Selasa , 21 November 2017
Beranda » Essai EAN » Ganti-Berganti Membubarkan

Ganti-Berganti Membubarkan

“Kebenaran hanya wajah, bukan jiwa. Kebenaran hanya kostum, bukan muatan dalamnya. Kebenaran hanya brand, bukan zat yang diwakilinya. Pancasila hanya wajah. Bhinneka Tunggal Ika hanya papan nama. Tidak mustahil Khilafah dan Syariat Islam juga hanya merek”.

“Pada suatu bangsa dan Negara yang mengizinkan kemunafikan tingkat tinggi menguasainya, bahkan memang dinikmatinya, Iblis pun dituhankan, asalkan menyumbang uang dan menjanjikan keuntungan. Dajjal, hantu, Jin, domba atau monyet pun dipuja-puja, dikasih serban dan peci, dikostumi dengan ornamen bulatan atau kotak-kotak, disembah, dicium tangannya, diberi podium dan mikrofon – asalkan menguntungkan secara keduniaan”.

“Kebenaran adalah nama dari suatu kepentingan yang digenggam oleh tangan kekuasaan. Kalau penguasa berganti, yang digenggamnya adalah kebenaran juga, tetapi bertentangan dengan kebenaran di tangan penguasa sebelumnya”.

Kebenaran yang dimaksudkan oleh Indonesia berbeda dari “Kebenaran berasal dari Tuhanmu, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu”.

“Kalau penguasa berkuasa mutlak dengan kebenaran subjektif di tangannya, maka pastilah itu tuhan. Tuhan yang dimaksud di sini adalah sesuatu yang dinomorsatukan. Negara yang kebenarannya adalah kepentingan kekuasaan, tuhannya berganti-ganti. Tuhan satu memberangus tuhan yang lain secara kompetitif dan terus-menerus berebut satu sama lain. Bangsa yang kepada dirinya sendiri pun tak percaya, setiap kali siap menyembah tuhan yang baru, yang bukan tuhan sebelumnya, serta kemungkinan besar bukan tuhan yang berikutnya”.

“Bangsa yang berkendaraan kemunafikan, kaum cendekiawan yang aplikasi utama pengelolaan kariernya adalah kemunafikan, dan siapapun saja di ranah, level dan segmen apapun, yang sisa harapan hidupnya adalah bergabung ke dalam nasionalisasi kemunafikan – membela mati-matian tuhan yang menjadi sumber nafkah keluarganya, membenci tuhan yang tidak berkuasa, sambil mempelajari kira-kira yang mana tuhan yang akan berkuasa untuk didekati dan disembah”.

Tarmihim bercerita teman-teman pernah mendesak Markesot bahwa keadaan masyarakat dan Negara yang semacam itu menuntut kita semua untuk berjuang dua tiga kali lipat kadarnya. Berpikir lebih keras dan melakukan perlawanan lebih nyata. Markesot menjawab: “Sangat bagus. Segera lakukanlah asalkan matang seluruh perhitungan dan pertimbangannya. Saya juga berpikir bahwa memang demikian kebenaran yang harus kita perjuangkan. Tetapi kebenaran itu saya simpan di dalam hati saya. Begitu saya harus menyentuh keadaan dan semua pelaku perusakan, jari-jari saya bukanlah kebenaran, melainkan hikmah.

Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

“Terjunlah langsung ke aroma kehidupan, pahami komplikasi pemetaannya. Kau akan temukan ada yang jelas hitam-putih, ada juga yang warna-warni. Ada warna di dalam hitam maupun putih, ada putih dan hitam di kandungan warna-warna, bahkan ada putih dalam hitam dan ada hitam di dalam putih. Maka sentuh mereka bil-hikmah, bukan bil-haq”, kata Markesot, “hitam dan putih bubar-membubarkan silih berganti, warna-warni terombang-ambing. Siapkan kasih sayang dan kebijaksanaan, bukan palu dan pedang”.

Daur II-267,
Jakarta, 12 November 2017

Lihat Juga

Dibubarkan, dan Foto Bareng

Di tahun 1991 sesudah hampir dua puluh tahun tidak ada demonstrasi mahasiswa, sahabat-sahabat muda Mbah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *