Rabu , 26 September 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Generasi Milenial dan Tantangan Kebangsaan
Narasumber Diskusi Kebangsaan X "Kebangsaan dalam Kepahlawanan Milenial" Ruang Serbaguna lantai 1 Monumen Yogya Kembali 27/11/17 (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan X: Generasi Milenial dan Tantangan Kebangsaan

Ons Untoro
Dalam satu dialog dengan anak-anak, Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia bertanya pada salah seorang anak: “Kalau besar cita-citanya ingin menjadi apa?”, dengan mantap anak tersebut menjawab: ‘Menjadi youtuber’. Presiden tertawa mendengar jawaban anak tersebut, rasanya jawaban tersebut keluar dari mainstream yang selama ini sering mengendap dalam kesadaran anak-anak, dan jika diajukan pertanyaan yang sama pada anak-anak yang akan menjawab: ‘Menjadi dokter”. Tetapi, karena anak-anak sekarang memasuki jaman digital, jawabannya tidak lagi konvensional. Pilihan jawabannya sudah melompati ruang dan waktu, dan membuat orang tuanya tertegun mendengarnya. Anak-anak, seolah sudah mempunyai mimpi melampaui kebangsaan.

Dari peristiwa di atas, kita bisa tahu bahwa pertumbuhan kebangsaan kita mengalami tantangan yang sama sekali lain dengan sejarah kebangsaan yang selama ini kita kenal. Kebangsaan kita terbentuk melalui perjuangan kemerdekaan dengan melawan musuh yang bisa diidentifikasi dan berasal dari bangsa lain. Pada masa perjuangan ini semangat nasionalisme masih kuat, dan kita sebagai bangsa mempunyai tekad yang sama untuk merdeka dan mengusir penjajah dari muka bumi Indonesia. Dalam konteks ini, kita mengenal apa yang disebut pahlawan dan siapa pahlawan tersebut. Di masa perjuangan kita mengenal nama-nama Soekarno, Hatta, Soedirman dan sejumlah nama tokoh lainnya.

Namun, di jaman yang serba digital ini kebangsaan kita menghadapi tantangan yang sama sekali berbeda dari sejarah pertumbuhannya. Era sekarang, atau kalau dalam istilah anak-anak milenial disebut sebagai jaman now, telah disertai kemajuan teknologi yang demikian pesat, sehingga tidak lagi dikenali perjuangan bawah tanah seperti jaman dulu. Di jaman now, bisa dikatakan, hampir-hampir tidak ada yang rahasia, bahkan dokomen yang dianggap rahasia, dan sudah tersimpan rapi, oleh Wikileaks bisa disiarkan melalui media digital dan orang bisa mengaksesnya dari manapun.

Mencoba memahami tantangan kebangsaan kita, Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta dalam diskusi seri kebangsaan ke-9, mengambil tema ‘Kebangsaan Dalam Kepahlawanan Milenial’, Senin, 27 Nopember 2017 di Gedung Serba Guna lantai 1 Museum Monumen Yogya Kembali, jalan Padjadjaran (Ring Road Utara), Yogyakarta dengan narasumber Idham Samawi, Anggota DPR RI., Prof. Dr. Sudjarwadi, Guru Besar UGM dan Dr. Arie Sujito, Ketua Departemen Sosiologi Fisipol UGM, Yogyakarta.

 

Generasi Mileneal dan Kepahlawanan

Generasi milenial lahir tahun 1980-an dan sesudahnya, yang jika diidentifikasi usianya sekarang antara 17 tahun sampai 37 tahun. Sebut saja, anak-anak muda ini, bahkan anak-anak remaja, sudah terbiasa hidup dengan fasilitas teknologi, dan dunia digital adalah nafas hidupnya. Penderitaan anak-anak muda seperti itu, berbeda dengan penderitaan orang yang sekarang sudah mulai memasuki usia di atas 40 tahun, yang mengalami sulitnya transportasi, tidak banyak pilihan makanan, pilihan mode, pilihan permainan dan seterusnya. Anak-anak milenial akan merasa menderita jika koneksi wifi tidak ada, dan mereka harus menjalani hidup keseharian seperti jaman purba dulu: tanpa android dan tanpa wifi serta sejumlah teknologi digital lainnya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Kebangsaan Membutuhkan Kecerdasan dan Kematangan Etis

Dunia seperti telah digenggamnya. Mereka mudah sekali berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bekerja di satu lembaga dan berpindah ke lembaga lain. Tak terbayangkan harus memiliki loyalitas pada satu perusahaan seperti yang selama ini dialami oleh orang-orang tua mereka, yang bekerja puluhan tahun sampai usia pensiun. Loyalitas generasi milenial pada profesinya, dan profesi yang dipilihnya bisa dijalankan di mana saja, tidak (di)harus(kan) menyerahkan hidupnya pada satu lembaga.

Melalui dunia yang digenggam, anak-anak milenial ini bisa mencari sumber bacaan apa saja, dan terkoneksi dengan jaringan yang luas. Jadi, anak-anak milenial tidak takut kesepian ketika tidak memiliki teman curhat, karena hal itu bisa dilakukan melalui media sosial. Melalui media ini ia bisa menjaring ribuan teman, dan saling bertukar informasi.

Soalnya adalah, bagaimana generasi milenial memaknai dunia digital sehingga bisa bermanfaat bagi orang lain, bahkan bukan hanya kelompoknya, tetapi bagi bangsa dan negara. Dengan demikian dunia digital mempunyai arti bagi perkembangan kebangsaan, dan generasi milenial inilah yang memaknai ulang  kebangsaan kita. Sebab, bisa juga yang terjadi sebaliknya, melalui dunia digital yang serba cepat, generasi milenial tidak lagi memiliki waktu untuk merenungkan persoalan yang selalu muncul, karena informasi mengalir setiap detik, dan tidak lagi bisa membedakan yang nama fakta dan yang mana palsu. Semua yang masuk dianggap sebagai informasi, yang seolah benar.

“Kita harus mengajak generasi milenial untuk bisa kritis atas informasi yang diterima melalui dunia digital sehingga tidak asal sekedar copas hanya untuk membuktikan bahwa lebih cepat memperoleh informasi, padahal informasi tersebut salah dan menyesatkan,” ujar Arie Sujito.

Kegelisahan Arie Sujito, Idham Samawi dan Sudjarwadi hampir sama, bahwa generasi milenial jangan jatuh menjadi pembenci, pengumbar kebencian dan segala bentuk sikap yang merugikan orang lain melalui dunia digital. Ketiganya mengharapkan, mereka bisa menjadi pahlawan dalam bentuk yang lain, yang berbeda dari jaman dulu yang harus mengangkat senjata dan melawan penjajah secara fisik.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Indonesia Bakal Mewarnai Peradaban Dunia

Mungkin, Ferry Unardi, lahir di Padang 16 Januari 1988, merupakan salah satu generasi milenial yang memaknai dunia digital dengan tepat. Ia membuka Traveloka untuk melayani pemesanan tiket pesawat. Usahanya ini telah berkembang dan kini memiliki lebih dari 100 karyawan dari awalnya hanya dikelola oleh 8 orang, dan area kerjanya tidak hanya di Indonesia, tetapi merambah ke Malaysia, Singapura, Thailand dan negara-negara lainnya. Perihal Ferry ini, kita bisa melihat melalui wikipedia, atau bisa kita googling. Sejak didirikan tahun 2012 sekarang Traveloka telah menjadi pilihan banyak orang untuk memesan tiket dan hotel. Rasanya, Ferry adalah pahlawan di era digital, yang mengubah kesulitan menjadi tantangan dan membuka bisnis jasa.

Di era digital ini, anak-anak milenial bersentuhan dengan teknologi, dan tidak ada lagi ‘hero’ seperti jaman dulu. Semua generasi milenial bisa menjadi ‘hero’ di bidangnya, karena semua memiliki akses yang sama. Hanya saja, pada konteks sosial politik, anak-anak milenial sering diidentifikasi sebagai apolitis dan tidak memiliki kepedulian sosial. Rasanya, identifikasi seperti itu tidak tepat, karena politik bagi anak-anak milenial, kiranya, bukan untuk berebut kekuasaan, tetapi lebih mengambil partisipasi dalam bentuk lain, misalnya mendorong agar korupsi tidak merajalela di Indonesia. Pada kasus ini, di Yogya ada komunitas anak-anak muda, dalam usia di atas 17 tahun dan rata-rata masih mahasiswa, mereka sama-sama menentang korupsi, dan pilihan kegiataannya menolak korupsi.

Komunikasi mereka dijalin melalui media sosial, dan di antara mereka saling berkomunikasi menggunakan perangkat digital. Hampir dipastikan tak ada undangan dalam bentuk cetak, semua dilakukan dalam bentuk digital.

Dalam kata lain, anak-anak milenial menelusuri ruang yang luas dan tidak terkotak secara geografis, karena masing-masing dari geografi yang berbeda, bahkan dari bahasa ibu yang berbeda bisa saling ‘bertemu dan berkomunikasi’.

 

Tantangan Kebangsaan  

Dalam pidato Bung Karno kita pernah mendengar, bahwa beliau (hanya) membutuhkan sepuluh pemuda untuk meruntuhkan gunung. Tetapi anak-anak milenial tidah hanya meruntuhkan gunung, melainkan menaklukkan dunia. Maka, ketika anak SD memiliki cita-cita untuk menjadi youtuber, ini adalah upaya anak-anak memiliki mimpi untuk menaklukkan dunia, mungkin malah bukan menaklukkan, melainkan mengubahnya. Melalui dunia digital semua terkoneksi, google map telah menjadi penunjuk ke mana saja orang akan menuju satu tempat. Kita bisa lihat, dalam setiap hari, Gojek atau Grab menggunakan google map bertemu orang lain yang memesannya melalui perangkat digital, keduanya tidak saling kenal, tetapi keduanya saling membutuhkan untuk dilayani. Anak-anak yang ditinggal pergi orang tuanya, dan tidak tersedia makanan di rumah, anak-anak tidak lagi panik, sebab mereka bisa menyapa gofood dari rumah dan apa yang mereka inginkan akan sampai di depan pintu, dan waktunya tidak sampai satu jam. Lebih cepat daripada memasak sendiri.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan X: Dialog

Kita bisa lihat, ketika pemerintah, misalnya, melarang satu film untuk diputar dengan alasan tertentu, anak-anak milenial tidak pernah protes terhadap pemerintah, karena mereka bisa mencarinya sendiri dan melihatnya tanpa perlu publikasi.

Dalam kata lain, kebangsaan anak-anak milenial tidak berkutat pada satu ruang, melainkan interaksi antar ruang. Seseorang bisa sebagai warga negara Indonesia, sekaligus sebagai warga dunia, karena dunia digital telah menyatukannya. Persis seperti dalam setiap detik, uang rupiah bisa berpindah dari satu negara ke negara lain, tanpa perlu pemiliknya membawa uang ke negara lain. Untuk melakukan transaksipun, meski di negara lain, orang tidak (harus) menggunakan mata uang di mana kita tinggal di satu negara, sebab mata uang tersebut sudah digantikan dengan kartu, dan dengan meggesek kartu tersebut transaksi sudah dilakukan.

Kebangsaan kita  di jaman milenial akan memiliki tantangan yang tidak ringan, sebab tidak berhadapan dengan penjajah seperti jaman kemerdekaan dulu. Rasanya, kebangsaan kita akan berubah wajah hanya seperti apa bentuknya, kiranya masih terus berproses. Barangkali yang masih (terus) diharapkan wajah perubahan kebangsaan kita, tidak tercerabut dari apa yang disebut sebagai NKRI dan Kebhinnekaan. Kiranya, dua nilai itu sebagai landasan anak-anak milenial melangkah melampaui batas-batas ruang, seperti pernah dikatakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana tahun 1980-an dalam satu forum diskusi di Yogyakarta. Kata takdir: “Kemajuan tekonologi akan membuat kita bisa melakukan hal yang berbeda di hari yang sama di ruang yang berbeda. Kita bisa makan pagi di Jakarta, diskusi di Yogyakarta dan tidur malam di Surabaya”.

Dalam istilah yang lain, untuk meneguhkan kebangsaan anak-anak milenial, Idham Samawi mengatakan “Kalau kita terbang dari Jakarta ke Tokyo, kita akan melewati beberapa negara, tetapi kalau kita terbang dari Sabang sampai Merauke kita hanya melewati satu negara, yakni Indonesia”. (Ons Untoro)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XVIII: Membudayakan Musyawarah-Mufakat

Prof. Dr. Kaelan, MS Musyawarah-mufakat sebagai Identitas Budaya Politik Bangsa Bagi bangsa Indonesia nilai-nilai identitas …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.