Senin , 19 Februari 2018

Garem

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

GAREM

 

TEPAT pada pukul 17.00 kurang beberapa menit, Akringan Lek Man sudah tatrap. Gerobak keseran sudah digelindingkan dengan pendorongan penuh. Lek Man terlihat keberatan betul. Lantaran, gelar derada meta seluruh ratengan, menu matang, sedemikian tertata penuh. Hangat, fresh from the wajan. Grass root cuisine, penganan rakyat.  Naik ke trotoar, merapat ke wilayah teritori Lek Man, sepenggal ruang kosong terbuka dekat pohon beringin rindang di Jokteng.

Anglo sudah penuh bara arang. Ceret telu sudah kemebul, tanda jerangan air telah umob.  Tanda, teh nasgithel ataupun kopi tubruk, sudah siap diracikkan. Aroma jahe dari jerangan air panas, liar mengembara menyambar penghirupan hidung para tukang becak yang biasa mangkal di dekat situ. Meski begitu, para sedulur becak belum beranjak menghampiri. Mereka sedang menahan diri hingga wektu tepat buat ngangkring. Jam 17 bukan waktu tepat memulai ritus wedangan. Ora ilok.

Selesai Lek Man masang tendha, mengatur dinglik panjang, membuka plastik penutup ragam penganan yang dijualnya, nyelonong pelanggan VIP, Denmas Tet. Ia terbilang pelanggan tetap, kediamannya di sebuah Dalem karena ia sejatinya keturunan priyagung. Denmas Tet memilih tidak melestarikan darah birunya melainkan mantap jadi pengusaha industri kreatif. Tukang letter. Ahli bikin papan nama.

“Biasa,” katanya kepada Lek Man. Tahu persis apa yang dihendaki tamu VIP, pelanggan tetap, dan hampir selalu jadi orang pertama yang lenggah di dinglik angkringan.

“Tidak tindak nJakarta ta ini?” tanya Lek Man.

“Prei. Sepi order,” sahut singkat Denmas Tet sembari menarik gelas teh pesanannya ke arah lebih dekat. Cepat pula tangannya menyambar sepotong bakwan mlekoh klomok minyak. Tanpa ampun, bakwan itu digawel cepat dan mantap. “Bakwannya kok anyep, Lek? Tidak pake garam ya?”

“Garam mahal.”

“Ah. Mosok? Kok bisa? Mahalnya itu seberapa sampai dibelain bakwan tidak digarami.”

“Mahal, langka pula. Impor.”

“Ironi negeri kepulauan. Ironi negeri tropis.”

“Beras juga naik. Mahal, oplosan pula.”

“Ironi negeri agraris.”

“Dele langka. Tempe naik”

“Ironi negeri tempe.”

“Hanya ada satu jalan untuk harga. Naik, naik, dan naik,” kata Lek Man mulai berbumbu emosi. “Cari duwit susah, kalau sudah dapet tidak bisa buat belanja. Tidak bisa ngejar harga.”

Sejenak Lek Man dan Denmas Tet diam. Datang bergabung, Kang Kuncung, yang rumahnya tak jauh dari Lek Man Square, Angkringan Jokteng. “We we we…. Denmas Tet.”

“Eee… Kuncung, pendagel terlucu sedunia.”

“Mengece. Lha ya situ lebih lucu. Lucu tur laris. Sa lucu tapi tidak pernah peye. Situ bukan pelawak, tapi laris melucu. Ironi negeri dagelan ta itu?”

“Ha…ha… kalau ini soal nasib, Cung.”

“Kopi biasanya, Kang?” tanya Lek Man memutus bibit ketegangan Kuncung dan Denmas Tet. Dua seniman panggung yang suka berseteru. Lek Man tahu persis minuman kesukaan Kang Kuncung, pemain dagelan Mataram ternama. Kesukaannya, kopi tubruk ditaburi sedikit garam. “Kopi sa, ini kali tidak usah pake garem.”

“Oh. Mengubah-ubahi adat. Kenapa?” tanya Lek Man sembari menuang jerang ke gelas.

Rupanya Denmas Tet tanggap. “Bagaimana ta kamu ini Cung, garem itu obat lucu lho.”

“Sa gek nyirik garem, pantang makan garem.”

“Cung, garem itu jamu lucu, lho Cung. Kopi kepyur garem itu resep lawakmu, lho. Tetep pakai garem, ah,” sergah Denmas Tet.

“Tidak. Sa melakuken perlawanan diam. Tidak makan garem sampai negeri ini tidak ngimpor garem. Titik.”

“We. Heibat. Jiwa patriot. Mogok makan garem impor.”

“Naaaa… Kang Kuncung mengikuti jejakku, ta Demas Tet. Kali ini, semua gorenganku tidak bergaram. Anyepan.”

“We, eeee, kuompak.”

Kang Kuncung menyeruput kopi tubruknya. Denmas Tet meneruskan ngrikiti ceker bacem kesukaannya. Lek Man sedang merakit sejumpah gorengan dalam jepitan kawat. Rupanya, Kang Kuncung mengorder gorengan pagang, dihangatkan. “Sudah berapa lama pantang garem, Cung?”

“Sejak Denmas Tet lebih lucu dari sa punya lawakan.”

“Ironi negeri dagelan,” potong Lek Man sambil cengengesan. ***

Lihat Juga

Duit

Ki Atmadipurwa Duit   Pohon beringin rungkut dan teduh. Benteng tebal mendinding kukuh. Benteng bercat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *