Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VII: Dialog

Diskusi Kebangsaan VII: Dialog

Rudhatan

Rudhatan (PWSY)

Saya  ingin mohon penjelasan Bapak Idham Samawi, beliau di akhir pembicaraan menyebutkan pertanyaan, kapan sih kita ini melaksanakan Pancasila sebagaimana mestinya.

Menurut saya kalimat itu agak kontradiktif dengan fakta yang saya tahu, bukankah Pancasila itu  semenjak dulu bahkan sebelum Bung Karno menyatakan Pancasila ada, itu sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Kita bisa lihat dari Batak, Sunda, Jawa, Madura, di mana pun, sikap mereka, bangsa kita itu sungguh-sungguh sudah mencerminkan hakikat dari Pancasila itu, hanya belum dirumuskan di dalam point-point yang lima. Sehingga saya agak bingung, secara faktual kita sudah melaksanakan Pancasila, hanya belum formal. Begitu saja, tapi beliau Pak Idham menanyakan kapan sih kita ini sudah melaksanakan Pancasila secara semestinya?.

Yang kedua, ini saya agak heran, kagum dengan Bapak Bambang, tidak salah mudah-mudahan. Beliau menyinggung masalah NKRI, masalah kebangsaan, itu ternyata sampai hari ini hanya alat untuk narsistis kita, atau barangkali jongos. Untuk beliau-beliau di sana yang di Jakarta, menurut saya memang ada benarnya, dan semua jargon yang disampaikan oleh orang yang bicara kebhinnekaan, NKRI dan sebagainya itu hanya dalam slogan saja. Belum include pada permasalahan. Atau boleh dikatakan lain hanya menjadi alat-alat untuk narsis.

 

Iman Santosa

Iman Santosa (PWSY)

Kita melihat sekarang ini mulai timbul pelecehan, ini yang membuat saya itu sangat miris, mengapa, bahkan diuangkapkan seorang tokoh yang cukup terpandang menyampaikan bahwa sila pertama itu Sila Keuangan. Ini bagaimana kita bisa sampai seperti itu. Sebaiknya ada langkah tegas langkah dari pemerintah jangan hanya  diam saja. Apakah tidak ada upaya, supaya yang seperti itu tidak ditindak melebar, kalau tidak segera diindahkan.

Disampaikan bahwa Muhammadiyah juga berkomitmen bahwa Pancasila ini menjadi satu-satunya dasar negara Indonesia, namun dalam kenyataan yang kita lihat, saya masih merasakan, ada juga belum melaksanakan keberagaman ini dengan baik, terutama misalnya dalam pendidikan. Mungkin itu yang perlu kita kritisi lebih mendalam lagi.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Pancasila adalah Spirit Dekoloninasai

Seperti apa sih pendidikan kita ini, terutama pendidikan umum, yang sekarang ini kita lihat perbedaan-perbedaan itu sangat nyata. Misalnya sekolah Katholik tidak bisa menerima yang Islam. Sekolah Islam tidak bisa menerima yang Kristen, misalnya. Kemudian keharusan sekolah umum yang Islam harus menggunakan pakaian kerudung, misalnya. Hal-hal ini yang saya lihat perlu kita cermati lagi apakah hal-hal seperti ini bisa ditolerir artinya bisa diteruskan. Yang namanya Bhinneka, menurut saya semua orang masuk.

Ke depan perlu lebih introspeksi lagi. Kemudian tentang narsis, memang kita itu narsis ya. Apalagi kalau ada nilai, pasti langsung narsis ya. Foto-foto di segala tempat masuk. Termasuk narsis dalam bidang agama. Kita terlalu menanamkan bahwa agama kita yang paling baik, paling benar, agama lain yang tidak benar, salah, dan itu juga sampai kepada anak-anak, yang sangat kita sayangkan. Nah itu berkaitan dengan pendidikan juga. Jadi anak-anak kita itu sudah sangat terpolarisasi. Kadang-kadang di kampung pun sudah mulai seperti itu. Jadi sudah ada yang mengelompok menurut agamanya sendiri karena penanaman yang salah dari pendidik, apalagi orang tua, masyarakat atau guru kepada anak-anak kita. Jadi barangkali yang perlu mendapatkan perhatian.

 

Sefira

Sefira (Mahasiswi Atmajaya dari Fak Hukum)

Di sini saya mau bertanya kepada pembicara bagaimana kita sebagai mahasiswa menyikapi kondisi kita mahasiswa yang pola pikirnya belum terbuka terhadap perbedaan, bagaimana cara menyikapinya.

 

 

 

Agus

Agus (Mahasiswa Atmajaya)

Sebenarnya untuk toleransi itu sedikit-sedikit sudah mulai dijalankan. Seperti saya itu sedikit ini cerita tentang pengalaman, saya ikut pengajian yang ada di Bantul, dilaksanakan oleh Emha Ainun Nadjib, Cak Nun, nah di situ salah satu cara kita melatih toleransi kita itu, saya sebagai agama di luar agama muslim itu belajar mengikuti bagaimana cara mereka mengaji, apa yang didiskusikan itu adalah nilai-nilai humanisme.

Simak juga:  Mantan Wartawan Yogya Meninggal Saat Diskusi Kebangsaan

Kemudian juga saya ini sering berkumpul dengan anak-anak Batak, anak-anak Jawa, Maluku, juga Papua, dan kami berkumpul itu dipimpin oleh salah satu dosen Atmajaya mengajak di KPUD Atmosuryo, beliau salah satu dosen yang mengajar ke kami nilai-nilai humanisme.

Saya berkumpul dengan anak-anak Batak yang beragama Islam, kemudian dengan anak-anak Papua, Maluku yang beragama Islam. Kemudian kami di situ juga diajarkan bekerjasama kemudian diajarkan bagaimana berpikir bahwa hidup itu tidak hanya berfokus pada memenuhi kebutuhan sendiri untuk kebutuhan keluarga, ayah, ibu, kakak, istri, pacar, seperti itu.

 

Ning Rintiswati

Ning Rintiswati

Saya sudah pensiun dari mengajar di PT negeri, dari perjalanan karir saya, saya melihat ternyata, sering menjadi alat untuk eliminasi dalam satu bidang.

Juga alat untuk eliminasi misalnya masuk menjadi pegawai atau peningkatan karir, itu kenyataan dan menjadi umum tidak hanya saat ini saja tetapi sudah lama. Saya kira itu memprihatinkan, ternyata kita masih dalam kondisi seperti itu, maka ini kenyataan yang terjadi. Kalau di luar negeri misalnya, maka kita tidak pernah ditanya agama kita apa. Mau masuk perguruan tinggi, mau masuk kursus, tidak pernah ditanya agamamu apa. Dan kita juga tidak pernah menanyakan agama anda apa, ada itu tidak sopan. Anda itu sangat rasism. Tapi di sini, di Indonesia yang kita cintai ini, agama masih menjadi satu komoditas untuk macam-macam, saya kira kita sebagai generasi tua, sangat memprihatinkan dan semoga dalam berbagai seminar ini tidak terjadi lagi, karena agama mestinya tidak begitu, kadang-kadang saya juga protes pada hati kecil saya sendiri, jadi kalau ditanya, di KTP, atau di apapun, selalu ditanya agamamu apa. Saya kira itu. Jadi ini memang yang harus kita selesaikan.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Kebangsaan, Pancasila dan Keberagaman

 

Fernando

Fernando (Mahasiswa Atma Jaya)

Saya tertarik dengan apa yang dikatakan Pak Rektor, bahwa pilkada DKI kemarin itu sebetulnya ada dua dosa yang ditanggung Ahok, yaitu Cina dan Kristen. Kalau sampai sekarang kita menganggap itu dosa, Pancasila sebagai dasar negara itu bohong.. Kedua, seperti kita ketahui kemarin patung di Tuban, ditutup dengan kain, saya bilang kaum-kaum sumbu pendek ini, apa sih yang menjadi masalahnya, apakah orang-orang, maaf ya, teman-teman kaum muslim itu setiap mau ibadah, maaf ya ada suara dari surau-surau, dari masjid-masjid, apakah kita diam berlalu, tidak, tetapi kenapa pelaku diam saja, ada yang tutup telinga, kayak kita diam seperti itu.

Terus satu lagi, jujur saya sangat senang sekali dengan diskusi seperti ini Pancasila, dan kalau saya bilang salah satu pemimpin bangsa, ada unsur SARA, kenapa unsur SARA itu tidak ditangkap? Sampai sekarang,  anak muda, kita baru sadar bahwa kita terlalu ikut pada permainan dalam  agamanisasi politik yang dicampur dengan agama,  boleh dilihat di semua media, menampilkan politik-politik dan seolah-olah itu hal yang baik-baik. Sebenarnya di balik itu ada kepentingan, seperti yang dikatakan oleh salah seorang pembicara, partainya saja sudah menolak, tapi masih duduk di DPR. Jika itu kembali lagi, jangan kita menutup mata, karena yang ada di depan mata tidak baik. Okelah lima tahun ini diakhiri, jika kita masih memilih, yang bodoh siapa? Terimakasih.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIX: Kepemimpinan Berdasar Pancasila

Prof. Dr. Kaelan, MS Topik yang kita letakkan sebagai substansi diskusi saat ini memang berada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.