Selasa , 21 November 2017
Beranda » Sastra » Empat Penyair Perempuan Tampil di Sastra Bulan Purnama
dari kiri Resmiyati, Umi Kulsum & Ristia Herdiana, Yuliani Kumudaswari (ft. Ist)

Empat Penyair Perempuan Tampil di Sastra Bulan Purnama

Empat penyair perempuan dari kota yang berbeda akan tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 74, Jumat, 3 November 2017, pkl. 19.30 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Keempat penyair perempuan itu ialah Umi Kulsum (Yogyakarta), Ristia Herdiana (Jakarta), Resmiyati (Klaten) dan Yuliani Kumudaswari (Sidoarjo).

Masing-masing akan meluncurkan antologi puisi karyanya sendiri, Umi Kulsum dengan judul buku ‘Akar Ketuban’. Ristia Herdiana antologi puisinya berjudul ‘Wajah Rembulan’. Resmiyati dengan buku puisi berjudul ‘Tetangga Surga’ dan Yuliani Kumudaswari menampilkan buku berjudul ‘Perempuan Bertato Kura-Kura’. Jadi, ada 4 antologi puisi dari empat penyair dari kota yang berbeda.

Keempat penyair ini sudah menerbitkan antologi puisi, baik dalam bentuk antologi bersama maupun antologi puisi tunggal. Mereka sudah sering tampil membaca puisi di Sastra Bulann Purnama, dan kali ini mereka tampil bersama dengan meluncurkan antologi puisi. Tajuk dari Sastra Bulan Purnama edisi 74 ini ‘Penyair Perempuan Dalam Empat Antologi Puisi.

Selain empat penyair perempuan, akan ditampilkan 4 perempuan pembaca puisi dari karya masing-masing penyair yang tampil. Mereka adalah Kentik, Koniherawati, Sri Suryawidati dan Yuli Rukmini. Masing-masing perempuan ini mempunyai profesi berbeda, Kentik sehari-harinya bergulat dengan usaha gerabah di Kasongan, Koniherawati seorang perupa sekaligus dosen, Yuli Rukimini memiliki usaha t’shirt dan Sri Suryawidati mantan Bupati Bantul.

Selain pembacaan puisi, akan ditampilkan musikalisasi puisi dan dimainkan oleh kelompok musik ‘Boleh Masuk’ dengan personil di antaranya Ana Ratri dan Nyoto Yoyok Keduanya akan mengolah puisi karya Yuliani Kumudaswari dan Ristia Herdiana.

“Saya memang bermain berdua dengan Nyoto Yoyok, tapi tentu bisa menerima yang lain untuk masuk, yang sifatnya aditional saja, karena masing-masing personil mempunyai kesibukan yang berbeda, sehingga kami tidak ingin terbebani dengan personil lain, karena itu sifatnya aditional” kata Ana Ratri.

Selain pembacaan puisi, akan ditampilkan juga satu monolog pendek yang akan mengolah puisi berjudul ‘Hati’ karya Resmiyati menjadi satu pertunjukan dan dimainkan oleh Butong.

“Butong bersama teman-temannya pernah tampil mementaskan puisi karya Rendra dalam bentuk drama di Sastra Bulan Purnama edisi 1 Oktober 2011 silam” ujar Ons Untoro.

Tidak ketinggalan, satu komunitas dari Semarang, yang dikenal dengan nama ‘Bengkel Sastra Taman Maluku’ akan tampil dalam berbagai macam eksprsi sastra dengan mengolah puisi-puisi. Sekaligus penampilan Bengkel Sastra Taman Maluku dari Semarang ini sebagai closing acara. (*)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *