Selasa , 21 November 2017
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VIII: Dialog

Diskusi Kebangsaan VIII: Dialog

Darto Wahidin

Darto Wahidin, Masiswa S2 Ketahanan Pangan.

Saya rasa diskusi ini menarik sekali. Pertama saya sampaikan pada dasarnya lembaga DPR-MPR RI  yang kita saksikan melalui media massa, melalui internet terjadi perpecahan. Seperti kita ketahui di dalam politik memang penuh dengan intrik kekuasaan, yang diperebutkan  juga kepentingan partai politiknya. Tetapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini Pancasila terabaikan. Sebagaimana dalam program-program pemerintah, maupun di dalam UU, selalu Pancasila menjadi nomer satu. Tetapi pada dasarnya kebijakan-kebijakan yang ada itu Pancasila terpinggirkan.

Lalu Bagaimana Pancasila di era globalisasi ini, di era yang begitu sangat ketat persaingan ini,  posisinya berada di mana? Bahkan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang, lembaganya diketuai oleh Yudi Latif, tapi realitasnya di lapangan itu hanya sebagai lembaga, di lingkungan kampus kita tetap menerima mata kuliah pendidikan kewarganegaraan, tetapi realitasnya Pancasila itu tidak diamalkan, kebetulan saya S1-nya dari Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, banyak sekali anak-anak muda kita  yang apatis  terhadap nilai-nilai Pancasila tersebut.

Seperti disampaikan Prof Dr Sudjito SH MSI, dalam makalahnya berkaitan dengan SARA, yang terkait dengan pilgub DKI Jakarta. Di pilgub DKI Jakarta itu sesungguhnya mempertontonkan bagaimana proses  kebangsaan kebhinnekaan tunggal ika terpecah belah, sehingga masyarakat yang di  bawah seperti yang  ada di daerah saya, bagaimana pemilihan kepala desa atau disebutnya di daerah Cirebon, saya dari Kuwu, ada seorang yang orang tuanya  itu cerai-berai tapi kemudian dijadikan sebagai kampanye, oleh pihak lawannya. Bagaimana kita mampu mengurangi efek dari masalah SARA ini, karena sesungguhnya SARA ini kan sudah lama terjadi , seperti  dulu ketika  Sampit dan di daerah Kalimantan lainnya.

Mengenai mentalitas maritim, kalau dijadikan buku, sesungguhnya sangat bagus. Saya baru tahu sekarang, yang saya ketahui kemarin saya baca tentang revolusi mental, tetapi sekarang ada mentalitas maritim.

 

Muhammad Taufiq Abdurrahman

Muhammad Taufiq Abdurrahman, Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Yogyakarta.

Waktu saya kecil pernah berfikir, sebenarnya lambang negara kita itu Garuda, itu berjenis laki atau perempuan. Tapi itu bukan pernyataan saya , sejak saya kecil saya menilai seragam menjadi sesuatu yang wajib dipakai dari TK, SD, SMP sampai SMA. Hal ini menyebabkan seragam di alam pikiran saya sebagai sesuatu yang konteksnya rapi, indah, dan baik. Ini membuat saya berpikir, sesuatu yang seragam itu pasti rapi, indah, dan baik. Bahayanya, juga pemikiran ini terbawa dalam bidang suku, ras, dan agama. Seragam itu pasti baik. Jadi pertanyaan saya, apakah mungkin pemikiran seragam itu yang membuat kita lupa bahwa Tuhan menciptakan kita beragam, terimakasih.

 

Fauzi Rosyidi

Fauzi Rosyidi, Mahasiswa S2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis MM UGM

Karena saya masih muda, masih lemah jam pengalaman dan jam kerja, jam terbang, sesuai umur, saya ingin menunjukkan poin yang saya tangkap, setelah itu baru masalah yang saya pandang. Saya menangkap kurang lebih ada 4 poin, poin pertama kurang lebih sudah dijelaskan, yang pertama adalah lima poin Pancasila, Ketuhanan, kita harus berketuhanan yang berbudi luhur, setelah itu hormat-menghormati, lalu berketuhanan jangan lepas dari kebudayaan. Poin kedua kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan, setelah itu terus poin berikutnya corak kebangsaan, entah ini corak kebangsaan Indonesia, entah berdasar geografi, demografi, kultural, setelah itu tantangan media sosial, karena faktanya adalah saat ini, itu kalau kita melihat ada pola saat ini kan the big is the small ya, atau the strong is the weak, disitu ada fenomena kedua, the fast is the slow, terus yang berikutnya ada fenomena bahwasannya berkelompok selalu mengalahkan yang sendirian. Habis itu terus poin yang terakhir adalah dua civil society, yang berharga sebagai aset bangsa, tadi kurang lebih disebutkan NU-Muhammadiyah, dan keputusan hasil keputusan sembilan request ini luar biasa. Masalah yang saya pandang adalah yang jadi dasar pandangan pertanyaan saya adalah untuk kasus yang DKI, dan kedatangan ratusan ribu pendukung demo membuat saya bingung antara yang benar dan yang salah itu yang mana. Karena akhirnya di situ serba bias, substansi yang saya garis bawahi adalah bingung harus berada di sisi mana, dan bingung meletakkan sikap.

 

Jumiarto

Jumiarto, STIKES Wira Husada

Perlu diketahui bahwa STIKES kami  85 % mahasiswa berasal dari timur, dari NTT, NTB bahkan dari Sumatera juga banyak, ada beberapa, maaf, dari Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Maluku, dan sebagian kecil justru dari Jawa. Jadi menurut hemat saya amat penting bagi STIKES kami. Di Kampus  tempat kami sudah  seringkali diadakan suatu acara baik character building, ada juga diskusi dalam suatu amal sosial,  tentang kebangsaan. Namun kesannya justru mengejutkan karena kesannya  apa yang kami lakukan itu sebetulnya seperti menjawakan mereka. Bahwa yang kami lakukan adalah bahwa kalau mereka ada di institusi kami, ya tolonglah bersikap hormat kepada orang lain. Misalkan kalau mereka lewat di depan kami, sopanlah sedikit, mereka sepertinya tidak mempunyai unggah-ungguh. Jalan ya hanya jalan saja, uthuk-uthuk-uthuk, seperti itu ya. Tapi ya seharusnya sedikit membungkuk, menghormat, minimal tersenyum. Kalau masuk ruangan, tanya dosen di situ, mereka masuk ruangan, ucuk-ucuk-ucuk, dicari semua ruangan, yang dicari tidak ada keluar lagi.

Tanpa  sepatah kata apapun. Sehingga kami harus membiasakan mereka untuk tidak seperti itu, tolong  kamu menghargai kami, di sini tanya ke siapa-siapa, sehingga kami menjadi ragu ragu juga  seperti kata teman kami tadi, apakah yang kami lakukan itu menjadi suatu hal yang salah, bahwa kami ingin menjawakan mereka atau mungkin ada suatu, intinya kami ingin dituntun seperti apa sebenarnya pendidikan yang bisa kita lakukan terhadap mahasiswa-mahasiswa kami. Sedikit lagi. Pesan sedikit kepada pemerintah, bahwa pembangunan kebangsaan atau toleransi ini kok  sedikit diacak-acak oleh pemerintah. Terutama untuk Kementerian Pendidikan, yang sekarang ikut di Kemenristek Dikti.

Kalau dulu kita semua yang sepuh-sepuh kayaknya kalau setiap hari,  bulan Desember kita libur 1 bulan, sehingga kita bisa bertemu bersama, kemudian bulan Juli kita  juga libur, tetapi kalau sekarang, mungkin dari pihak kami STIKES liburnya bulan Juli. Mungkin  di UGM liburnya bulan Agustus, mungkin dari UIN liburnya bulan September. Sehingga kalau bertemu dengan teman itu susah sekali, apakah ini menjadi satu kesan bahwa ini ada juga  semacam di pemerintah tidak mendukung adanya kebersamaan dalam hal toleransi.

 

Endang

Endang, Kapolsek Wirobrajan

Saya  tertarik dengan akan dibentuknya University anti radikal.  Ini penting. Karena alasan saya, dasar saya adalah Jogja barometer seluruh Indonesia. Itu yang pertama. Yang kedua, saya tertarik tadi dengan toleran, yang pertama tentang pemahaman, pengakuan, dan penghormatan dari Pak Prof Sudjito, ternyata di lingkup saya Pak, yang sangat kecil Kecamatan Wirobrajan, itu sudah mulai pudar. Kenapa, menurut kami yang berada di lapangan, yang sering langsung berhadapan dengan masyarakat, mahasiswa, dengan anak sekolah, toleran berubah menjadi intoleran karena ada kepentingan pribadi. Untuk skala besarnya politik dan kepentingan agama.

Salah satu contoh, di tempat kami ada dua titik, yakni di Kelurahan Patangpuluhan yang menjadi pengawasan kami, karena ada provokator radikalisme, dan orang ini lulusan dari negara Arab. Untuk itu, kami mohon mahasiswa-mahasiswa dari seluruh perguruan tinggi yang ada di Jogja ini adalah aset bangsa, di kemudian hari akan menjadi pemimpin, tolong segera direalisasikan Universitas anti radikal. Kemudian tentang klithih, yang sekarang  marak. Klithih ini juga implementasi dari intoleran. Klithih ini, sangat miris, pelakunya di bawah umur. Seperti di tempat kami ada Muga dan Mutu yang skop kecil, yang meruncing, apalagi yang di wilayah Yogyakarta yang baru kemarin sudah terungkap pelakunya yang membunuh, yang eksukotornya itu adalah umur 16 tahun, dan dia kalau ditanya, dia tidak merasa berdosa. Hanya iseng, karena ini kecintaannya terhadap geng. Kemudian kenapa klithih itu sangat fenomenal, karena di Jogja, kalau di Makassar, di Jakarta, itu penusukan itu setiap hari ada. Tapi tidak menjadi fenomenal. Tetapi karena Jogja ini  pengemban kota budaya, kota pelajar, itulah yang sangat menjadi pembeda. Mungkin itu saja Pak dari kami, mudah-mudahan direalisasi karena kami kalau masuk kampus, ketanggor, karena demokrasi. Dan kami informasikan juga HTI, itu di Jogja kebanyakan adalah mahasiswi. Itu sudah ada di catatan kami, dan itu memang benar-benar ada. Mulai dari kampus yang di ringroad, utara, maupun di sini ada.

 

Gatot Marsono

Gatot Marsono, Paguyuban Wartawan Sepuh  (PWS)

Begini Pak, di tengah hiruk-pikuk negara bangsa, saya  mendoakan Presiden dan Wakil Presiden padha kompak, sehat, karena serbuan dari berbagai penjuru luar biasa bagi yang mengikuti. Kalau yang cuek bebek ya luweh-luweh. Hiruk-pikuk  PCC tadi prihatin saya, pejabat ki kerjane apa? Kan toleransi. Ini nanti akan saya ungkap  beberapa bentuk toleransi. Pansus, KPK, sama KPK. Ini seperti golek momongan, golek slamet  gara-gara nama oknum DPR disinggung-singgung oleh Sekretaris KPK,  opini publik sudah tidak  karuan,  kacau-balau.

Kemudian kawin siri.com, aduh, iki apa maneh, dan istilah kawin siri itu lho Pak, dan nuwun sewu keluarga besar Islam kan tersinggung bener. Bagi yang tersinggung, bagi yang hobi terserahlah. Kemudian, ini fakta saja lah, yang lucu itu apa ya, kok sepertinya banyak tokoh-tokoh seperti malaikat, padha ngomong tentang kebebasan. Sekarang kembali soal tema diskusi. Toleransi keluarga menipis, toleransi kultural apalagi, toleransi politik tansaya panas. Toleransi sosial bisa dibaca, ditonton setiap hari. Juga empiris, ini tadi juga ada yang tanya, kepada  Menteri Pendidikan Tinggi itu kayak seperti pendidikan sekarang, sekolah sampai Sabtu, hari Sabtu Minggu libur, pro dan kontra, itulah bhinneka tunggal ika.

Saya hanya mengusulkan dari forum sarasehan ini diskusi  kebangsaan ini mencetuskan suatu gagasan yang luhur, berbudi luhur, contohnya, dari DIY melalui wartawan sepuh atau PWS ini mbokyao memberikan poin-poin penting kepada Bapak Presiden. Sampaikan toleransi yang menyeluruh, jadi kita selalu kecolongan-kecolongan terus Ndilalah wae ana menteri sing sok ngomong salah, ya wis begjane Pak Jokowi lah, dan juga oleh sebab itu dari DIY ini mohon juga tadi ada radikal-radikal itu tadi bersih radikal kampus saya setuju, cuma bentuknya ya sing njawani. Jadi bisa dipakai untuk seluruh Indonesia. Maksud saya njawani itu basicnya budi pekerti luhur, dan sekarang anak-anak itu tidak mengerti budi pekerti luhur.

 

Vincensius Ferdi Jeghout

Vincensius Ferdi Jeghout, Komite Retrukturasi Pendidikan (KRP)

Menarik tema diskusi, pandangan, wawasan mengupas persoalan kebangsaan, dan solusi yang ditawarkan oleh kedua narasumber dengan sangat memadai. Sehingga mencerahkan forum.

Saya mencoba untuk mengarah suatu pandangan kritis, pertanyaan berikut kepada Prof.  Sudjito sebagai pakar hukum, karena ucapan dan tindakan perbuatan pemerintah kita kadang-kadang sudah overlaping dan overacting, ucapan, perbuatan kontra produktif. Saya to the point, kita harus hati-hati khususnya pemerintah, saya tambahkan hati-hati dan selektif, terutama melakukan suatu komunikasi politik dan kebijakan politik. Satu contoh mumpung ini masih peristiwa bulan September, sensitif dan sangat substantif . Bahwa memang suatu ideologi akan kuat apabila ketahanan bangsa ini ditegakkan secara komitmen oleh pemimpin bangsa.

Salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Jokowi melakukan kerjasama dua negara antara Tiongkok dan China. Sebagaimana kita tahu bahwa ada UU, ada Tap MPR yang mengikat negara ini, menurut Pak Sudjito sebagai pakar hukum, apakah ini melanggar UU atau tidak, konstitusional tidak, karena belum dicabut Tap MPR No 26 tahun 1966 diperkuat dengan UU Nomer 27 Tahun 1999 tentang kejahatan penjahat negara. Manakala bicara tentang komitmen, kebijakan negara, tetapi ucapan dan pikiran tidak tidak berpegang teguh pada ideologi bangsa, ini bisa mengarah pada kedaulatan bangsa  . Supaya tidak tergadai. Berbahaya atau tidak menurut Pak Sudjito sebagai pakar hukum. Itu pertanyaan saya.

 

Bambang Widodo

Bambang Widodo, Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS)

Pancasila sebagai ideologi, dan kepribadian bangsa,  seharusnya nilai-nilai Pancasila menjiwai setiap kegiatan, perasaan, ucapan dan perilaku tindakan seluruh bangsa Indonesia. Namun kenyataannya belum sepenuhnya demikian.  Masih banyak ketidakselarasan antara nilai ideologi dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan bangsa Indonesia sedang bearada dalam situasi darurat ideologi.

Yang kedua terkait dengan bhinneka tunggal ika, Prof Sudjito barangkali masih  ada kelanjutannya, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa. Beberapa waktu yang lalu menjadi wacana publik, dwi kewarganegaraan, sehingga sampai ada menteri baru diangkat dicopot lagi, ini bagaimana, apa kita memang toleransi terhadap dwi kewarganegaraan itu.

Yang ketiga, musuh riil kita adalah kemiskinan yang berkepanjangan yang bisa melumpuhkan karakter dan budi pekerti luhur serta mendorong tumbuhnya sikap bijak, pembangunan kita sekarang itu mestinya pembangunan Indonesia, tapi ternyata pembangunan di Indonesia.

Menggusur kemiskinan tapi ternyata menggusur orang miskin, ini saya mengambil pendapat dari Prof Edi Swasono. Sekarang juga terjadi korupsi yang menghebat, setiap hari kita disuguhi penangkapan OTT, berkembang sentimen negatif, suasana ketika pemerintah dalam mengelola ragam kelompok komunal, ideologis, primordial. Pada kesempatan  ini saya menjadi ingin tegas, mari kita tidak toleransi lagi terhadap para koruptor, tidak toleransi lagi kepada paham radikalisme, dan yang terakhir tidak toleransi terhadap terorisme. Terimakasih.

 

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Oleh: Prof Dr Suwardi Endraswara  Membahas Kebangsaan dalam Religi dan Budaya cukup rumit.  Pertama, Yang saya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *