Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Indonesia Bakal Mewarnai Peradaban Dunia

Diskusi Kebangsaan X: Indonesia Bakal Mewarnai Peradaban Dunia

Oleh: Drs. H.M. Idham Samawi

Ketika kita berbicara tentang kebangsaan hari ini, menjadi sangat strategis berbicara tentang Persatuan Indonesia, yang dititikberatkan pada kebangsaan. Sila ke-3 dasar negara kita, sila ketiga, ideologi bangsa ini, Persatuan Indonesia. Kita sudah sepakat betul, ketika berbicara Persatuan Indonesia, nasionalisme, tentang kebangsaan Indonesia. Jadi kita bukan seperti nasionalismenya Hitler, Mussolini, tapi kebangsaan nasionalisme yang berada di tamansarinya internasionalisme.

Sejak awal kita sudah sepakat, kebangsaan atau nasionalisme yang berada di tamansarinya internasionalisme, kemanusiaan. Bapak Ibu saudara sekalian, beberapa kali saya diskusi dengan adik-adik di forum BEM, dan seterusnya, tadinya saya sempat kecil hati jangan-jangan nanti ada satu generasi yang hilang ketika berbicara kebangsaan, ketika berbicara nasionalisme. Akan ada satu generasi yang hilang ketika ada keputusan-keputusan yang salah. Ketika tidak sejak pertama, sejak sedini mungkin, ilmu bumi  diajarkan oleh guru, bahwa negeri ini dari Sabang sampai Merauke itu luas sekali, dari Miangas ke pulau Rote itu luas sekali. Di seminar-seminar saya mencoba membandingkan kalau kita naik pesawat terbang dari Jakarta ke Tokyo, Jakarta itu Ibukota Indonesia, Tokyo itu Ibukota Jepang, membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam tergantung apakah kita melawan angin atau didorong angin, tapi selisihnya mungkin hanya 15, 20 sampai 30 menit saja. Itu dari Jakarta ke Tokyo 7 jam, minimal harus lewat 4 negara. Di atas 4 negara baru kita sampai. Nah saya tanya kepada adik-adik, biasanya mahasiswa audien saya, kalau kita naik pesawat terbang yang sama dari Sabang sampai Merauke, itu membutuhkan waktu sembilan jam, di atas berapa negara? Kadang-kadang masih ada yang mikir, satu negara, dari Sabang sampai Merauke itu satu negara, membutuhkan sembilan jam dibanding tadi Jakarta—Tokyo tujuh jam, melintasi minimal empat negara.

Negeri yang gedhe banget, yang jumlah penduduknya hari ini urutan nomer empat di dunia setelah Uni Soviet cerai-berai, tadinya kita nomer lima, sekarang nomer empat, negeri yang luar biasa sekali, jumlah penduduknya nomer empat di dunia, luas wilayahnya luar biasa sekali, dan yang luar biasa sekali lagi, untaian zamrud di khatulistiwa, apa yang tidak kita miliki dari sumber daya alam kita. Apa yang tidak kita miliki? Gas, minyak, hutan, batubara, mineral, dan sebagainya di dalam perut bumi, dan di atas perut bumi, hutan dan sebagainya. Dan bangsa ini punya persyaratan untuk menjadi negara adidaya, jumlah penduduk, luas wilayah, sumber daya alam, jadi harus dibangun dengan original ideology. Apa itu? Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat/Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Original ideology.

Itu salah satu persyaratan bangsa itu bisa mewarnai peradaban dunia, itu selain jumlah penduduk yang luar biasa, luas wilayah, sumber daya alam, dia juga harus punya original ideology, Pancasila tadi. Guyon saya kemarin Pancasila kita, masih kita tempatkan jadi kayak barang sakti, ditempatkan di bawah pohon besar, yang sakral, lalu setiap Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon dibakari kemenyan, ditaburi bunga, dijadikan Jamus Kalimasada, dan sebagainya. Itu bagian dari pembodohan, saudara sekalian. Mestinya harus kita tempatkan sebagai working ideology. Ideologi yang bekerja bukan di awang-awang. Saya sering juga menyampaikan bahwa Bung Karno ngendika, bahwa kerajaan cikal bangsa ini, kerajaan di Indonesia ini, yang punya bobot state, negara itu hanya dua, Sriwijaya dan Majapahit. Sriwijaya itu 1.400 tahun yang lalu, kalau kita hitung abad ini, Majapahit tujuh ratus tahun yang lalu. Siklusnya itu tujuh ratus tahunan, ternyata. Nah Sriwijaya itu wilayahnya sampai Thailand, Singapura, Malaysia, dan seterusnya. Tidak hanya Sabang Merauke, nuswantara itu tadi, nuswantara ketika itu ya tadi meliputi ke Thailand dan seterusnya. Lalu tujuh ratus tahun kemudian diulangi lagi oleh Majapahit, yang bahkan tidak hanya Thailand, Singapura, Malaysia, dan seterusnya, sampai Madagaskar, Afrika. Nah kalau tidak salah itu buku yang saya baca, katanya dulu kalau perdagangan antar negara, di jaman Majapahit, kalau dia ingin selamat maka harus mendapatkan pengawalan dari armadanya Majapahit. Luar biasa betul, ketika itu. Nah siklus ini tujuh ratus tahunan. Abad dua puluh satu, itu genap siklus tujuh ratus tahun, apa iya kita nanti akan kembali mewarnai peradaban dunia, karena siklus tujuh ratus tahunan itu jatuhnya abad dua puluh satu ini.

Dalam satu seminar saya bicara begini ada satu audien yang memaksakan untuk minta bicara, dia mengatakan, Pak Idham, mohon maaf hari ini saudara kita jadi batur di Malaysia, di Hongkong, di Saudi, dan seterusnya. Masak abad ini kita mau mewarnai peradaban dunia. Seperti yang tujuh ratus tahun lalu yang Majapahit, seribu empat ratus tahun yang lalu Sriwijaya, wong sekarang itu tadi anak bangsanya dadi batur di negeri orang. Lalu hari ini kalau lima sepuluh tahun lalu orang mau mengganti Pancasila itu ngomongnya sambil takut-takut begitu, sambil di bawah tanah kira-kira, tapi hari ini sudah pasang badan, saya mau mengganti Pancasila, saudara sekalian. Lha masak kita mau mewarnai peradaban.

Waktu itu ya asal njawab saja saya, saya sampaikan begini, ketika Isa Al Masih akan turun, dajjalnya, buta-butanya wooo, luar biasa sekali, ketidakadilan dan seterusnya. Begitu juga ketika Rasulullah SAW mau diturunkan oleh Allah SWT, bahkan budaya di sana, kalau seorang ibu melahirkan seorang anak di Arab Saudi sana, itu kalau melahirkan anak perempuan, di tanam hidup-hidup. Peradabannya sudah luar biasa. Dajjalnya dan sebagainya tadi, ketidakadilan dan sebagainya. Begitu juga budaya kita, pewayangan kita, Arjuna itu kalau mau keluar, maka buta terong, buta Cakil, buta-butanya luar biasa. Nah kalau kedajjalan, ketidakadilan itu semakin luar biasa, justru kita sudah mendekati saat di mana kira-kira satriya piningitnya itu akan muncul dan akan membawa Indonesia Raya kita kembali mewarnai peradaban dunia. Saya berbicara ini apa, terutama saya tujukan kepada adik-adik saya, kalau umur saya enam puluh tujuh tahun, mungkin saya tidak akan menangi Indonesia kita yang mewarnai peradaban tadi, tapi saya haqul yaqin, itu akan sampai, pada saat ini. Nah siklus tujuh ratus tahun tadi, kenapa tidak. Saudara sekalian, hari ini mulai ditemukan emas di Kabupaten Seluma Bengkulu, ditemukan emas di Sumbawa, Muara Teweh dan seterusnya.

Nah ini mudah-mudahan ya mudah-mudahan saya keliru, dan mohon maaf kalau, saya tidak punya dasar yang kuat, untuk menyangga mata uang dollar Amerika, sekali lagi mohon maaf, tidak untuk pemberitaan, itu semua dollar di Amerika itu dijamin dengan emas. Emasnya itu disimpan oleh Federal Riset Amerika. Ini sekali lagi katanya, saya tidak punya bukti. Jadi emas yang ada di Freport itu baru satu gunung. Ini kan yang mau dimulai dieksplor gunung yang berikutnya. Padahal ini gunungnya banyak sekali. Nah katanya, itu emas yang disimpan oleh Federal Riset Amerika untuk menjamin dollar yang beredar di seluruh dunia, tidak sampai sepertiganya yang ada di perutnya yang di Freeport Papua tadi. Bayangkan, kalau rupiah kita disangga dengan dollar yang tadi, dua pertiganya, bayangkan, dibeli Amerika, luar biasa. Kenapa tidak.

Kita masih lakukan kajian habis-habisan, bahwa dari sekian ratus pengelolaan sumber daya alam Indonesia, apakah itu yang mengelola gas, minyak, batubara, dan sebagainya. Nyaris kok ini yang terbanyak kontrak karyanya dengan asing, yang blok Mahakam kapan itu habis, Marshela sebentar lagi Freeport. Kalau tidak salah sampai tahun dua ribu sembilan belas ini yang harus dibahas, tujuh kontrak karya yang habis. Tapi sampai dua ribu dua puluh empat, itu dua puluh tiga kontrak karya dari seratus lebih. Nah ini saya dan tim sedang melakukan kajian, itu kan bagi hasilnya jelas, di kontrak karya itu sekian persen, dibawa mereka sekian persen, tinggal di Indonesia untuk kita, lalu setiap kali dia melakukan penelitian, begitu berhasil nanti semua itu harus ditanggung oleh yang bagi hasil tadi, sebelum dibagi hasil untuk Indonesia. Hal ini untuk kami, itu dikurangi dulu biaya penelitian-penelitian dia. Nah, yang dibawa keluar ini angkanya di atas tiga ribu trilyun setahun. Nah kalau itu tidak keluar, maka APBN kita lima ribu trilyun setahun. Sekarang dua ribu trilyun kayak begini. Lha lima ribu trilyun kita bisa bayangkan, kayak apa itu.

Ilustrasi kecil, F-16 pesawat tempur paling canggih, itu harganya kurang dari 1 trilyun. Nah kalau tadi menjaga kedaulatan ini dan sebagainya dari negara yang diperhitungkan oleh peradaban tadi kita misalnya syaratnya harus punya seribu tipikel F-16, ora nganti sewu trilyun, barang kecil itu. Kapal induk dan sebagainya. Jadi ini saya khususkan pada adik-adik saya yang mahasiswa. Terus terang saja, anda saya provokasi begitu, tanda kutip. Nah syaratnya itu tadi, ketika berbicara soal bagaimana persatuan Indonesia, kebangsaan tadi, negeri ini gedhe, negeri ini kaya, lebih konyol lagi apa, tahu nasionalisme, karena nasionalisme, kebangsaan, itu tidak bisa datang begitu saja dari langit. Tidak bisa. Memang harus ditanamkan sedini mungkin. Gak bisa begitu saja dari langit, karena apa, syarat salah satu tadi bicara soal nasionalis, kebangsaan, itu adalah cinta kepada tanah air. Ketika dia bangga dengan tanah airnya, ketika dia bangga bangsanya, maka nasionalisme itu akan tumbuh dan sekali lagi, itu tidak bisa datang dari langit. Harus dimulai, bukan hanya dari SD tetapi dari PAUD. Belajar nasionalisme harus dari sejarah. Guru saya dulu orang Batak, tapi beliau sangat mengerti tentang Sultan Agung dan seterusnya. Nah saudara-saudara sekalian, seorang guru saya yang Batak, bisa meyakinkan saya bagaimana seorang Sultan Agung, begitu logika saya mulai berjalan, lalu saya cari makamnya, siapa to ini, saya mencoba mencari bukunya, dan seterusnya, luar biasa sekali orang ini, saya khawatir, era milenial ngapain, bicara tentang Sultan Agung, tentang Tuanku Imam Bonjol, dan seterusnya, ngapain katrok itu, dan seterusnya. Karena apa, kita salah urus sejarah, ini amat fatal. Saya masih bersyukur ketika SR saya dapat itu, lalu saya berharap misalnya yang satu Angkatan di Indonesia ini yang sekarang ini di bangku SD, sebut saja sekian misalnya ada dua puluh juta, jangan harap semua mengerti, memahami, dan akan terpatri, tapi kalau bisa satu persennya dari dua puluh juta, bersyukurlah kita, ini yang satu persen dari dua puluh juta nanti akan jadi pemimpin yang paham betul bagaimana berbicara Indonesia dan bagaimana berbicara cinta kepada tanah air. Karena apa, pemimpin kalau dia tidak didasari pada cinta kepada tanah airnya, cinta kepada bangsanya, kalau jadi pemimpin bangsanya, akhirnya akan digadaikan. Kalau dia tidak mencintai bangsa dan tanah airnya.

Padahal kita sepakat, negeri ini adalah negeri yang luar biasa kayanya. Saya khawatir ini semua by design, karena apa, fatsunnya kalau kita ingin menjajah suatu negara, maka hancurkan dulu ideologinya. Kalau kita ingin menghancurkan suatu ideologi, potong dulu sejarahnya. Itu fatsun yang berlaku. Suka gak suka seperti itu. Adik-adik kita mana ada yang tahu, kenapa kok kemarin Presiden memutuskan hari lahirnya Pancasila satu Juni satu sembilan empat lima, kenapa kok rumusan satu Juni, dua puluh dua Juni, kenapa kok yang dua puluh dua Juni itu di belakang Ketuhanan ada tujuh suku kata, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Kenapa kok ada tujuh suku kata itu. Lalu kenapa kok finalnya delapan belas Agustus menjadi Ketuhanan YME, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bagaimana kita mau mematrikan di dada kita, di sanubari kita, kalau kita tidak mengetahui itu. Pancasila itu darimana, kenapa kok lima ini, kok tidak yang lain? Kenapa kok yang lima ini? Saya khawatir juga di ruangan ini banyak yang gak tahu juga kenapa kok lima ini? Kok kita tidak niru saja, declaration of independence-nya Amerika United State, negara sing wis cetha mewarnai peradaban selama sekian ratus tahun, kenapa kok kita tidak pakai ideologi dia saja, kenapa kok kita tidak pakai ideologinya maaf, Tiongkok, yang basisnya manifesto komunis, yang sekarang ini menjadi the rising star, sing negeri bisa ngutangi Amerika, itu Tiongkok, China, dan sempat Amerika minta supaya utangnya di China yang sudah jatuh tempo supaya pembayarannya bisa ditunda. Luar biasa sekali, kenapa kok kita tidak ikut ideologi dia, wis cetha. Amerika sudah jelas mewarnai peradaban ini sekian lama. Tiongkok the rising star dan sebagainya. Karena ini Indonesia, ini kita tidak pernah diberikan pemahaman disandingkan antara Pancasila dengan declaration of independence, misalnya, dan seterusnya ideologi yang lain. Sehingga apa memang tidak ada yang lain, bagi Indonesia ya Pancasila, tidak ada yang lain. Itulah Indonesia. Tadi saya sempat menyampaikan di awal tadi, Uni Soviet yang dibangun kurang dari seratus etnis, suku, kurang dari seratus bahasa, kurang dari seratus budaya, cerai-berai. Yugoslavia, yang dibangun kurang dari tiga puluh suku, bahasa, budaya, cerai-berai. Kita yang dibangun lebih dari seribu bahasa, lebih dari seribu budaya, lebih dari seribu suku, dan menurut saya hanya Pancasila yang mampu mempertahankan NKRI kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Saya siap diskusi tiga puluh hari tiga puluh malam, dengan siapa saja, ayo kalau ada, selain Pancasila ini yang bisa menyatukan Indonesia kita, ini walaupun sebetulnya gak baik, saya sampaikan di sini karena untuk kepentingan, saya cuma kasih semangat kepada adik-adik mahasiswa ini, ketika saya ditugasi untuk berdiskusi dengan Gubernur Aceh terpilih, mantan juru bicara GAM, waktu itu saya sampaikan kepada beliau, Pak Irwan Yusuf, Pak Irwan ini dengan beberapa kepala daerah dari Aceh, pimpinan DPRK dari Aceh, saya tanyakan begini, apa sih alasan anda ketika itu bersama teman-teman anda mengangkat senjata bahkan mempertaruhkan nyawa anda untuk mengubah yang lima itu. Ketuhanan YME sampai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Apa salahnya lima ini, karena kan mereka ini basisnya Islam, teman—teman ini. Apa salahnya lima ini terhadap Islam, kenapa anda mengangkat senjata, anda mempertaruhkan nyawa untuk mengubah yang lima ini.

Lalu menurut Islam, tolong saya diberi pemahaman, dari lima ini yang tidak sesuai dengan Islam yang mana, yang harus dibuang. Atau dari sisi Islam, lima ini yang kurang apa? Tolong, tapi tentunya kita tidak bicara mengenai Saudi Arabia, tidak bicara tentang Jazirah Arab, tapi kita bicara tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya sampaikan, tolong dikoreksi kalau saya keliru. Di Islam, yang saya tahu, Ketuhanan YME itu bicara mengenai Tauhid. Coba saya jelaskan sedikit. Bicara tentang Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, itu di Islam berbicara tentang Ukhuwah Insaniyah, persaudaraan antar umat manusia, sesama anak turunnya Adam dan Hawa, Persatuan Indonesia itu di Islam, kalau saya gak salah, tolong dikoreksi, ukhuwah wathoniyah. Persaudaraan dalam satu kebangsaan. Saya jelaskan sedikit, lalu setelah itu, yang keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, tolong carikan saya surat di Al-Qur’an yang menyatakan Islam mengenal one man one vote, dan sebagainya, tolong carikan, kalau ada, ndak ada. Yang dikenal di Islam itu hanya musyawarah, hanya kita saja yang hari ini menggila, kita tinggalkan sila keempat ini, jadi kita pakai ukuran demokrasi apa, demokrasi asu gedhe menang kerahe, hari ini, iya. Itu yang sama sekali bertentangan dengan ideologi dasar negara kita, lalu bicara mengenai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya katakan, Islam itu berpihak, berpihak kepada siapa yang tertindas, teraniaya, termarjinal, siapa itu? Simbolnya di Al-Qur’an yatim, miskin, dhuafa, dan seterusnya. Pancasila sama berpihak kepada siapa, yang tertindas, teraniaya, termajinalkan, Bung Karno mengatakan itu marhaen, Bu Mega mengatakan itu wong cilik. Tapi prinsipnya sama. Setelah saya bicara hampir dua jam, saya minta mereka menanggapi, tidak ada satu pun, saya jelaskan juga mulai satu Juni, dua puluh dua Juni sampai delapan belas Agustus, perjalanannya Pancasila itu, tidak ada satu pun, saya paksakan, ndak adil dong, saya bicara hampir dua jam, masak anda sama sekali, nah akhirnya Pak Irwandi maju, dia mengatakan Pak Idham, terus terang baru hari ini saya mendengar dari Bapak. Nah itu yang saya katakan ya, bahwa ada kesalahan dari bangsa ini ketika apa, banyak hal yang kemarin sempat ndak tahu alasannya apa, dibumikan, dan lebih parah lagi ketika bicara tentang pendidikan, intinya saya ingin menyampaikan, ya bangsa ini harus kembali ke jalan yang benar, dengan apa, tadi, oh ini sekarang eranya sudah era milenial, gak perlu lagi dia tahu tentang Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Tuanku Imam Bonjol, dan sebagainya, oh salah besar, justru dari situ membangun cinta tanah air, membangun kepada cinta bangsanya. (ASW)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XV: Bangsa Ini Harus Banting Stir Kembali ke Pancasila

KH Muhammad Jazir ASP, Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta ALHAMDULILLAH, meskipun terlambat, karena masih banyak tugas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *