Beranda » Sastra » Empat Penyair Tampil di Sastra Bulan Purnama

Empat Penyair Tampil di Sastra Bulan Purnama

Empat penyair dari kota berbeda, yang tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 66, Senin 13 Maret 2017 di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, bukan yang pertama datang di Sastra Bulan Purnama. Keempat penyair itu Damtoz Andreas (Magelang), Suyitno Ethek (Mojokerto), Dharmadi (Purwokerto) dan Sunawi (Yogyakarta).

“Ini kali ketiga saya datang ke Tembi, membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. 5 Tahun lalu, tepatnya tahun 2012, saya launching antologi puisi saya, dan malam ini kembali saya hadir di Tembi mengobati kangenku pada Sastra Bulan Purnama Tembi” kata Dharmadi, penyair asal Purwokerto yang kini tinggal di Tegal.

Suyitno Ethek. Penyair dari  Mojokerto, seperti halnya Dharmadi, juga kali ketiga dia tampil di Sastra Bulan Purnama dan dengan membawa antologi puisi.

“Saya senang bertemu dengan teman-teman di Sastra Bulan Purnama Tembi, rasanya saya tidak merasa lelah datang dari Jawa Timur,” ujar Suyitno Ethek.

Sampai di Tembi sudah petang, dan Suyitno Ethex langsung minum kopi di angkringan Tembi. Ia, sudah hafal betul situasi di Tembi, sehuingga begitu sampai di Tembi, tak bisa dihindari kopi di angkringan tembi merupakan pilihan pertama. Tanpa kopi, tampaknya dia merasa belum lengkap duduk di Tembi.

Lain lagi dengan Sunawi, dia tinggal di Yogya, dan setiap Sastra Bulan Purnama seringkali datang, bahkan bisa dikatakan jarang absen hadir di Sastra Bulan Purnama, tetapi baru sekali ini dia tampil membaca puisi.

“Saya merasa senang malam ini, karena biasanya saya hanya melihat para penyair membaca puisi, Malam ini, oleh Pak Ons saya diberi kesempatan untuk launching antologi puisi saya yang pertama,” uijar Sunawi.

Darmanto Andreas, atau yang sering menggunakan nama Damtoz, tinggal di Magelang, sudah beberapa kali tampil membaca puisi di Tembi, dan malam ini, dia kembali mengisi Sastra Bulan Purnama edisi 66 dengan launching antologi puisi karyanya yang baru.

Sastra Bulan Purnama, bagi empat penyair yang bareng launching antologi puisi sudah mereka kenal sebelumnya, setidaknya lima tahun yang lalu. Mereka tinggal di tempat berbeda, dan selalu meluangkan waktu kapan diminta untuk tampil membacakan puisi karya di Sastra Bulan Purnama.

Puisi karyanya memang tidak dia bacakan sendiri, tetapi juga dibacakan oleh para pembaca bahkan termasuk penyair lain yang membacakan puisi karya masing-masing. Setiap penyair hanya membaca satu atau dua puisi karyanya, selebihnya dibacakan oleh orang lain. Bahkan, Dharmadi memilih memberi pengantar dan sedikit berkisah menyangkut proses kreatifnya, dan puisinya dibacakan oleh orang lain.

“Saya ini bukan pembaca puisi yang baik, jadi saya memilih untuk bercerita menyangkut proses kreatif saya, dan puisi-puisi saya akan dibacakan oleh teman-teman yang memang bagus dalam membaca puisi,” kata Dharmadi.

Selain dibacakan,  ada dua puisi yang digubah menjadi lagu oleh Ahmad Jalidu. Puisi karya Darmanto Anderas, yang diiringi petikan gitar, bas dan pukulan kahon. Dua puisi itu berjudul ‘Crying Song’ dan ‘Biografi Dewi’. Kita sertakan salah satu dari dua puisi tersebut, yang berjudul ‘Criying Song’.
 

cahaya surut
bayang hati siapa berlari
seperti kijang kencana
melibas guyur tangis seperti gerimis
mengendap di antarai lalang keemasan

 

aku runtuh seperti cahaya
dan limbung laksana mendung
tapi dengan dada penuh luka
aku membumbung seperti asap
lalu berharap seperti hujan (*)

Lihat Juga

Sulis Bambang dan Bengkel Sastra Taman Maluku di Sastra Bulan Purnama

Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang yang dipimpin Sulis Bambang, seorang perempuan penyair yang bukunya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *