Beranda » Seni & Budaya » Duryudhana

Duryudhana

Sementara itu di Hastinapura tiba-tiba langit menjadi gelap dan pertir menyambar-nyambar. Sedangkan Gandari yang ada di gua Resi Wiyasa tersenyum senang karena ia mulai merasakan gerakan dari bayinya.

Bhisma bersama Widura kemudian menemui Mahaguru Kripa. Dan semua kerabat berkumpul di ruangan istana. Bhisma bertanya ada apakah ini ? Mengapa kegelapan terjadi dimana-mana. Maka kemudian Kripa menjawab, setiap kali ada manusia dengan maksud jahat lahir maka alam semesta bisa merasakan itu.

Widura lalu bilang bahwa memang ada anak yang telah lahir. Dan anak ini adalah ancaman bagi Hastinapura. Mendengar kata Widura, Dhritarashtra menjadi marah sekali. Ia pun bilang pada Widura apakah maksudmu anakku adalah iblis yang jahat. Dhritarashtra emosi sembari menunjuk Widura.

Guru Kripa pun bilang bahwa itulah yang tertulis di kitab. Namun kemudian Sengkuni mulai ikut bicara mendukung Dhritarashtra. Kripa kemudian menjelaskan sesuai kitab bahwa anak ini bukan hanya bencana untuk bangsa Kuru saja melainkan dunia. Maka sesuai kitab anak itu harus dikorbankan.

Sekali lagi Sengkuni mulai memainkan kata-katanya. Ia terus berdebat dengan Kripa, sampai kemudian Sengkuni bilang “sampai kapanpun aku tidak akan membunuh anak dari adikku sendiri”.

Kemudian ibu ratu menanyakan hal tersebut pada Bhisma. Bhisma sendiri juga tidak tega jika harus membunuh anak yang tidak berdaya. Namun Kripa kembali bilang bahwa jika demi keselamatan kerajaan dan banyak orang, maka keputusan pengorbanan anak harus dilakukan. Bhisma kemudian bilang bahwa semua keputusan ada di tangan Dhritarashtra.

Di waktu yang sama di goa, akhirnya anak Dhritarashtra dan Gandari lahir. Tampak kaki kecil menendang tempurung yang sudah membungkusnya. Gandari senang anaknya sudah lahir.

Sementara itu kerabat kerajaan kemudian bersama-sama datang ke gua. Amba dan Ambalika juga ikut. Kemudian bayi laki-laki itu diserahkan pada Dhritarashtra. Dhritarashtra pun menggendong bayi itu. Ia mendengar tangisan bayi itu. Lalu Dhritarashtra mengangkatnya dan berkata “Anakku ini akan kuberi nama Duryudhana”.  (Eno Suhardi/Bambang Udoyono)

Lihat Juga

Senggama Semesta di Gunung Kemukus dan Candi Sukuh Pemaknaan Teologi Pembebasan Lewat Legenda Asmara Suci (4)

Oleh: KRT Suryanto Sastroatmojo MAKA, sebelum Prabu Brawijaya akhirnya melakukan mokhsa, beliaub akan berkunjung ke …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *