Selasa , 21 November 2017
Beranda » Pariwisata » Diskusi Kebangsaan VI: Dialog

Diskusi Kebangsaan VI: Dialog

Rudi Sofyan

Rudi Sofyan (Mahasiswa STIPRAM Yogyakarta)

Masalah pariwisata yang berkelanjutan  masih mempunyai kelemahan. Yang pertama, UU No 10 Tahun 2009. Meskipn UU itu sudah direvisi, tapi masih memiliki kelemahan di beberapa aspek. Contohnya kelembagaan dan pengaturan sumber daya kepariwisataan serta SDMnya. Perlu kita ketahui dari sistem yang ada di Indonesia ini masalah perijinan begitu sulit, untuk melakukan atau membuka surat perijinan . Kedua bisakah pemerintah menyiapkan sekiranya 2% untuk anggaran APBD dan APBN untuk masalah kepariwisataan. Beda dengan pendidikan yang sudah wajib 20 % . Saya kira, untuk ke depannya Insan pariwisata  perlu untuk menangani permasalahan yang ada di dunia pariwisata ini agar tetap berkelanjutan. Sedangkan dari dulu pemerintah yang sebelumnya berpikir bukan di destinasi wisata. Sekarang di zamannya Pak Jokowi, lebih berpikir untuk mengembangkan dunia wisata. Orang bilang itu beda mata beda kepala, beda pemikiran . Beda lagi peraturan ke depannya.

 

Gatot Sumarsono

Gatot Sumarsono (Anggota PWSY)

Sapta Pesona yang sudah disosialisaikan di DIY agar ditambah. Untuk DIY yang istimewa ini jangan sampai meniru pariwisata nasional. Marilah kita memfilter apa yang dikatakan para ahli pariwisata, diselaraskan dan diserasikan dengan keadaan DIY yang istimewa tentu akan menjadi. Oleh karena itu bukan lagi Sapta Pesona tetapi saya usul Hasta Pesona. Sumber hasta pesona itu, ya para pemimpin yang mengetrapkan Hasta Brata dalam kepemimpinannya. Sebagai contoh yang jelas adalah wisatawan yang makan di warung atau restoran harganya dinaikkan tanpa sepengetahuan wisatawannya. Buang air di sembarang tempat dll.. Tukang becak, Sais andong, harus didorong untuk bisa menjaga kebersihan kota dengan membuat agar kudanya tidak membuang kotoran di sembarang tempat. Bahkan bisa dilombakan bagaimana agar kuda kuda itu diberi hiasan seperti pakaian agar menarik sekaligus menjaga keindahan dan kebersihan kota.  Jangan hanya matanya yang dihias dengan kacamata kuda, tetapi bagaimana sekarang agar kuda menjadi cantik dan  mengubah yang biasa menjadi luar biasa di bidang pariwisata.

Saya usul kepada panitia agar acara Diskusi Kebangsaan ini tidak saja dilakukan di dalam ruangan, tetapi kalau perlu di luar ruangan, out door.

 

Ning Ristiwati

Ning Ristiwati (Direktur sebuah Akademi Kesehatan):

Dampak di bidang Kesehatan perlu diperhatikan.
Mengenai pariwisata ini saya ingin menyampaikan sharing saja, bahwa sesuatu yang kelam dari pariwisata ini juga ada, terutama bidang kesehatan, yaitu penyakit HIV contohnya. Ini adalah dampak negatif dari pariwisata, di mana daerah itu berkembang wisatanya maka HIV meningkat. Contohnya di Jogja, di Parangtritis sudah ada beberapa yang sudah kena HIV dan meninggal, juga anaknya kena. Beberapa bulan lalu saya juga dapat info dari puskesmas setempat. Ini adalah contoh di Bali juga begitu bahwa dengan meningkatnya pariwisata di sana, HIVnya tinggi, tetapi uniknya di sana bahwa HIV yang tinggi ini justru mengenai penjaja seks yang asalnya tidak dari Bali, karena dari Bali tidak ada penjaja seks. Yang asalnya dari dari daerah lain dan sesuatu yang mungkin di dalam budaya kita adalah bahwa penjaja seks kita ini biasanya tidak educated, tidak seperti Thailand, Philippina, Australia, mereka punya asosiasi yang disiplin menggunakan kondom. Di Indonesia mereka tidak mau, artinya mereka ini bargainningnya sangat lemah, sehingga manut pada pelanggan. Jadi ini yang saya mohon dalam wisata ini wisata seks juga mengikuti. Jadi juga mohon untuk bisa dipikirkan sebagai bumper budaya, bumper kesehatan sehingga orang kesehatan juga tidak kelipukan karena HIV.

 

Esti Susilarti

Esti Susilarti (Anggota PWSY) 

Anggap saja saya melakukan sharing,  saya hanya melihat sekitar saya, terkait dengan begitu banyak persediaan kamar hotel bintang lima sampai bintang satu. Saya melihat sekarang ada tren mereka menyewakan rumahnya sebagai guest house, langsung.  Jadi dia punya rumah ditata sendiri kemudian diinternetkan. Saya melihat ada beberapa saya itu namun luar biasa pendapatannya . Karena, dalam satu bulan tidak kurang 15 juta penghasilannya yang dikelola oleh suami istri itu. Ikutannya ternyata banyak sekali. Dari rumah ia bisa menawarkan tour, dari sana lalu mengatakan apakah perlu oleh-oleh yang perlu dipaketkan dan seterusnya, dan seterusnya. Dia bisa mengajak tamunya itu ke toko batik dan dapat komisi dan seterusnya dan seterusnya begitu. Ini yang saya lihat baru satu, tapi kemudian itu menjadi trend.

Sekarang orang tidak lagi pesen hotel bintang-bintang, tapi ternyata mereka lebih suka ke guest house yang lebih keramahtamahan tadi, sustainability-nya lebih dapat. Saya tidak mengerti, apakah  ada regulasi untuk hal semacam ini. Lalau bagaimana pemerintah mau masuk ataukah sudah tidak perlu pemerintah. Karena kalau kita lihat langsung ke internet langsung dapat. Banyak sekali dari wisatawan baik dari Eropa, Perancis, dan kemudian beberapa kali saya lihat Malaysia. Saya pikir  ini perlu regulasi, tapi yang lalu saya tanyakan sejauh mana pemerintah melihat gejala ini sebagai dampak dari pariwisata, dampak buruk atau dampak positif, karena memang menghidupkan ekonomi kerakyatan

 

Barel Fauzi

Barel Fauzi mahasiswa S-2 Fakultas Ekonomi UGM.

Kebetulan saya ikut membantu di Koseta. Langsung to the point-untuk Bapak dari STIPRAM ini ada sedikit masukan. Untuk mahasiswa ke depannya, seyogyanyalah diberi sertifikasi kemampuan. Karena kalau tidak salah dari Puspar UGM menyarankan di dalam  komponen destinasi pariwisata, industri pariwisata yang terkelola, sebaiknya perlu standarisasi. Tidak sembarang orang bisa menjadi guide dan mereka terlatih untuk hal hal yang mungkin di luar dugaan. Hal ini untuk mencegah terjadinya berbagai keadaan yang mungkin dalam keadan luar biasa. Untuk hal-hal lain umpamanya bahasa dan lain-lainpun perlu dipersiapkan secara matang, agar bisa terserap di dunia industri pariwisata dengan baik.

 

Siti Samsiar

Siti Samsiar (Fakultas Pertanian UPN Veteran Yogyakarta)

Saya dari pertanian tetapi tertarik  pariwisata. Mengapa? Karena pertanian kalau berdiri sendiri, seperti  banyak orang menyatakan,  tidak dilirik. Lalu kalau pertanian ini berkolaborasi dengan pariwisata tampaknya sangat menarik. Seperti dikatakan I Gede Ardhika, bahwa desa merupakan satu lahan yang sangat bagus untuk wisata Indonesia. Karena kita punya desa yang sangat banyak, dengan keberagaman yang juga bermacam-macam. Yang menarik, lagi-lagi seperti dikatan Ardhika bagaimana merancang wisata desa yang bisa memberikan nilai-nilai sebagai peningkatan kualitas hidup wisatawan. Karena itu, bagi saya penting mengelola desa sehingga wisatawan  tidak hanya sekian jam, berada di desa itu, tetapi bisa mungkin berbulan-bulan, karena ada nilai yang mereka cari di desa yang membuat hidup mereka, kualitas hidup mereka menjadi lebih meningkat.

Saya kira, tujuan arah daripada membangun wisata itu adalah wisata nusantara. Untuk mewujudkan wawasan nusantara, sehingga seharusnya kita  berwisata ya di nusantara. Nah kendalanya, kalau kita berwisata ke Raja Ampat, misalnya, mahal sekali. Tapi kita ke Singapura, dananya secukupnya saja sudah bisa. Saya rasa penting untuk menghilangkan kendala ini sehingga wisatawan nusantara  betul-betul melakukan wisata ke seluruh Indonesia.

Saya melihat, bahwa di Yogya  tingkat kemiskinannya lebih besar daripada tingkat kemiskinan nasional, tetapi kalau kita lihat masyarakatnya  sangat bahagia. Seperti dikatakan Ardhika, bahwa kemiskinan seharusnya tidak hanya diukur dengan di bawah 2 dollar,  tetapi juga dengan bagaimana sejahtera. Di  Yogya, saya kira kita sudah tahu, bahwa tingkat harapan hidupnya sangat tinggi, tertinggi di Indonesia, rata-rata tujuh puluh. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa masyarakat Yogya  bisa dikatakan miskin tetapi bahagia.

 

Yoachim Agus Tridiatno

Yoachim Agus Tridiatno (Atmajaya Yogyakarta)

Program-program pariwisata di negeri kita, kalau pinjam istilah anak muda jaman sekarang, programnya begitu  ‘woo…’ namun ujung-ujungnya hanya devisa, mendatangkan uang, setidaknya seperti dikatakan Idham Samawi. Dalam konteks itu,  saya baru saja  mempunyai pengalaman ke Bukit Rema, pengalaman konkrit, dan baru beberapa hari yang lalu, banyak orang yang ke sana tetapi saya sangat terkejut bahwa ada harga ketela  sepuluh ribu, lalu minum teh delapan ribu satu gelas. Nah artinya apa? Karena wisata itu sudah bukan lagi menjadi kesempatan bagi kami untuk bertemu penduduk, tetapi sudah diambil alih oleh investor dan seterusnya. Kalau kami ke Malioboro atau ke Sukowati, kami bukan membawa kesenangan atau apa, kejengkelan, karena harga batik misalnya lebih dua kali lipat dari harga sebenarnya. Dalam konteks kebangsaan, saya kira kita perlu mengelola wisata, salah satunya ada kebijakan mengontrol investor, mengontrol devisa agar tidak menjadi tujuan utama sehingga menghambat wisatawan betemu dan berinteraksi dengan penduduk.

 

Andi

Andi (Pelaku wisata)

Saya sebagai salah satu elemen dari pelaku kepariwisataan di tingkat desa, kebetulan saya mengelola desa wisata. Sangurejo, Sleman. Saya pengin membandingkan dulu ketika saya lahir di Bantul , saya merasakan atmosfir yang beda. Ketika saya ke Sleman, lereng Merapi di Sangujero, Turi, Sleman, di sana saya juga merasakan atmosfir berbeda. Apalagi sekarang, seperti tadi dikatakan bahwa negeri ini sudah bebas visa dan lainnya. Sebagai warga Yogya saya merasakan atmosfir yang berbeda juga. Artinya apa, pergeseran-pergeseran nilai yang kita rasakan di tengah masyarakat ini, sebenarnya membutuhkan kekuatan jati diri kita sebagai elemen bangsa tidak hanya dalam kepariwisataan, tapi nilai-nilai dalam kebudayaan . Ada kecenderungan ketika kita melakukan kegiatan kepariwisataan, wisata desa  justru budaya menjadi obyek benar-benar yang dieksploitasi habis-habisan. Saya mengambil contoh, ketika kita memiliki satu kebudayaan dan di situ kita pakai untuk kegiatan kepariwisataan, hampir tidak ada pemuda atau penerus generasi bangsa kita menghayati nilai-nilai dari kebudayaan atau nilai-nilai dari apa yang kita lakukan itu.

Kita melakukan satu kegiatan budaya, atau yang sebenarnya mengandung nilai kepribadian ; kita melaksanakan itu sebagai suguhan. Sedangkan  yang melakukan warga masyarakat itu justru bergeser, ini sebagai tontonan, bukan tuntunan. Padahal itu untuk dilakukan agar kita menjadi lebih berkarakter. Saya memohon tokoh tokoh  pengawal Pancasila dengan kebhinekaan juga terutama di undang-undangnya dan NKRI-nya harus terus digelorakan..

Kita juga berharap agar ada generasi muda pelaku pariwisata dan generasi penerus yang menyadari betul hakekat wisata dalam bingkai dasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 serta didukung undang undang Pariwisata. Hal ini saya ungkap supaya tidak terjadi degradasi, mengapa kita memiliki nilai-nilai fisolofi yang luhur di undang-undang kapriwisataan tapi justru nilai-nilai rupiah yang akan muncul. Ini benar-benar terjadi. Saya sangat berharap kita mampu  merumuskan konsep untuk menjaga kebudayaan tidak hanya menjadi aset kepariwisataan dalam hal ekonomi tapi juga justru menjadi aset membangun kebhinekaan dan kepribadian Indonesia.

Lihat Juga

Pelayanan dan Menu Masakan Diutamakan Hotel Cakra Kusuma

Advertorial SELAIN pelayanan kepada tamu yang ramah dan santun, masalah menu masakan yang menarik dan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *