Rabu , 17 Januari 2018
Beranda » Pendidikan » Diskusi Kebangsaan X: Dialog

Diskusi Kebangsaan X: Dialog

Darto Wahidin

Darto Wahidin: Relevankah Gotong royong?

Saya sangat sepakat dengan pendapat bahwa di era sekarang ini permasalahan nation state itu sudah selesai, tapi yang harus kita permasalahkan sekarang adalah kemiskinan, kesenjangan, korupsi maupun ekologi. Namun sesungguhnya di era sekarang ini generasi muda ini terjebak dalam politik yang sangat praktis. Politik yang sangat praktis itu membuat generasi muda kita ini sesungguhnya lupa untuk menciptakan ide-ide, menciptakan kreasi-kreasi yang baru, begitu.

Kita lebih senang memperoleh kekuasaan kemudian ketika menjalankan kekuasaan tersebut, kita gak menjalankan kekuasaan tersebut dengan baik, kita menimbulkan korupsi dan sebagainya. Ketika pada posisi yang seperti itu, mahasiswa kita, kaum muda kita terjebak potitik praktis, solusi apa sih yang terbaik yang bisa diberikan. Yang kedua adalah bahwa solidaritas itu terbagi menjadi dua, mekanik dan organik. Saya mengatakan bentuk solidaritas itu ada kerjasama dan gotong-royong. Tetapi apakah masih relevan, kerjasama dan gotong-royong ini di era globalisasi seperti sekarang ini. Seperti kita ketahui bahwa Sukarno pernah menyatakan bahwa pengejawantahan dari sebuah Pancasila sendiri adalah gotong-royong. Terimakasih, itu saja yang bisa saya tanyakan.

 

Totok Sudarwoto

Totok Sudarwoto: Penanaman Pancasila Lewat Kearifan Lokal

Saya menyambung dari generasi milenial, tentang apakah gotong-royong sekarang ini masih relevan. Saya sambungkan dengan petuah-petuah dari Bapak Idham Samawi, ketika berkeliling di Indonesia, hampir setiap bulan saya dua tiga kali keliling daerah, membawa LKNI, ini justru implementasi Pancasila. Ini terletak pada sejauh mana daerah-daerah itu bisa merawat nilai-nilai kearifan lokal. Perawatan nilai-nilai kearifan lokal itu adalah implementasi Pancasila.

Saya melihat di daerah yang masih survive terhadap kegotong-royongan, solidaritas, toleransi, di situ relatif aman, daerahnya makmur, aman, bahkan yang disinggung oleh Prof Sujarwadi, seorang ibu yang dora sembada ya, sajane ngapusi, ning luar biasa apike. Menemukan rapi tulisan muridnya yang Thomas Alfa Edisson, apa, justru kebalikannya ya, didhelikke ndilalah konangan nangis. Ini dora sembada-dora sembada ini banyak sekali. Ibu-ibu yang secara pahlawan masa lalu bisa mengimplementasikan nilai-nilai ke anak didiknya, ini luar biasa. Tetapi saya juga menyaksikan daerah-daerah yang tidak merawat nlai-nilai kearifan lokalnya itu relatif juga bentrok terus, dengan desanya saling bakar, bahkan antar keluarganya juga terpisah-pisah politiknya dan sebagainya.

Oleh karena itu intinya adalah bagaimana nilai-nilai bagi generasi kita, ada yang sepuh termasuk para wartawan sepuh senior, saya kepenginnya wartawan senior, bukan wartawan sepuh ya, ini bagaimana mengimplemantasikan Pancasila dengan selalu merawat nilai-nilai kearifan lokal sebagaimana yang disampaikan oleh Mas Ari. Jogjakarta ini gudangnya. Keistimewaan DIY ini adalah pusat dari segala pusat di dunia ini, tidak hanya ini sebetulnya gampang kok, kearifan lokal di DIY, ming sing jenengane busana manten cara manten we mendunia kok kita ini. Batik ya luar biasa. Itu yang pertama, nuwun sewu Pak Idham, sewaktu ke Bapak, ini saya ulangi ya, saya dialog panjang lebar dengan Gubernur Papua Barat, ditanya oleh Pak SBY, Bram piye ta, satu kelas di Magelang, Papua itu sudah saya otsus, saya kasih dana banyak kok ora makmur-makmur begitu. Kalem saja Pak dengan Gubernur ini. Lha gimana Papua suruh makmur lha wong garudane mengone ming mung neng Aceh terus. Di peta itu garuda kan ming mengone ke Aceh terus kan itu. Tidak ke Papua. Ini hanya joke saja. Terakhir, bagaimana saya mendorong juga seperti Mas Ari memprovokasi, para wartawan senior ini lain kali bisa ngumpulkan organisasi-organisasi OSIS se-DIY. Organisasinya. Mereka itu punya Ketua, Sekretaris, dan juga Bendahara. Ini dikumpulkan, menerima langsung gemblengan langsung seperti yang tadi, dan kita itu justru harus maaf dengan bahasa mereka. Kita juga harus kebo nusul gudel, kalau jalur komunikasinya itu kita masih, aku iki pahlawan ee, dan sebagainya dan sebagainya, mereka itu juga dalam tanda petik aku ya pahlawan ee, aku wingi gelut ya menang, ini alam arti yang klithih itu, ternyata dia punya persoalan tersendiri. Mungkin kalau dia kita ajak dialog dengan cara mereka, akan keluar semua itu keluhan-keluhan dan sebagainya.

 

Bambang Widodo

Bambang Widodo: Kembali ke Jalan Yang Benar

Mari kita kembali ke jalan yang benar. Memang bagaimana kita bisa memperbaiki penyemaian Pancasila sebagai tujuan yang benar, dengan cara yang benar, dan melalui orang tua di rumah, dan para guru di sekolah. Guna membangun benteng pertahanan yang, bagi nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila. Kemudian yang kedua, terkait dengan penanaman nasionalisme. Umumnya nasionalisme hanya diajarkan nilai-nilainya. Tidak diajarkan implementasinya.

Oleh karena itu saya mengusulkan bagaimana penanaman nasionalisme itu dilakukan di kelas-kelas. Baik anak didik di usia pra sekolah sampai ke perguruan tinggi. Perlu adanya silabus nasionalisme yang berjenjang, metodenya aplikatif, begitu. Sehingga para guru mudah untuk menyerap dan para mahasiswa maupun para siswa mudah menjalankannya. Bagaimana kita bisa cinta tanah air, mengetahui sejarah kepahlawanan kalau di sekolah kita tidak diajarkan ilmu bumi, di sekolah tidak diajarkan pendidikan sejarah. Oleh karena itu, di dalam kurikulum yang gabungan ini, kita kan masih bingung ini, kurikulumnya yang mana, mudah-mudahan, dalam waktu yang tidak terlalu lama, di sana ada lagi geografi atau ilmu bumi, ada lagi di sana pendidikan sejarah, dan juga ada lagi budi pekerti yang luhur. Contoh di ruangan ini ada di dalam museum. Museum itu bisa sebagai wahana apalagi sekarang pemerintah sedang menggalakkan melalui peraturan pemerintah penguatan pendidikan karakter. Barangkali museum salah satu wahana untuk itu. Itu saja yang dapat saya sampaikan

 

Syahnas

Syahnas, Harian Jogja: Saya Syahnas dari Harian Jogja

Kebangsaan itu tema umum. Nah dari fenomena kebangsaan itu ada fenomena klithih. Nah bagaimana kita sebagai generasi milenial itu dapat meninggalkan atau mengentaskan masalah klithih. Karena yang saya alami itu, teman-teman sangat gelisah dan belum ada penanganan dari pihak pemerintah, seperti itu. Lalu saya juga menyampaikan prestasi yang ada di depan itu, ada juga prestasi dari teman-teman game sendiri yang tidak terliput. Jadi mereka berhasil membawa nama Indonesia di kancah internasional dalam game export, begitu, terimakasih,

Lihat Juga

Alimatul Qibtiyah M.Si., M.A., Ph.D: Dalam Kepemimpinan, Wanita dan Laki-laki Punya Hak sama

KEPEMIMPINAN wanita, hingga hari ini masih saja sering diperdebatkan atau bahkan dipersoalkan. Padahal, semestinya hal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *