Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pendidikan » Jangan Pernah Katakan “Tidak” untuk Tujuan Mulia

Jangan Pernah Katakan “Tidak” untuk Tujuan Mulia

JANGAN pernah katakan “tidak” untuk suatu tujuan yang mulia. Serangkaian kata-kata atau kalimat ini pernah menjadi pegangan saya, walau terus terang, muncul secara spontan. Walau pada awalnya muncul secara spontan atau tiba-tiba, tapi kemudian saya menyadari kebenaran dari kata-kata itu, dan mencoba tetap meyakininya hingga kini.

Misal, ketika sekarang banyak di antara kita yang merasa was-was, dan cemas dengan persoalan “kebangsaan” kita, bahkan ada yang pesimis persoalan “kebangsaan” itu tidak begitu mudah terselesaikan, apalagi terselesaikan secara cepat, saya tetap dengan keyakinan bahwa tidak ada kata “tidak” untuk menyelesaikan persoalan “kebangsaan” itu. Saya tetap yakin, beragam persoalan “kebangsaan” kita sekarang ini tersebut pasti bisa diselesaikan dengan cepat, bila kita semua bertekad, bersatu-padu dan bahu-membahu dalam menyatukan langkah menyelesaikannya. Apalagi, menyelesaikan persoalan-persoalan “kebangsaan” kita itu merupakan tugas yang mulia.

Baiklah, saya memiliki sejumlah pengalaman yang berkaitan dengan – Jangan pernah katakan “tidak” itu. Atau, kata-kata itu bisa juga diganti dengan – Jangan pernah ragu untuk mengatakan “iya” atau “bisa”, terlebih apabila itu untuk sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai perbuatan mulia.

Ini pengalaman tentang menulis buku. Buku yang saya maksud adlah buku “Jurnalistik Dakwah”. Saya bukan bermaksud untuk menunjukkan bila dulu pernah menulis buku ini. Tetapi, saya hanya ingin mengatakan, agar tidak perlu ragu untuk mengatakan “iya” atau “bisa”, dan jangan mengatakan “tidak” buat sesuatu yang sesungguhnya kita mampu melakukannya.

Buku ini diterbitkan Pustaka Pelajar tahun 1995. Saya ingat, ketika itu bulan April 1995, saya singgah ke salah satu kios buku Social Agency (Pustaka Pelajar), di kawsan Shopping Center, Yogya. Di sana saya ketemu bossnya, Cak Mas’ud. Tiba-tiba Cak Mas’ud bertanya, “Mas, jenengan duwe naskah opo? (Mas, Anda punya naskah apa?).”

Saya balik bertanya, “Sekarang sedang trend buku apa, Cak?”

Dia menjawab, “Sekarang sedang trend buku-buku bertema Islam.”

Mendengar jawabannya, saya spontan bilang, “Saya punya Cak, tentang jurnalistik.”

“Jurnalistik? Jurnalistik yang seperti apa?” tanyanya lagi. Mungkin dalam hatinya ia bertanya, apa kaitannya dengan tema Islam?

“Judulnya, Jurnalistik Dakwah!” jawab saya spontan lagi. Saya sendiri heran, kenapa saya bisa spontan menyebut judul buku seperti itu? Padahal sebelumnya sama sekali tak terpikir dengan serangkai kata-kata Jurnalistik Dakwah itu.

“Wah, bagus itu. Ayo, segera bawa kemari naskahnya. Bisa tidak dua minggu ini naskahnya sudah saya terima?” katanya.

Demikianlah, singkat cerita, dua minggu naskah buku itu selesai dan saya serahkan ke Cak Mas’ud. Sebulan kemudian buku itu pun terbit. Lalu, buku tersebut, entah mengapa, menjadi referensi di sejumlah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) pada Fakultas Dakwah IAIN (sekarang UIN).

Kalau boleh jujur, ketika bertemu Cak Mas’ud saat itu sesungguhnya saya belum punya naskah untuk buku tersebut. Saya hanya punya arsip baham ceramah di sejumlah pendidikan atau pelatihan jurnalistik. Kebetulan beberapa waktu sebelumnya saya pernah bicara di pendidikan jurnalistik untuk remaja-remaja Islam. Tapi pertemuan dan sekaligus pertanyaan dari Cak Mas’ud itu buat saya peluang yang belum tentu bisa diperoleh lagi andai tidak menanggapinya.

Dan, judul “Jurnalistik Dakwah” itu pun sesungguhnya hanya asal menyebutnya saja. Di luar dugaan, Cak Mas’ud justru tertarik dengan judul itu, yang menurutnya istilah tersebut belum pernah ada sebelumnya.

Karena waktunya dua minggu (ini juga gaya ‘gila-gilaan’ dari Cak Mas’ud), maka bahan-bahan ceramah pelatihan atau pendidikan jurnalistik itu pun saya kemas menjadi bahan untuk buku, yang tentu harus disangkut-pautkan dengan hal-hal dakwah dalam perspektif Islam. Dalam waktu dua minggu semuanya selesai.

 

Sebuah Kebanggaan

Terlepas dari apa pun, saya merasa bangsa bisa menulis buku Jurnalistik Dakwah itu. Terbayang, andaikata ketika bertemu Cak Mas’ud di tahun 1995 itu saya mengatakan “tidak punya” naskah buku, maka buku Jurnalistik Dakwah itu pun bisa jadi tidak akan pernah terwujud.

Kebanggaan saya yang lain, buku itu kemudian menjadi obyek skripsi sejumlah mahasiswa, di samping menjadi sumber referensi penulisan-penulisan skripsi. Saya sungguh merasa tersanjung dengan tulisan di sebuah skripsi yang ditulis mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga, yang menyebut Jurnalistik Dakwah itu sebagai sebuah gerakan.

Saya kutip sebagian dari apa yang ditulis mahasiswa itu dalam skripsinya:

Jurnalistik Dakwah yang digagas Sutirman Eka Ardhana adalah jurnalistik sebagai sebuah gerakan yang mencakup tiga dimensi, yaitu: gerakan moral, intelektual dan perlawanan. Sebagai gerakan moral, para jurnalis muslim dan para da’i (pada hakikatnya setiap muslim adalah da’i) mengedepankan isu-isu moralitas yang dilandasi nilai-nilai Islam, meskipun kata-kata Islam tidak mesti dilekatkan atau ditampilkan secara menonjol. Untuk memperkuat gema gerakan ini, harus dibarengi dengan perilaku jurnalis muslim sendiri yang harus memberikan teladan yang baik atau memulainya dari diri jurnalis muslim sendiri. Sebagai gerakan moral jurnalistik dakwah harus mendasarkann diri pada nilai moral Islam, yang merupakan landasan keutamaan manusia.

Gerakan jurnalistik dakwah berusaha untuk membebaskan potensi keutamaan yang ada pada setiap orang menjadi kekuatan merubah kondisi sosial masyarakat ke arah lebih baik dengan landasan ahklaqul karimah.

Sebagai gerakan intelektual, jurnalistik dakwah merupakan sarana yang harus dimanfaatkan seefektif dan semaksimal mungkin untuk menyebarluaskan syiar Islam. Dari sudut pandang Islam sebagai ideologi, jurnalis muslim harus mampu memanfaatkan setiap celah kesempatan yang ada untuk mensosialisasikan aqidah dan ajaran Islam serta ide-ide islami kepada masyarakat agar diterima secara luas oleh masyarakat, setidaknya semua lapisan pembaca, yang sedapat mungkin memotivasi masyarakat untuk tidak sekadar menerimanya tapi juga melaksanakan dan menumbuhsuburkan kehidupan islami dalam kultur masyarakat.

(Skripsi: Mustafa Kamil, Kontribusi Sutirman Eka Ardhana Dalam Pengembangan Jurnalistik Dakwah Tahun 1995-2001, Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2001.)

Satu hal lagi, berkat buku itu juga (setidaknya menurut pemahaman saya), saya pun kemudian dipercaya menjadi pengajar di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sejak tahun 2004.

Padahal, jujur, ketika membaca ulang buku itu sekarang, terasa benar kalau buku tersebut ditulis dengan tergopoh-gopoh, dan terkesan sangat tehnis. Doakan, saya ingin merevisinya lagi, agar bisa sesuai dengan perkembangan jurnalistik di era digital ini. Dan, agar jurnalistik dakwah juga mampu menempatkan diri dalam keberagaman kita. Saya berharap, sesederhana atau sekecil apa pun, jurnalistik dakwah bisa ikut berperan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan “kebangsaan” kita.

Jadi, saya sarankan lagi, jangan pernah katakan “tidak” untuk suatu tujuan yang mulia. Ingat, menulis (dalam kontek berkarya) adalah suatu aktivitas yang bertujuan mulia, yakni berbagi pemahaman dan pengetahuan kepada sesama. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *