Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Sastra » Dua ‘Tarian Hujan’ Di Sastra Bulan Purnama

Dua ‘Tarian Hujan’ Di Sastra Bulan Purnama

 

Dua tarian, masing-masing ditarikan Enji dan Endah Sr untuk mengisi launching antologi puisi ‘Tarian Hujan’ karya Jane Ardaneshwari, yang digelar di Sastra Bulan Purnama, Jumat 10 Februari 2017 di ruang museum Tembi Rumah Budaya. Dua tarian itu untuk merespon puisi karya Jane. Enji, yang tampil pertama sebagai opening menampilkan satu tarian yang dia kreasi sendiri untuk merespon acara Sastra Bulan Purnama, khususnya yang diisi dengan ‘Tarian Hujan’.

Sedang Endah Sr, yang memang khusus belajar tari klasik Jawa, tetapi penampilannya di Sastra Bulan Purnama kali ini, dia tidak mementaskan tarian Jawa, melainkan tarian yang dikreasi sendiri. Mungkin karena terbiasa dengan tari klasik Yogyakarta,, sehingga gerakan tubuhnya masih dalam nuanasa tarian Jawa.

Dalam tariannya, Endah manfsirkan 4 puisi karya Jane Ardaneshwari, yang masing-masing berjudul ‘Negeri Awan’,  ‘A Midsummer Night’s Drean’, ‘Balada’ dan ‘Jejak Hujan’. Endah, kiranya, menempuh ide kreatif, empat puisi itu dia bacakan dan direkam dengan iringan gitar, sehingga ketika dia menari, dengan mengenakan pakaian etnik, dan wajahnya mengenakan topeng, puisi yang dibacakan mengalir dari digital player.

Pilihan bentuk pertunjukan Endah, yang memadukan puisi, musik dan tarian, rasanya merupakan satu kemasan yang efisein, sehinga tidak memerlukan banyak piranti. Endah tampil simpel, tetapi puisi, petikan gitar dan tarian seperti ‘menghidupkan’ karya sastra. Suara Endah yang enak didengar, karena memang terbiasa sebagai seorang penyiar radio, membuat pertunjukannya tidak membosankan.

Empat puisi yang dia pilih, semua dia bacakan sendiri, dan diiringi oleh petikan gitar, dan semua itu sudah dipersiapkan dalam bentuk rekaman. Durasi pertunjukan hanya singkat, sekitar 6 menit Endah menari dengan gerak yang dia ciptakan sendiri, seolah gerakannya sedang merespon kata-kata dalam puisi. Perpaduan petikan gitar dan puisi, memberikan nuansa pada Sastra Bulan Purnama edisi 65, yang sejak sore diguyur hujan.

 

Enji dan Endah seperti menghidupkan antologi puisi ‘Tarian Hujan’, yang dilaunching, sehingga Sastra Bulan Purnama seperti digenapi, tarian dan hujan, persis seperti judul antologi puisi yang dilaunching. Awalnya, memang peluncuran antologi puisi ‘Tarian Hujan’ tidak menampilkan tarian, melainkan hanya pembacaan puisi dan lagu puisi, tetapi dua hari sebelum acara, ternyata ‘mendapat’ seorang penari yang responsif terhadap ‘Tarian Hujan’, yakni Endah dan Enji.

Endah dan Enji, memang sudah pernah tampil di Sastra Bulan Purnama, bahkan bukan hanya sekali, sehingga sudah tahu situasi dan suasana acara pertunjukan Sastra Bulan Purnama, hanya satu kali bertemu, sehari sebelum pertunjukan, dan tanpa latihan panjang, karena keduanya sudah terbiasa menari, maka ‘Tarian Hujan’ menemukan kontekstualisasinya, yakni tarian dan hujan, dalam arti sesungguhnya.

Ketika Enji mulai tampil, jarum jam menunjuk angka 20.30, dan hujan diluar masih deras, sehingga ‘Tarian Hujan’ di museum diwarnai gemercik air hujan di luar, dan ketika Endah tampil untuk menutup acara, hujan sudah mulai reda, dengan demikian tarian Endah sekaligus mengakhiri ‘Tarian Hujan” di ruang museum Tembi Rumah Budaya.

Dalam kata lain, Sastra Bulan Purnama edisi 65, yang diisi launching antologi puisi ‘Tarian Hujan’ karya Jane Ardaneshwari diawali dan diakhiri dengan tarian. Di anatara keduanya ditampilkan pembacaan puisi dan lagu puisi. (*)

Lihat Juga

Sarasehan dan Pentas Sastra Di Ajibarang, Purwokerto

Sarasehan dan pentas Sastra Banyumas di Selenggarakan di Banyuman, Purwokerto. Ahmadun Yosi Herfanda, seorang penyair …

1 komentar

  1. Ami Simatupang

    Alangkah baiknya bila penampil dalam Sastra Bulan Purnama selalu mempersiapkan benar2 gelaran yg akan dibawakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *