Selasa , 21 November 2017
Beranda » Film » Film Dokumenter Perpaduan Fakta dan Subyektifitas

Film Dokumenter Perpaduan Fakta dan Subyektifitas

FILM dokumenter merupakan salah satu jenis film independen atau film indie yang dalam beberapa tahun terakhir ini ‘sedang mendapat tempat’ dalam khasanah perfilman nasional. Selain jenis film cerita, para penggiat film independen juga banyak berkreasi membuat film dokumenter.

Film dokumenter adalah film noncerita yang selain mempunyai unsur fakta tetapi juga mengandung unsur subyektifitas pembuatnya. Subyektifitas di dalam film dokumenter merupakan pendapat, pandangan sikap atau opini terhadap peristiwa yang direkam.

Sebagai film noncerita yang mempunyai unsur  fakta, film dokumenter adalah suatu film yang tidak boleh mengabaikan tentang suatu kebenaran atau keberadaan fakta sesungguhnya dari suatu peristiwa. Pembuat film mengolah fakta itu menjadi sebuah informasi sekaligus tontonan yang bisa menarik perhatian atau menggugah perasaan publik. Dalam kaitan menarik perhatian, menggugah dan mempengaruhi perasaan publik itulah, pembuat film menempatkan pendapat, pandangan sikap atau opininya berkaitan dengan fakta yang diusungnya ke dalam film dokumenter itu.

 

Mengusung Subyektifitas

Mengusung subyektifitas ke dalam film dokumenter adalah langkah yang memang dihalalkan. Bahkan ini dianjurkan. Unsur subyektifitas yang diusung ke dalam film dokumenter itu tentu dimaksudkan sebagai pesan-pesan, gagasan-gagasan maupun harapan yang ingin dicapai dengan film tersebut. Tanpa pesan-pesan atau gagasan-gagasan yang ingin disampaikan ke publik, tentu film dokumenter itu hanya akan berbentuk sebatas informasi atau tontonan yang datar dan hambar.

Misalnya, ketika membuat film dokumenter tentang kehidupan “pekerja seks komersial” atau “dunia kelam prostitusi”, kita tentu tidak hanya sebatas menampilkan gambar-gambar tentang bagaimana ‘kesibukan’ para perempuan pekerja seks komersial itu. Kalau hanya sebatas ini, informasi tentang “pekerja seks komersial” tentu hanya sebatas ‘tontonan kosong’ atau informasi yang tidak membawa manfaat apa-apa.

Lantas apa yang harus dilakukan? Ya, masukkan pesan-pesan, pendapat atau gagasan-gagasan kita, misalnya tentang bagaimana menggugah sikap pandang masyarakat terhadap kehidupan mereka, bagaimana menggugah perhatian pemerintah dan lembaga-lembaga tertentu dalam penanganan prostitusi, atau bagaimana kemungkinan pesan-pesan dakwah agama bisa sampai ke mereka hingga akhirnya para pekerja seks komersial itu memilih kembali ke jalan hidupnya yang benar. Film tentang kehidupan “pekerja seks komersial” itu layak masuk dalam kategori film dokumenter yang berhasil bila ternyata kemudian mampu mempengaruhi sikap pandang publik atau masyarakat untuk tidak sekadar mencerca dan memojokkan pekerja seks komersial (PSK) itu, akan tetapi ikut memberikan solusi, memberikan jalan keluar maupun membantu ‘membebaskan’ para PSK tersebut dari jeratan kehidupan kelamnya.

Ide adalah hal paling penting ketika kita akan membuat film dokumenter. Untuk pekerjaan kreatif apapun, ide merupakan hal yang sangat penting. Artinya, tidak ada satu pekerjaan kreatif pun yang tanpa diawali dengan ide.

Lalu, di mana ide itu bisa dicari atau diketemukan? Jangan khawatir, mencari ide bukanlah sesuatu yang sulit. Ide ada di mana-mana. Itu artinya, ide mudah untuk dicari atau diketemukan. Ide ada di seputar kita. Mungkin di rumah kita. Mungkin di rumah para tetangga, di sekitar kampung, di pasar-pasar tradisional, di pusat-pusat keramaian, di pusat-pusat perbelanjaan, di mall-mall, di kampus, di dalam masjid, di jalan-jalan, di ruang-ruang pameran, di dalam brosur-brosur, dan di banyak tempat lainnya. Pokoknya, ide ada di mana-mana!

Soal ide, bisa jadi kita temukan di saat sedang duduk melamun di teras rumah. Misalnya, sedang duduk melamun sendiri di teras rumah, tiba-tiba di jalanan depan rumah melintas seorang lelaki tua yang menarik gerobak sampah. Lelaki tua itu berkeliling dari rumah ke rumah mengambil sampah-sampah, lalu membawa dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah sementara. Kenapa kita tidak tertarik untuk mengetahui siapa lelaki tua itu? Bagaimana kehidupannya? Bagaimana repotnya menarik gerobak sampah? Berapa besar upah yang diperolehnya dari pekerjaan mengumpulkan dan membuang sampah-sampah itu? Berapa anaknya? Ada yang sekolah atau tidak? Siapa dia dulu? Sewaktu muda jadi apa? Jangan-jangan dulu dia pernah jadi tentara? Atau dia bekas pejuang? Dan, masih banyak pertanyaan lainnya lagi yang muncul. Tidak sebatas tentang lelaki tua penarik gerobak sampah itu, tetapi juga besarnya produk sampah di wilayah tersebut. Jawaban-jawaban dari semua pertanyaan itu bisa menjadi sebuah ide yang cemerlang untuk suatu film dokumenter.

Begitu ide diperoleh, langsung tetapkan siapa “tokoh utama”nya.

 

Mewujudkan Ide

Setelah ide ditemukan, langkah kita berikutnya adalah mewujudkan atau merealisasikan ide itu, sehingga nantinya benar-benar bisa terwujud menjadi sebuah karya film dokumenter. Dalam mewujudkan ide tersebut ada beberapa langkah yang harus dikerjakan lagi.

Langkah pertama, pastikan tentang ide yang dipilih dan kemudian susun atau tulis konsep atau bisa juga disebut statemen mengenai film tersebut. Konsep atau statemen film itu berisi tentang apa dan bagaimana kondisi serta situasi yang akan ditampilkan, serta bagaimana jalan keluarnya dan apa yang ingin dicapai.

Tidak ada salahnya pula, masih di langkah pertama ini, kita sudah punya rencana judul film. Rencana judul ini penting. Sebab, rencana judul itu bisa dijadikan alat untuk mendorong kita untuk semakin bersemangat menyelesaikan atau mewujudkan film tersebut.

Langkah kedua, mengumpulkan referensi dan informasi serta melakukan riset. Sekalipun hanya film dokumenter produksi sendiri (indie), tidak ada salahnya kita menempuh langkah-langkah yang semi professional, dengan mencari dan mengumpulkan sejumlah referensi serta sebanyak mungkin informasi yang bisa mendukung atau memperkuat ide film yang akan dikerjakan.

Referensi bisa didapatkan dari buku-buku di perpustakaan, majalah atau surat kabar bahkan sampai media internet. Demikian pula informasi, bisa dikumpulkan dari manapun sumbernya, yang penting informasi itu sangat berguna bagi ide film.

Langkah ketiga, membuat outline atau sinopsis naskah. Sekalipun film dokumenter itu diproduksi sendiri (indie), tapi tidak ada salahnya jika kita mencoba mengerjakannya secara semi-profesional. Langkah semi profesional itu di antaranya dengan terlebih dulu membuat outline atau sinopsis naskah. Outline atau sinopsis naskah itu kalau di dalam pembuatan film cerita sama dengan preproduction script. Fungsinya adalah untukmendukung atau mempermudah proses pembuatan film atau pengambilan gambar (syuting).

Langkah kelima, menentukan atau membuat shooting list. Shooting list merupakan daftar rencana gambar-gambar atau adegan-adegan apa saja yang akan disyuting.

Langkah keenam, membuat jadwal syuting (shooting schedule). Setelah shooting list disiapkan, langkah berikutnya menyusun jadwal atau agenda syuting (pengambilan gambar) sesuai daftar rencana pengambilan gambar.

Langkah ketujuh, mempersiapkan daftar pertanyaan yang nantinya akan ditanyakan kepada “sang tokoh” di dalam film itu, maupun para pendukung lainnya.

Langkah kedelapan, mempersiapkan segala peralatan yang akan digunakan dalam proses pengambilan gambar (syuting), seperti kamera (handycam), perlengkapan merekam, dan sejumlah peralatan dan media lainnya yang memang diperlukan dalam proses pengambilan gambar dan rekaman suara.

Langkah kesembilan, mengecek ulang semua persiapan.

Langkah kesepuluh, langsung ke sasaran tembak, ya, syuting. ***  (Sutirman Eka Ardhana)                                                                                

Lihat Juga

Film Awalnya Karya Tiruan Mekanis Berkembang Menjadi Karya Seni

FILM yang ditemukan pada akhir abad ke-19 dan terus berkembang hingga hari ini merupakan ‘perkembangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *