Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » Memburu Buku-buku Lama (1) : ‘Harta Karun’ itu Ditemukan di Pengepul Kertas Bekas

Memburu Buku-buku Lama (1) : ‘Harta Karun’ itu Ditemukan di Pengepul Kertas Bekas

Tidak setiap orang mengerti arti dan manfaat buku. Dan, tidak setiap orang pula mampu ‘menghargai’ buku sebagai sesuatu yang berharga. Padahal bagi saya, buku adalah ‘harta’ yang tak ternilai harganya. Buku merupakan segala-galanya. Buku adalah ‘harta karun’. Tak hanya sebatas itu. Buku juga merupakan ‘jendela dunia’. Karena dengan buku, saya mampu melihat dan ‘menjelajahi’ dunia sampai ke pelosok-pelosok tersembunyi sekalipun.

Sebagai penggemar buku, terlebih buku-buku lama dan langka, saya seringkali sedih bila menyaksikan tumpukan buku-buku lama dan usang yang dijual secara kiloan di pedagang-pedagang rongsokan dan kertas bekas. Betapa menyedihkan, harta karun itu kemudian akan berubah menjadi bubur kertas setelah didaur ulang lagi di pabrik pengolahan kertas.

Padahal tak jarang di tempat pengepul barang-barang rongsokan dan kertas bekas itu ditemukan buku-buku lama yang ‘berharga’. Saya punya pengalaman, beberapa tahun lalu saya pernah mendapatkan sebuah buku ‘berharga’ di sebuah pengepul koran dan kertas bekas yang berlokasi tak jauh dari Pasar Beringharjo, Yogyakarta.

Buku itu saya sebut berharga, karena buku itu adalah sebuah antologi puisi sekitar 147 penyair dunia yang dikumpulkan oleh Louis Untermeyer. Buku itu berjudul “Yesterday and Today: A Comparative Anthology of Poetry” terbitan Harcourt, Brace & World, Inc, New York, Chicago, Atlanta, Dallas, Burlingame, AS, tahun 1926.

Saya merasa yakin, di negeri kita buku itu jumlahnya tentu sangat terbatas, bahkan mungkin bisa juga disebut langka, karena tak banyak orang yang memilikinya. Kalau saja tidak menemukan buku itu dan kemudian membelinya, saya tentu tidak pernah mengenal nama-nama penyair Barat seperti Austin Dobson, Elizabeth Barrett Browning, Christina Georgina Rossetti, Thomas Hardy, Nathalia Crane, James Stephens, Vachel Lindsay, dan seratus nama lebih lainnya. Ada beberapa penyair yang nama dan karyanya memang sudah sempat saya ‘kenal’ sebelumnya. Seperti, Emily Dickinson, Ralph Waldo Emerson, Edgar Allan Poe, Francis Thompson, TA Daly dan lainnya.

Simak juga:  Memburu Buku-buku Lama (2) : Novel Penulis Singapura Itu Terinjak Sandal

 

Sedjarah Penerbangan

Beberapa tahun lalu, saya juga punya pengalaman menarik ketika menemukan buku “Sedjarah Penerbangan”. Buku tulisan RJ Salatun yang diterbitkan Penerbit Kebangsaan Pustaka Rakjat NV, Djakarta, tahun 1950 ini di bawah tumpukan buku-buku usang di sebuah kios penjual buku bekas di Jalan Gondomanan, Yogyakarta.

Terus terang sebelumnya, saya bukanlah seseorang yang tertarik dengan seluk-beluk dunia penerbangan. Tetapi ‘mata pemburu’ saya siang itu langsung tak mau bergeser dari buku yang berada di tumpukan paling bawah dan nyaris dianggap seperti sampah itu. Buku itu terkesan lusuh, usang dan berdebu.

Ketika buku itu saya ambil dan kemudian membuka lembar-lembar halamannya, saya langsung tergerak untuk membelinya. Betapa tidak. Di dalam buku setebal 84 halaman ini saya menemukan pengetahuan-pengetahuan yang menarik serta berharga tentang riwayat penemuan pesawat terbang dan sejarah perkembangan dunia penerbangan.

Misalnya, riwayat tentang seorang tokoh bernama Archytas dari Tarente, yang disebut sebagai orang yang pertama kali di dalam sejarah melahirkan angan-angan untuk terbang menjadi suatu usaha yang nyata. Konon pada tahun 400 sebelum Masehi, Archytas sudah membuat sebuah burung merpati dari kayu yang dapat terbang. Archytas yang murid dari Phyhagoras ini diyakini pula sebagai pembuat laying-layang yang pertama.

Kemudian ditulis juga riwayat seorang Arab yang terkenal dengan sebutan “Si Cerdik pandai dari Spanyol”. Pada tahun 875 M ia membuat sepasang sayap dan menutupi seluruh tubuhnya dengan bulu-bulu burung. Ia berpikir dengan sayap dan buku-bulu burung itu dirinya bisa membumbung dan terbang. Tapi usahanya tak pernah berhasil. Suatu hari ia nekat naik ke atap sebuah rumah. Ia bermaksud akan terjun dari atas atap rumah sambil mengembangkan sayapnya. Sayang rencananya tidak kesampaian, karena atap rumah tiba-tiba runtuh dan ia terpelanting.

Simak juga:  Berbincang dengan Buku: Bung Karno dan Bung Hatta

Di  buku ini diurai pula tentang sejarah penerbangan di Indonesia. Disebutkan misalnya, penerbangan yang pertama-tama dilakukan di Indonesia terjadi pada tanggal 19 Februari 1913 di Surabaya. Pada hari itu, seorang penerbang bangsa Belanda bernama JWER Hilgers melakukan penerbangan yang pertama di Indonesia dengan pesawat terbang Fokker. Ternyata, Hilgers tidak hanya melakukan penerbangan yang pertama di Indonesia, tetapi juga tercatat sebagai penerbang yang mengalami kecelakaan udara yang pertama di Indonesia. Karena pada hari itu juga pesawat yang diterbangkan Hilgers tersebut jatuh di kampung Baliwerti.

 

“Tjatatan di Sumatera”

Buku berjudul “Tjatatan di Sumatera” karya Muhammad Radjab ini diterbitkan oleh Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Djakarta, tahun 50-an. Sesungguhnya tak ada yang istimewa dari buku yang juga saya dapatkan beberapa tahun lalu di kios buku bekas atau buku loak di Jalan Gondomanan itu, kalau saja buku tersebut bukan merupakan “catatan perjalanan seorang wartawan ke Sumatera”. Apalagi di dalam ‘laporan jurnalistik’nya itu si wartawan menulis pengalamannya ketika berada di sejumlah tempat di Riau. Dan, tempat-tempat yang disebutnya itu memang telah ‘mengusik’ kenangan masa kecil saya.

Pada tanggal 14 Juni 1947, Kementerian Penerangan Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta mengirim serombongan wartawan ke Sumatera untuk meninjau keadaan dan perkembangan di sana. Rombongan wartawan itu terdiri dari Suwardi Tasrif (Harian “Berita Indonesia”), Rinto Alwi (Harian “Merdeka”) dan Muhammad Radjab (Kantor Berita “Antara”). Rombongan wartawan ini dipimpin Parada Harahap, seorang pejabat tinggi di Kementerian Penerangan.

Di dalam ‘catatan perjalanan’nya sang penulis menulis saat berada di Bengkalis, Siak, Sungai Apit, Pekanbaru, Sungai Paknik, Dompas dan lainnya. Kota Bengkalis yang terletak di Pulau Bengkalis itu  adalah kota kelahiran saya. Siak yang terdapat Istana Kerajaan Siak Sri Indrapura itu tempat saya menjalani masa kecil. Sungai Apit dan Sungai Pakning (ini nama kota-kota kecil kecamatan), sewaktu kecil dulu saya juga pernah singgah bersama ayah. Dan Pekanbaru, adalah ibukota Provinsi Riau, tempat ibu dan keluarga besar saya sekarang tinggal.

Simak juga:  Menulis Bisa Sampaikan Pesan Tentang Menjaga "Ke-indonesiaan"

Saya terkesan dengan gaya sang penulis menguraikan pengalamannya saat melayari Sungai Siak.

Pasang mulai naik. Air Sungai Siak jang tadinja tjoklat tua berubah warna djadi kuning, beriak dan berombak-ombak keudik. Kapal kami berlajar ladju, melawan arus naik, angin berembus keras dari arah laut. Baru disinilah terasa enak berlajar.

Kadang-kadang kita lihat ternak nelajan dan petani, dibelakang pohon-pohon bakau, rukam dan rupat disepanjang sungai itu.

Membaca kalimat-kalimat ini saya jadi teringat dengan kenangan masa kecil ketika bersama Ayah (alm) dan Ibu melayari Sungai Siak dengan kapal kepompong (kapal kecil) dari Siak ke Bengkalis. Kenangan itu adalah sesuatu yang berharga. Dan, sesuatu yang ‘berharga’ itu saya temukan di dalam buku “Tjatatan di Sumatera” ini.***

 

* Sutirman Eka Ardhana, pecinta buku, penggiat Taman Bacaan Masyarakat dan redaktur Warta Kebangsaan.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.