Selasa , 21 November 2017

Duit

ANGKRING MATARAMAN

Ki Atmadipurwa

Duit

 

Pohon beringin rungkut dan teduh. Benteng tebal mendinding kukuh. Benteng bercat putih. Jokteng Lek Man Square.  Angkringan Lek Man, dikenalnya begitu. Tetep angkring, meski sama sekali tidak ada angkringnya. Soal reputasinya, dijamin fresh from the wajan. Grass root cuisine. Juara Indonesia, sega kucingnya. Pelanggannya, segala lapisan yang menggugurkan status sosialnya. Di area angkringan, statusnya sama, rakyat. Tanpa pangkat dan jabatan.

Malam baru saja tiba, seperti biasa, membawa gelap dan angin dingin. Namun, para pemuja angkringan sudah andher pepak menggelar pisowanan agung di bawah temaram lampu hemat listrik. Mereka memenuhi dingklik panjang empat sisi, round table area yang berbatasan langsung dengan meja angkring lokasi dagangan Lek Man ditata, bagai gelar perang dirada meta (gajah ngamuk), gemuk menumpuk.

Sebagian besar tamu malam ini, muka-muka baru dan wajah-wajah muda belia. Remaja terpelajar. Lek Man berusaha mengenali dan memikat hati mereka. “Kesan pertama harus menggoda,” pikir Lek Man dalam hati.

Lek Man gembira, ada prospek pelanggan kalangan muda. Ada regenerasi penggemar angkringan. Maka, bolehnya melayani pesanan minuman teh, kopi, jeruk, jahe, diracik cermat. Hampir semua pesan minum dingin, pake es batu. “Wooo, sampeyan belum ngerti ya? Warungku tidak menyediakan es. Semua hangat dan panas.”

“Waaaa…. Kuciwa ini Lek.”

“Es tidak baik untuk kesehatan,” jawab Lek Man tangkas.

Meski kecewa, mereka tidak pergi. Tetep melanjutkan keasyikan mengobral obrolan sambil menggawel gorengan atau menyantap sega kucing bikinan Madame Chef Nyai Ngatman. Sebagian besar dari mereka minum rokok pula. “Rokoke Lek. Batangan,” order seorang anak muda.

“Tidak sedia rokok. Beli di depan itu lho. Kios rokok isterinya Kang Kuncung,” jawab sambil menunjuk ke g jalan, kios rokok kaki lima.

“Kok tidak sedia rokok?” tanya remaja lainnya.

“Rokok tidak baik untuk kesehatan,” sahut seorang yang lain.

“Rokok tidak baik untuk kesehatan, naaaa kalau enak merokok itu tanda badan sehat …,” gurau seorang yang lain.

Lek Man diam saja tetapi tidak membiarkan wajahnya tanpa senyum. Sembari menyiapkan pesanan minum, Lek Man juga melepas beberapa tikar untuk mereka yang tidak kebagian dingklik. Tikar digelar di trotoar lalu mereka lesehan sembari melayani diri sendiri, ambil makanan pakai piring seng. “Sor listrik kopi tubruk enam, Lek,” pesan seseorang yang mewakili rombongannya.

Sedikitpun tak ada rasa khawatir dalam diri Lek Man. Nalurinya bisa memastikan, rombongan remaja ini bukan gerombolan bonek. Bukan pula rombongan klithih. Tampak sebaya dan kelihatan dari rombongan satu sekolah. Ketahuan, dari obrolan mereka, para pelajar SMA ini yang baru pulang dari tanding basket. Makanya, sebagian posturnya tinggi dan tegap. Yang kecil dan pendek-pendek pastilah penggembira. Tidak punya potensi nggabrul jumlah makanan yang ditelannya. Aman.

Dalam suasana riuh Jokteng Square, Lek Man Area, dumadakan tiba dua sahabat yang dikabarkan sendang berseteru, gumrojok tanpa larapan, Denmas Tet bersama Denmas Kasut. Maka, Lek Man pun gurawalan menyambut pelanggan tetapnya itu. Lek Man ingat, Denmas Tet dan Denmas Kasut menjadi pelanggannya sejak berusia setara dengan para perubung angkringannya malam ini, pelajar SMA. “Weee, lhadalah, baduo-duo rawuh …hajanur gunung bisa barengan?”

“Weh, penuh sesak berjejal uyal-uyal. Laris manis….,” goda Denmas Tet.

“nJuk aku lenggah mana ini?” sambung Denas Kasut masgul.

“Atas … atas… atas ja. Naik ja, tikar dan pesanannya sa anterken, Boss.”

Para pelajar yang sudah lebih dulu menjadi tamu Lek Man pada memandang melongo kepada dua tamu utama yang tiba mak bedengus. Rupanya mereka mengenali dua tamu yang barusan tiba. Dua-duanya ternama, wajahnya dikenal luas. Maka, tanpa dikomando, mereka pun berebut menyalami Denmas Tet dan Denmas Kasut. Namun tidak semua kebagian salaman, karena kedua bintang itu keburu naik tangga benteng menuju “lantai atas”. Di atas jokteng itu ada pelataran yang rata dan luas. Bisa menampung luberan pengunjung Lek Mas Square.

Selesai turun mengantar tikar ke pelataran atas benteng, Lek Man kembali ke kitchen set angkringannya. Menyiapkan seduhan minuman kesukaan Denmas Tet dan Denmas Kasut. Segera pula Lekman mengisi piring dengan setumpuk ceker bacem, persembahan untuk Denmas Tet.

“Mereka pelanggannya Lek Man ta?” tanya seorang remaja penuh heran.

“Wooo dah lama, Puluhan tahun,” jawab Lek Man bangga.

“Pelanggannya orang-orang tenar, ya Lek?”

“Setenar warungnya.”

Bersamaan dengan itu, Solis dan Kang Kuncung muncul. “Tidak kebagian tempat ini Lis. Diborong ABG …,” gerutu Kang Kuncung

“Hek eh. Diantri brondong,” sahut Solis, seperti biasanya, dengan gaya antagonis.

Lek Man yang mendengar gerutuan dua seniman ajaib itu, ajaib karena tiap malam ngangkring tidak pernah ada bosannya. Lek Man cepat dan tangkas merespon, “… di atas, di atas ada Denmas Tet bareng sama Denmas Kasut. Di atas, disusul ja!”

“Weee elok ini. Barengan? Elok. Wis dha wawuh pa ya?” sambung Kang Kuncung sambil bergegas menuju atas beteng. “Lis ayo, nonton wajahnya orang dua itu, gimana rupanya kalau pas pada rukun, ayo Lis,” ajaknya.

“ndak mau.”

“Lha kenapa Lis?”

“Nanti malah dibayari. Aku kene wae, ra doyan duitnya DenmasKasut.”

“Solis, Solis. Gimana ta kamu ini? Emangnya duitnya dia kenapa?”

“Duit politik.”

Lek Man membiarkan dua seniman lokal itu berdebat. Para remaja yang sedang menikmati angkring Lek Man juga mencoba memahami percakapan dua seniman ini. “Memangnya di angkringan Lek Man beredar duit politik, Lek?”

Lek Man tertawa. Lalu katanya sebelum habis tawanya, berkata,  “ …tidak. Tidak. Di sini tak ada duit politik. Yang ada, politik duit, politik dol tinuku ….ha…haha…ha… ya nggak? Ya nggak?”.

 

Yk 16/9/2017

 

Lihat Juga

Begja tak Terkira

Ki Atmadipurwa Begja tak Terkira   SUARANYA, hanya bunyi kleset-kleset lirih. Lalu, pintu mobil klenyer-klenyer …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *