Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Hujan Deras Di Tengah Tarian Hujan

Hujan Deras Di Tengah Tarian Hujan

Sastra Bulan Purnama edisi 65, yang mengambil tajuk ‘Puisi Dalam Tarian Hujan’ telah dilangsungkan Jumat malam, 10 Februari 2017. Hujan deras yang mengguyur Yogya dan disertai angin, seperti memberi konteks pada Sastra Bulan Purnama, yang diisi dengan lanching antologi puisi dengan judul ‘Tarian Hujan’ karya Jane Ardaneshwari.

“Antologi puisiku ini seperti memanggil hujan’ kata Jane Ardaneshwari berkelakar.

Hujan yang tak kunjung reda, meski jarum jam sudah menunjukkan angka pukul 20.00 dan SBP –Sastra Bulan Purnama—dimulai pukul 20.30. Dalam hujan deras, penonton yang hadir sekitar 50 orang, tentu tidak seperti biasanya, yang bisa dihadiri 100 orang, bahkan lebih.

Jane, tentu tidak membaca sendiri, dia membaca besama dengan pembaca puisi lainnya, dan kebanyakan perempuan. Tidak ketinggalan, Landung Simatupang, aktor teater dari Yogya ikut tampil membaca berdua bersama dengan Jane, bahkan selang-seling dalam membaca.

Pembacaan puisi ‘Tarian Hujan’ memang dipadu dengan tarian yang dilakukan oleh Enji,. Sebagai tarian pembuka dan tarian closing, dilakukan Endah Sr, yang menarik sambil membaca puisi, dan Endah cukup kreatif, puisi yang dia bacakan sudah direkam, sehingga sembari menari diiringi pembacaan puisi yang sudah direkam.

 

 

Karena, puisinya ditulis dalam dua bahasa, maka puisi yang dibacakan puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Choen Supriyatmi, Gendis Prawesti dan Landung membacakan puisi dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Tapi Ami Simatupang khusus membaca puisi dalam bahasa Inggris.

Para pembaca puisi, membaca puisi secara bergantian, tetapi tidak mengawali dengan pengantar, Begitu pembaca puisi pertama tampil membaca puisi dan dilanjutkan pada pembaca puisi berikutnya dan mengalir, di tengah ‘aliran acara baca puisi’ Rimawan Ardono, atau biasa dipanggil Donas, tampil mengalunkan dua lagu ’14 Mei 1998’ dan ‘Tarian Hujan’. Pada lagu Tarian hujan dipadukan dengan pembacaan puisi oleh Gendis Pawestri dengan judul puisi yang sama.

Simak juga:  Perpaduan Gitar, Kendang dan Gong Beri di Sastra Bulan Purnama

Permainan musik Donas, dengan memetik gitar akustik yang dipadukan dengan pukulan kendang dan gong beri oleh Otok Bima Sidharta pada lagu ‘Tarian Hujan’, pertunjukan terasa hidup dan menarik. Puisi ‘ Tarian Hujan’ karya Jane menjadi terasa istimewa dilagukan dengan sentuhan musik modern dan tradisional.

Padahal Otok hanya secara spontan ikut mengolah lagu puisi yan sudah digarap. Pada latihan hari Kamis malam 9 Februari 2017 di museum Tembi Rumah Budaya, Otok secara oral mengeluarkan suara cethak-cedhuk ketika melihat Donas mengalunkan lagu Tarian Hujan diiringi petikan gitar.

Pada pagi hari sekitar pukul 05.00 melalui WA Otok mengirim pesan, kalau nanti mau mengirim Gong Beri untuk pentas Sastra Bulan Purnama malam harinya, dan sore sekitar pukul 18.00 beberapa jam sebelum pentas, Otok dan Donas latihan memadukan gitar akustik dan pukulan kendang serta gong beri. Hasilnya, joss, permainan musik keduanya, menambah puisi ‘Tarian Hujan’ terasa sangat hidup.

Semua pembaca, mungkin sehari sebelumnya sudah latihan bareng dengan Landung Simatupang, tampil dengan bagus, apalagi setiap penampil mengenakan pakaian perpaduan etnik, sehingga menambah puisi karya Jane, yang sudah lembut menjadi tambah enak untuk di dengarkan. Padahal puisi Jane, merupakan jenis puisi kamar, yang tidak mudah untuk dibacakan dipanggung.

“Puisi Jane ini adalah jenis puisi kamar, bukan puisi panggung, sehingga tidak mudah untuk dibacakan” kata Landung memberi nasehat pada para pembeca puisi dalam sesi latihan sehari sebelumnya.

Dan, meski puisi kamar, hujan yang tak kunjung berhenti di luar, puisi dalam antologi ‘Tarian Hujan’ terus dibacakan secara bergantian, seolah untuk menyapa hujan yang membingkai di luar ruangan.

Kali ini, Sastra Bulan Purnama 65, dilewati dengan rasa nikmat yang basah oleh air hujan. (*)

Simak juga:  Perpaduan Gitar, Kendang dan Gong Beri di Sastra Bulan Purnama

 

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.