Sabtu , 8 Agustus 2020
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IV : Indonesia Itu di Sana atau di Sini?

Diskusi Kebangsaan IV : Indonesia Itu di Sana atau di Sini?

Prof. DR. Faruk HT
Kepala Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM

Prof. DR. Faruk HT (ft. Ist)
Sebenarnya sudah kira-kira sebulan yang lalu dalam pidato Dies disampaikan pidato tentang Nasionalisme dan Kebudayaan. Dan, yang saya pakai sebagai pemantik diskusinya adalah “di sanalah aku berdiri”. Kira-kira di mana berdirinya? Jadi kalau kita, “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri”, kira-kira aku itu berdiri di mana? Di Indonesia tanah airku? Atau di sanalah aku berdiri? Kira-kira dia di mana? Dia di sana atau di sini?

Saya dapat lagi tadi, satu lagu yang dinyanyikan. “Tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku rasa senang.” Di mana kira-kira itu berada? Kalau tanah air itu di sana, dia itu di mana? Kalau kampung halaman itu di sana, dia itu di mana? Sebenarnya semua yang kita paparkan, itu semua tentang di sana, bukan di sini. Jadi kalau itu adalah Indonesia yang dipaparkan tadi, kita di mana? Yang nonton itu ada di mana? Itu yang jadi masalah.

Nah, jadi keindonesiaan itu kalau lagu Indonesia Raya ditulis di zaman Belanda, kita masih bisa membayangkan, oh Indonesia masih jauh, masih di sana. Tapi kalau lagu yang kedua, saya kira itu dibuat sesudah kemerdekaan. Ya, “tetapi kampung dan rumahku, di sanalah ku rasa senang”, itu harusnya tidak di sana, tetapi di sini. Tapi nyatanya ditulis, dibuat di sana. Saya kira itu ada dua fakta, dua hal yang penting dari lagu itu. Pertama bisa kita katakan bahwa Indonesia itu masih sesuatu yang ideal. Nasionalisme itu masih sesuatu yang di sana, yang ingin kita capai. Kedua adalah Indonesia itu sudah ada di sini, tetapi kita taruh di sana, karena dia harus kita perjuangkan terus. Sudah kita pegang, tapi tidak terpegang semuanya. Jadi harus terus-menerus diperjuangkan.

Nah, yang susah adalah yang di sini ini. Kalau kita bicara tentang Indonesia, kita tidak bicara tentang di sini, tetapi di sana. Lalu yang di sini itu Indonesia atau tidak. Apakah kita mengingkari kekinian kita sebagai keindonesiaan kita. Kita fokus pada yang di sana, lalu kita mengingkari yang di sini. Padahal selama Indonesia masih di sana, maka dia tidak menjadi bagian dari hidup kita. Kalau dia di sini, baru dia menjadi bagian dari hidup kita. Tetapi kenapa kita mengingkarinya? Kenapa kita tidak ingin lihat?

Di sinilah masalah utama kita. Sebenarnya kita melihat kebangsaan itu, hidup dan terus bergerak. Bukan sesuatu yang di sana, yang kita pujapuja, kita sembah-sembah seperti patung-patung, seperti berhala ataupun seperti apa juga. Mari kita runtut saja, Indonesia itu nyatanya itu tetap atau tidak? Kita memulai misalnya dengan Indonesia pada awal kemerdekaan, Indonesianya itu liberal. Dan warisannya itu warisan Belanda. Lalu sesudah itu Indonesianya berubah menjadi Nasakom, dalam demokrasi terpimpin. Kemudian berubah lagi jadi demokrasi Pancasila. Komponennya secara teritori bertambah Timor-Timur. Jadi tidak hanya pikirannya yang bergerak-gerak tetapi juga fisiknya, teritorinya juga bisa terus bergerak. Lha, lalu Indonesia zaman Gus Dur, otonomi daerah, lain lagi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Pancasila dan Kaum Muda Dewasa Ini

Maka sebenarnya kalau kita bicara tentang Indonesia, nasionalisme Indonesia, itu tidak tetap. Dia harus terus-menerus bernegosiasi dengan konteks yang terus-menerus juga berubah. Sebenarnya itu sudah diantisipasi di dalam, kalau tidak salah penjelasan yang menyebutkan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif. Jadi sebenarnya itu pertanyaan dari dulu, di zaman Sukarno, sejak sebelum kemerdekaan tentang apakah mau cauvinistic, apakah mau lebih terbuka, misalnya. Itu gerakannya antara bebas, aktif, antara nasional, internasional, dan sebagainya terus-menerus terjadi tawar-menawar.

 

TANTANGAN NASIONALISME

Setiap masa ada konteksnya, ada tantangannya yang juga spesifik. Yang sekarang, saya kira ini sudah saya sampaikan dulu di FIB, tantangan terbesar dari nasionalisme adalah gabungan dua kekuatan yang mempunyai satu nama yaitu glokal, yakni globalitas dan lokalitas. Kalau dulu yang globalitas itu sendirian. Jadi yang namanya modernitas, itu sendirian dia. Dia musuh dari lokalitas. Dia tidak hanya bermusuhan dengan nasionalisme, tetapi dia juga mendukung nasionalisme untuk mengganyang lokalitas yang disebut tradisi. Jadi apa saja yang disebut tradisi mesti jelek. Kalau zaman dulu, yang disebut zaman modern itu, tradisi itu pasti jelek, tahayul, kurafat, bid’ah atau apa saja. Jadi cerita-cerita, misalnya novel-novel Melayu Balai Pustaka itu semuanya menjelekjelekkan tradisi.

Sekarang yang global itu bergabung dengan tradisi memusuhi nasional. Memusuhi nation. Nah, indikasi yang efeknya jelas sekali adalah otonomi daerah. Di mana daerah semakin diotonomikan supaya tidak ada mediasi dari nation. Yang global bisa akses langsung ke daerah, Tidak harus berputar ke Jakarta dulu untuk masuk ke Papua. Ini tantangan yang penting dari nasionalisme. Dan tidak hanya tantangan, artinya juga sesuatu yang menuntut perlunya negosiasi lagi. Antara nasionalisme dengan glokal, harus ada pendefinisian kembali, pendefinisian ulang tentang nasionalisme dalam rangka menghadapi dua kekuatan yang bergabung tadi.

Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita bicara nasionalisme, kita menjauhkannya. Hampir sama dengan kalau kita bicara tentang Al-Qur’an, kalau dalam Islam. AlQur’an itu kita junjung tinggi-tinggi, kita taruh di atas kepala, habis itu ditaruh di lemari. Di atas lemari, makin kita junjung, makin jauh dari hidup kita, misalnya begitu. Jadi misalnya, perbedaan antara, anggaplah kalau di dalam agama Kristen, antara Katholik dan Protestan. Di dalam Protestan yang namanya kitab Injil itu sudah menjadi bagian seharihari, sudah dipegang. Dulu dia jauh, dibaca sendiri saja tidak boleh, harus ada yang memperantarai. Kemudian menjadi Protestan, dia dipegang. Nah, jadi makin kita junjung makin jauh.

Ini yang jadi masalah kita. Kalau kita lihat, misalnya Amerika, nasionalisme Amerika itu muncul dalam sehari-hari lewat film, lewat segala macam. Hampir semua film Amerika mengandung nasionalisme Amerika. Tapi bagaimana menjadi menarik? Kalau dia menjadi menarik, dia harus menjadi bagian dari kehidupan. Kalau dia mau jadi bagian dari kehidupan, dia tidak boleh dibedakan, dia harus ada dalam proses. Proses konteks negosiasi, kritik, segala macam. Kalau tidak ada itu, tidak ada dinamika. Kalau tidak ada dinamika, tidak ada yang nonton.

Simak juga:  Derap Kebangsaan XXV: Terjebak Pusaran Minat Baca

Artinya nasionalisme, kalau menurut saya, tidak bisa lagi ditempatkan di masa yang jauh. Lalu kita taruh entah di mana. Jadi, kalau sikap orang yang bila hubungannya dengan agama seperti Islam tadi, karena Al-Qur’an sangat jauh, makin dijauhkan, maka kata orang Jawa, kuwi kan buku, kuwi kan Qur’an, urip ki na nalare dhewe. Hidup punya hukum, punya aturan sendiri. Lalu buku, media punya aturan sendiri. Itu kalau kita pisahkan. Jadi kalau nasionalisme kita taruh di jauh di sana, dia kelihatan agung, dia indah.

Kalau kita mau menjadikan bagian dari kehidupan, maka kita tidak boleh memberhalakan terlalu jauh. Kita harus masukkan nasionalisme itu ke dalam bagian dari kehidupan kita. Dan hidup itu tidak sederhana, sudah konflik, sudah bertengkar segala macam, itu biasa. Kalau kita menghindarkan itu, kita menjauhkannya. Lalu hidup punya aturan sendiri. Nah, ini sebenarnya problem kita dalam mengangkat nasionalisme. Kalau istilah orang Jawa, nasionalisme itu bagian dari “ng”. Hidup itu mengalir, jadi dia bergerak. Bagian “ng”nya pada ngeli. Itu nasionalisme. Tapi “ng” itu apa? Misalnya begitu. Hidup mengalir, dia terus bergerak tapi ditempatkannya “ng”nya itu tidak terlalu kelihatan. Dia tidak dibendakan, tapi ditempelkan pada keli. Jadi “ng”nya itu tak ada di sana, “ng”nya itu lengket pada keli-nya.

 

NGELI

Nasionalisme, kalau mau menjadi bagian dari kehidupan kita, dia harus menyerupai ngeli. Dia tak begitu jelas, tetapi dia ada. Dan dia bisa lentur, menjadi apa saja. Saya kira ini persoalan kita. Kalau membudayakan hubungan antara kebudayaan dan nasionalisme, kebudayaan jangan ditempatkan jauh di sana, tapi kebudayaan hidup pada kita sendiri yang ada di sini, di dalam keseharian kita. Jadi kita bisa menyebutnya sebagai membudayakan nasionalisme, dan sekaligus menasionalkan kebudayaan. Dia merupakan bagian proses kehidupan kita yang terus bergerak.

Jangan menutup mata. Yang sangat berbahaya adalah kalau nasionalisme itu abstrak. Nasionalisme tegelan. Tegelan, karena nasionalisme jauh di sana. Nek mateni wong (Kalau membunuh orang), berkelahi, nasionalisme tidak merasa salah. Karena aturannya beda. Ini yang sebenarnya yang perlu kita pahami kembali, supaya jangan sampai nasionalisme menjadi suatu hal yang abstrak dan terus tegelan pada yang nyata. Kita begitu panik melihat konflik.

Kita begitu panik melihat perbedaan, pertengkaran, hoax dan sebagainya. Seolah-olah dunia ini kiamat. Lalu demi nasionalisme, seringkali kita terjebak pada sikap bisa melakukan hal-hal yang mengingkari kehidupan itu sendiri. **(SEA)

Lihat Juga

Derap Kebangsaan XXVI: Kesimpulan

Diskusi Derap Kebangsaan seri XXVI, yang menghadirkan 3 narasumber, yakni, Idham Samawi, Anggota DPR-MPR RI, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *