Beranda » Peristiwa » In Memoriam Rosandi Rudhatan Meninggal Di Medan Intelektual

In Memoriam Rosandi Rudhatan Meninggal Di Medan Intelektual

Orang yang bergulat dibidang intelektual termasuk wartawan, dalam hal ini Rosandi Rudhatan,  meninggal di medan intelektual di ruang diskusi di Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, mengingatkan kita pada Romo Mangunwijaya yang juga meninggal di medan intelelektual di ruang seminar. Hal yang sama juga dialami Soedjatmoko, seorang cendekiawan terkemuka meninggal di medan intelektual pada saat sedang menjadi narasumber dalam diskusi di Yogyakarta.

Seorang intelektual yang meninggal di medan intelektual merupakan panggilan yang terhormat, seperti seorang pendekar yang mati di medan laga. Pendekar intelektual menuju tempat akhirnya dari ruang  intelektual bersama dengan para intelektual lainnya.

Rudhatan (65 tahun) meninggal relatif cepat, justru pada saat dia mengikuti Diskusi Kebangsaan yang diselenggarakan oleh PWSY bekerjasama dengan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Pada sesi dialog, dia sempat bertindak sebagai penanya pertama, tapi setelah sekitar 15 menit, sesudah pertanyaannya dijawab oleh narasumber, Rudhatan berjalan dari tempat duduk dan sempat bersandar di dinding, lalu terjatuh, dan meninggal sebelum sampai rumah sakit.

Ketika masih muda, tahun 1970-an, Rudhatan, demikian panggilannya dari nama lengkap Rosandi Rudhatan, rajin menulis puisi dan ikut dalam Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi. Puisi-puisinya, pada waktu itu dimuat disejumlah media cetak, di antaranya Sinar Harapan, Harian Masa Kini dan sejumlah media cetak lainnya.

Tapi rupanya, jurnalistik lebih menarik untuk digeluti, meski tidak melupakan karya sastra. Pada masa muda, Rudhatan mengawali karier jurnalistik dari beberapa media di antaranya Ekesponen, majalah Djaka Lodhang, dan terakhir di harian Berita Nasional sampai berganti nama harian Bernas, yang dikelola Kelompok Kompas Gramedia, sampai akhirnya dia memilih menjadi guru, karena dua bidang profesi: wartawan dan guru tidak bisa dia geluti bersama, bukan karena dia tidak mampu, tapi Perusahaan Pers di mana dia bekerja memiliki kebijakan seorang wartawan tidak boleh merangkap pekerjaan lain.

Rudhatan, akhirnya memilih menjadi guru sampai pensiun. Dia mengajar bahasa Inggris. Tetapi, aktivitas menulisnya tidak berhenti. Bahkan di era serba on line dia memasuki dunia on line, dan dikenal memiliki ‘keahlian’ dibidang itu, sejumlah buku yang menyangkut bisnis on line telah dia tulis dan diterbitkan.

Pergaaulan dengan watawan, lebih-lebih wartawan seangkatannya masih terus dijalin, dan dia ikut satu komunitas wartawan senior yang dikenal dengan nama Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY). Di Komunitas ini dia kembali bertemu dengan teman-teman wartawan dari berbagai surat kabar, sehingga Rudhatan seperti ‘menemukan’ kembali sahabat-sahabatnya yang selama ini jarang berkomunikasi.

Pada saat upacara pemakakan sedang dilakukan di kediamannya Perumahan Condong Catur, Depok, Sleman, sahabatnya Arief Joko Wicaksono, seorang wartawan dan penyair yang kini tinggal di Jakarta, melalui akun facebooknya mengunggah puisi karya Rudhatan yang pernah di muat di media cetak, termasuk yang dimuat di Sinar Harapan, di mana Arief sebagai redaktur disitu. Puisi-puisi yang diunggah itu, dan ditulis tahun 1970-an mengingatkan masa kepenyairan Rudhatan.

Sebagai penyair, Rudhatan memang belum pernah tampil membacakan puisi karyanya di Sastra Bulan Purnama di Tembi Rumah Budaya, tetapi bukan berarti dia tidak pernah mengenal Sastra Bulan Purnama. Dalam satu momentum pertemuan, setelah sekian tahun tudak  berjumpa, ia mendekati dan mengajak salaman:

“Mas Ons, lama kita tidak berjumpa, tapi aku mengikuti Sastra Bulan Purnama dari dunia digital’ kata Rudhatan.

Lalu, suatu kali, Rudhatan meluncur ke Tembi Rumah Budaya dan mengajak berbincang di Pulosegaran, satu restoran yang terletak di kompleks Tembi Rumah  Budaya, agak lama kita berbincang sekitar satu jam, dan dia ingin membuatkan website Sastra Bulan Purnama.

“Aku tertarik kegiatan sastramu, bagaimana kalau saya buatkan website Sastra Bulan Purnama?” Rudhatan menawarkan.

Disain website sudah mulai dibuat, dan setiap kali akan bertemu untuk membicarakan isi website selalu saja waktunya tidak cocok, sehingga beberapa bulan pertemuan itu tertunda terus, sampai dia meninggal Selasa, 22 Agustus 2017 keinginan bersama tersebut belum pernah terwujud.

Kini, Rudhatan telah pergi’ Selamat jalan kawan. (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Dialog

RAISA: Pemilu Perlu ditinjau Lagi Aturannya Perkenalkan nama saya Raiza dari HMI, kuliah di Fakultas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *