adalah Bathara Kresna.

Simak juga:  Islam, Wayang dan Indonesia

Tengah mereka ramai berdebat dua soal antara ‘wicaksana’ dan ‘waskitha’ ini datanglah Gatutkaca membeberkan apa keperluannya datang ke Kahyangan. Kedua dewa itu yang dianggap waskitha tahu semua mengenai apa yang terjadi. Tetapi yang muda yakni Kuwera menantang Dewa Kamajaya siapa yang lebih waskitha supaya memberikan keterangan kepada Gatutkaca.

Kedua dewa berunding. Akhirnya dewa yang muda mengalah. Kemudian Dewa Kamajaya mengatakan bahwa Dewi Sumbadra berada ‘jauh ya tidak, dekat yang tidak’. Menerima jawaban itu Gatutkaca malah semakin bingung ” mencari jawaban atas hilangny Dewi Sembadra, ee malah dijawab dengan teka-teki”.

Gatutkaca pun belum mau pergi sebelum mengetahui benar dimana Dewi Sembadra berada.

 

Yang Muda Harus Bijak

Dewa Kuwera yang lebih muda yang masih menggebu-gebu soal ilmu kedigdayaan kemudian bertanya kepada Kamajaya, ‘sebenarnya Kakang Kamajaya tahu tidak sih’. Gatukaca mencari jawaban kok malah diberi teka-teki. Kalau tak tahu bilang Kakang, biar Gatutkaca saya beri tahu “. Kata Kuwera.

Jawab Dewa Kamajaya, saya tahu tetapi kalau saya beritahu sesungguhnya maka malapetaka yang bakal terjadi”, Ucap Kamajaya. “Kalau adhi tak percaya silakan”.

Benar Kuwera tak tanggap akan yang dikatakan Dewa Kamajaya. Kemudian Kuwera pun mengatakan bahwa sebenarnya Sembadra berada di balik Gelung rambut Werkudara. Setelah mengucapkan terima kasih, maka Gatutkaca pun kemudian terbang kembali ke Amarta untuk menemuia orangtuanya yakni Werkudara. Kepada Werkudara disampaikan bahwa Bibinya, Sembadra berada di balik gelung rambut Werkudara. Werkudara marah, bertanya siapa yang memberi tahu. Gatutkaca mengaku bahwa yang memberitahu Dewa Kuwera. Tanpa Ba-bi-bu Werkudara langsung ke Kahyangan dan menyeret Dewa Kuwera kemudian diinjak-injak. Baru setelah puas, kemudian Werkudara meninggalkan Kuwera sendiri.

Simak juga:  Abad Samudera dalam Angan-angan

Masih merasakan sakit lantaran diinjak-injak Werkudara, Kuwera didatangi Dewa Kamajaya, “ya seperti itulah kewaskitaanmu Dhi”. ‘Kamu kurang bijaksana membeberkan kewaskitaanmu’. Itulah akibat kecerobohan mu, engkau diinjak-injak oleh Werkudara, kata Kamajaya.

Di sinilah letak perbedaan tajam antara kewaskitaan dan kawicaksanaan. Bahwa orang yang wicaksana itu tentu waskita, tetapi orang waskita belum tentu bijaksana. Tergantung dari rasa hati manusia. Yang muda biasanya masih mempunyai sifat keras ingin unggul. Inilah sifat manusia. Dia tidak mau diungguli. Bahkan dalam soal yang sangat jelek pun orang tak mau dikalahkan.

Padahal dalam Wedhatama digelar :

  

Mangkono ngelmu kang nyata

sanyatane, mung weh reseping ati

Bungah ingaranan cubluk

Sukeng tyas yen den ina

Nora kaya si Puggung anggung gumunggung

Ugungan sadina-dina

Aja mangkono wong urip

 

Ilmu yang sesungguhnya , harus bisa membuat segalanya serasi-laras, resep, indah. Bahagia jikalau dikatakan bodoh, bahkan amat senang bila dihina. Tidak seperti orang yang senang dipuja, setiap hari disanjung, dengan puja-puji. Tetapi hidup manusia janganlah seperti itu. Itulah nasehat Jawa yang senantiasa disodorkan oleh para leluhur. Dan itulah Jawa yang tidak mementingkan kepandaian tetapi lebih condong kepada keselarasan hidup bermasyarakat.

 

Ki Juru Bangunjiwa, pelaku dan pemerhati budaya, tinggal di Bangunjiwa Kasihan Bantul

 

Lihat Juga

Abad Samudera dalam Angan-angan

YOGYAKARTA memasuki abad samudera, meski hanya mempunyai secuil Samudera Indonesia yang sangat Luas. Konon di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.