Beranda » Sastra » ‘Ia Masih Bocah’ Dibacakan Landung Simatupang
Landung Simatupang

‘Ia Masih Bocah’ Dibacakan Landung Simatupang

Landung Simatupang
Untuk yang kesekian kali Landung Simatupang tampil di Sastra Bulan Purnama. Kali ini dia membaca cerpen karya Bakdi Soemanto, yang berjudul “Ia Masih Bocah’. Landung membaca tanpa iringan musik, namun kemampuannya sebagai aktor, yang tak lagi diragukan mampu menghidupkan kata demi kata. Setiap kali membaca, puisi, cerpen atau penggalan novel, Landung seperti menyihir orang yang melihatnya.

Jarum jam sudah menunjuk angka 22.15, ketika Sastra Bulan Purnama edisi 71, masih menampilkan Krisna dan Woody membacakan cerpen karya Bakdi Soemanto, padahal masih tampil seorang pembaca lagi, yakni Landung Simatupang, yang akan membacakan cerpen berjudul ‘Ia Masih Bocah’ karya Bakdi Sumanto, Selasa, 8 Agustus 2017 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya.

Sekitar pukul 22.20 Landung Simatupang mulai tampil membaca cerpen karya Bakdi. Penoton masih setia menunggu, meskipun sudah ada yang meninggalkan ruang pertunjukan, dan penonton yang duduk-duduk diluar panggung sambil menikmati bakmi Jawa, gorengan dan wedang secang, ketika Landung mulai tampil membaca sekailgus untuk closing Sastra Bulan Purnama edisi 71, berpindah memasuki ruang Amphytheater Tembi Rumah Budaya.

“Mestinya, puncak dari pertunjukan malam ini pada Krisna dan Woody, apalagi waktu sudah mulai malam, namun saya mencoba akan tetap membaca cerpen karya mas Bakdi, mudah-mudahan teman-teman masih bisa bertahan duduk,” kata Landung mengawali, dalam intensi yang rendah hati.

Setiap tampil, Landung selalu terlihat santai, emosinya sungguh terjaga, namun penghayatan karakter tokoh dalam cerpen kuat dan konsisten, sehingga kapan berpindah dialog antara tokoh anak, bapak dan ibu, menampilkan suara tokoh-tokoh tersebut, sehingga pendengar bisa mempunyai gambaran mengenai tokoh yang sedang diperankan dalam dialognya.

Ketika seorang anak sedang berbicara, suara Landung mengambil peran seorang anak, dan ketika yang berbicara seorang perempuan, suara Landung suara perempuan, sehingga dialog dalam cerpen ‘Ia Masih Bocah’ terlihat terasa hidup.

Yang selalu mengherankan, hadirin  menyimak kapan Landung membaca. Suasana diam, hening mendengarkan Landung membacakan kata demi kata, dan berpindah dari satu karakter ke karakter lain. Mimik mukanya berubah-ubah mengekspresikan kalimat-kalimat yang dia bacakan disertai gerak-gerak tangan.

Dari penampilan Landung Simatupang kata-kata menjadi hidup. Kata-kata tidak lagi beku dan sepi. Alur cerpen seperti membuka ruang bagi penonton untuk terus mengikuti Landung membaca, dan terkadang, pada satu titik tertentu, tertawa, karena Landung seringkali bisa mengekspresikan hal yang lucu, meskipun situasinya terkadang tidak lucu.

“Ons, supaya tidak semua membaca puisi, saya akan membaca cerpen karya mas Bakdi Soemanto, paling lama waktunya sekitar 15 menit” kata Landung jauh-jauh hari, ketika diinformasukan para pembaca kebanyakan membaca puisi.

Dari pilihan cerpen karya Bakdi Sumanto tersebut, setidaknya Landung Simatupang sekaligus memberi tahu pada publik, bahwa Bakdi Sumanto selain menulis puisi juga menulis cerpen. Bahkan rupanya juga menulis geguritan. Sejumlah cerpen Bakdi memang sudah diterbitkan, setidaknya menunjukkan, meskpin Bakdi dibelit rutinitas kerja sebagai pengajar di Fakultas Ilmu Budaya UGM, tetapi masih memiliki waktu untuk menulis karya sastra, baik berupa cerpen, puisi maupun kritik sastra, bahkan naskah drama.

Dan ‘Ia Masih Bocah’ yang dibawakan Landung Simatupang dalam Sastra Bulan Purnama edisi 71, sungguh  mengingatkan pada Bakdi Sumanto, yang memiliki kekuatan dalam menulis cerpen, dan Landung menghidupkannya melalui pentas baca.

Ketika Landung selesai membaca, jarum jam sudah lewat dari angka 22.30, dan hadirin menyimak sampai selesai, bahkan masih berbincang-bincang ketika Landung selesai membacakan cerpen berjudul ‘Ia Masih Bocah’.

Landung, ya Landung, selalu siap kapan dan dimaanapun tampil. Joss.(*)

Lihat Juga

Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang yang dipimpin Sulis Bambang, seorang perempuan penyair yang bukunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *