Selasa , 16 Januari 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan IX: Dialog
Sesi Dialog Diskusi Kebangsaan IX "Kebangsaan dalam Religi dan Budaya" Ruang Koendjono Gedung Pusat lantai 4 Kampus II Mrican Universitas Sanata Dharma 24/10/17 (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan IX: Dialog

Totok Sudarwoto

Totok Sudarwoto Ketua LKMI: Kearifan Lokal Perlu Diperkokoh

Nama saya Totok Sudarwoto Lembaga Kebudayaan Nasional Indonesia. Saya terimakasih sudah mendapat kehormatan untuk diundang hari ini. Singkat saja, saya akan menanggapi Prof Suwardi, di sana pada saat beliau pengukuhan, kami juga menjadi salah satu tamu kehormatan. Luar biasa. Bukunya sudah banyak sekali. Jadi begini, saya kebetulan sangat bersyukur sebagai ketua umum LKMI ini paling tidak satu bulan ini kami keliling Indonesia dua  tiga kali ke pusat-pusat budaya dan pariwisata. Dari Danau Toba, Raja Ampat, Kalimantan, hampir semuanya. Nah, di sana kami menjumpai tiga kata ini, kebangsaan, religi dan budaya. Tujuan kami keliling Indonesia itu adalah untuk memberikan pernghargaan kebudayaan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan gubernur, bupati, walikota yang bisa merawat ketiga ini, kebangsaan, religi dan budaya yang saya jadikan . Sayangnya dari keempat narasumber ini, yang sangat saya kagumi ini, tidak ada satu ucapan pun  yang mengarah ke kearifan lokal. Kami keliling Indonesia itu menjumpai itu. Kearifan-kearifan lokal, di mana yang sakit, di mana yang tidak dirawat itu tampak sekali. Ada konflik, ada pertentangan antar agama, budaya, kebangsaan, tetapi yang berprestasi ini relatif aman-aman saja, dan itu kita berikan.

Jadi kearifan-kearifan lokal dan ini semuanya dipunyai oleh bangsa ini. Seluruh kepulauan Indonesia itu mempunyai kearifan-kearifan lokal yang sungguh luar biasa. Yang teryata tidak kita ucapkan hari ini. Nah betul, Prof Suwardi tadi, sekarang ini ada pembelokan-pembelokan , ya, istilah saya penyelewengan. Jadi kalau sekarang jaman amenangi jaman edan, itu sudah tidak lagi amenangi jaman edan, mestinya adalah amerangi. Katakanlah kalau jaman edan itu solusinya akan sedikit sudah tahu semuanya,  sing eling lan waspada. Tapi saya pernah diskusi dengan Dr Suliantoro sampai hampir marah dia, cara dia amenangi jaman edan, luwung melu ngedan tur ora konangan. Sekarang ini koruptor-koruptor itu belum ketahuan belum konangan wae kok, sebelum kena tangkap KPK dan memakai baju, saya bilang Bu Suliantoro, Panjenengan salah, masih ada lho yang ngonangi, yaitu adalah Gusti Allah iku ora sare. Ini dilupakan. Sedangkan kearifan-kearifan lokal ini mestinya memberitahukan Gusti Allah itu ora sare lho. Ayo aja dumeh, ayo sing jujur, gotong-royong dan sebagainya.

Kemudian, singkat saja, yang pertama kepada Prof Suwardi, ini menurut saya solusinya ,kita masing-masing daerah ini menghormati dan mengimplementasikan dengan perangkat-perangkat yang ada sekarang ini, itu Pancasila entah apa, itu adalah dengan kearifan-kearifan lokal itu. Terakhir, soal penyinggungan masalah Pancasila. Pancasila ini sekarang tatarannya sudah habis sebetulnya bukan kita diskusikan dan sebagainya, bahkan sekarang kenapa Pancasila kok masih seperti ini karena hanya sebagai pilar. Nah ini tantangan Pak Yudi Latif sekarang ini kenapa sekarang ini justru wis agek pirang sasi sudah gak terucap lagi karena apa, ya karena Pancasila hanya sebagai pilar, itu harus kita luruskan kembali, kita nilai bahwa Pancasila adalah sumber segala sumber dan sebagainya, selama ini hanya sebagai pilar, Marilah kita kembalikan Pancasila sebagai dasar hidup dan kini tatarannya bukan lagi mendiskusikan Pancasila tetapi tatarannya sudah implementasi, bagaimana saya menolong orang jatuh di jalan, nyumbang darah, itu adalah implementasi nilai-nilai Pancasila .

Terakhir kami tutup tentang garuda Pancasila, ini adalah lambang garuda Pancasila. Ketika saya bicara panjang lebar dengan Gubernur Papua Barat, itu beliau mengeluh, satu pernah mengeluh kepada Presiden SBY, waktu itu presidennya masih Presiden SBY, tanya kepada saya, ini Papua iki wis dikeki apa-apa otonomi khusus kok ya ra makmur-makmur. Lha Gubernur Papua Barat ini tak tuturi bilang gimana ya  Garudane mung mengone mung neng Aceh terus, ora tau mengo neng Papua, ya itu disampaikan di istana, ada peta, terus lha itu tengoknya saja ke Aceh, tidak pernah tengok ke Papua, begitu, terimakasih, terimakasih. (ASW)

 

Muhamad Iqbal

Muhammad Iqbal: Perlu Formulasi Implementasi Pancasila

Nama saya Muhammad Iqbal dari Universitas PGRI Yogyakarta. Ada sebuah syair dari seorang filosof, sebuah sarang burung apabila diletakkan di dalam ranting dahan yang rapuh maka tidak lama lagi sarang burung itu akan jatuh. Ideologi, budaya, religi, apapun ketika bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan tidak lama lagi akan tumbang. Persoalan yang kita amati tadi dari pembicara sudah, bagaimana membumikan nilai-nilai kebangsaan Pancasila, religi, nilai-nilai cinta, nilai-nilai kasih, ini yang masih belum sepenuhnya, maka tadi Bapak tadi mempertanyakan kembali, masihkah Pancasila itu dipraktikkan.

Yang terjadi justru Pancasila ditarik-tarik untuk kepentingan elit, kekuasaan. Padahal seorang filosof pernah mengatakan sekali religi dikotori maka semua akan rusak kepercayaan agama. Solidaritas akan ambruk, negara sakit, seperti yang terjadi sekarang ini ini. Tidak ada lagi dharma dan sebagainya. Dan kalau kita lihat, Pancasila ini sudah tidak ada lagi rasa, rasane wis ora ana. Kalau pujangga Mangkunegara IV sudah sembah raga, sembah cipta, jiwa rasa, ini rasane belum masih raga terus. Raganya Pancasila, dipilarkan terus. Tapi gak pernah masuk rasa. Piye, nglaras ning tidak pernah nglaras. Termasuk para elit kita mungkin ya, belum mau naik kelas. Kalau bahasanya Safii Ma’arif, belum mau naik kelas menjadi negarawan. Pertanyaannya, bagaimana memformulasikan kembali nilai-nilai Pancasila, religi, budaya, tadi yang penuh cinta kasih, nilai-nilai kemanusiaan, supaya negara kembali, masyarakat kembali rahayu, kembali tentram, tidak sakit lagi, santi, damai, darma, saya kira dalam konteks kekinian secara integrated, terimakasih. (ASW)

 

Bahru Fairus Rasyidi

Bahru Fairus Rasyidi: Mencari Solusi Pancasila sebagai Working System

Nama saya Bahru Fairus Rasyidi dari MM UGM, ada beberapa yang saya garis bawahi, yang pertama itu adalah agama menawarkan keselamatan. Terus ideologi menawarkan kebenaran, dan berikutnya saya menggarisbawahi adalah kemandirian, kedaulatan dan yang terakhir saya membuat kesimpulan berdasarkan apa yang menjadi pemikiran sebelumnya yaitu Pancasila itu sebagai working system. Karena tadi ada yang mengatakan bahwasannya saya setuju Pancasila tidak hanya dalam tataran ucapan tapi realisasi dan implementasi. Pertanyaan kita adalah bagaimana konsep Pancasila ini dalam bidang kebangsaan dalam religi dan budaya, mampu direalisasikan untuk menjawab Pancasila sebagai working ideologi atau working system, terimakasih.  (ASW)

 

Darto Wahidin

Darto Wahidin: Implementasi Pancasila harus menyentuh Dasar Kehidupan

Nama saya Darto Wahidin S-2 Ketahanan Nasional UGM, Sebenarnya masalah empat pilar ini disosialisasikan melalui MPR di goes to campus di eranya almarhum Pak Taufik Kiemas. Tetapi pada dasarnya kenyataannya adalah bahwa UUD itu pengejawantahan atau pengimplementasian dari Pancasila, tapi mengapa di antara keempatnya kok disejajarkan menjadi pilar atau tiang, seharusnya kalau tiang itu kan otomatis ada yang namanya atapnya, lha atapnya itu seharusnya Pancasila. Ini yang sebenarnya bertentangan, sekarang diubah kalau dulu namanya sosialisasi empat pilar sekarang namanya sosialisasi MPR Cuma pengubahan nama saja, diganti empat pilarnya. Tadi ditayangkan bahwa BJ Habibie masalah reformasi sebagai memori kolektif bangsa. Di era seperti sekarang ini Pancasila itu hanya dijadikan sebagai suatu simbol saja. Bahwa realitasnya di lapangan, kebijakan-kebijakan negara dan lain sebagainya, bahkan di dalam dunia kampus pun ada kurikulum pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan itu tidak serta merta mahasiswa dan masyarakat itu bisa yang namanya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila tersebut, ya kan, di era sekarang ini, apalagi sekarang Pancasila digerus masuknya globalisasi yang di mana globalisasi itu telah menggerus nilai-nilai kehidupan kebudayaan bangsa kita. Yang ingin saya tanyakan sebetulnya yang dari FKIP, bagaimana sih berPancasila itu secara sederhana, yang mungkin bisa dimengerti, jangan hanya implementasinya =oh kita harus keadilan sosial, tapi realitasnya apa, kebijakan-kebijakan kita gak adil. Kita harus persatuan Indonesia, tapi realitasnya kita mengatakan bahwa ada yang namanya kolonialisasi dan pribumi dan sebagainya. (ASW)

 

Adi

Adi: Perlu Gerakan Budaya dalam Mengimplementasikan Pancasila

Nama saya Adi dari FPUD punya satu gerakan, gerak cinta Pancasila, yang sedang kita boomingkan, untuk memberikan gerakan-gerakan langkah konkrit apa yang disampaikan oleh Bapak Idham di mana empat pilar ini sesungguhnya adalah merupakan satu bagian dari gerakan yang merupakan satu kegiatan yang mengedukasikan Pancasila. Yang pertama saya menanyakan bahwa di dalam satu kebangsaan ini ada kata rela. Rela mencintai negara, rela mencintai dalam negeri, rela menggunakan produk Indonesia, dan di dalam konteksnya ternyata banyak masyarakat di Indonesia tidak merasakan bahwa kita menggunakan pakaian maupun industri-industri yang digunakan oleh Indonesia tetapi impor dari entah negara beruang, yaitu Australia, China dan sebagainya. Kita berbicara tentang konteks kebangsaan, mohon dari Bapak sebagai narasumber yang di sini untuk memberi pencerahan kepada kita karena kami juga dari forum bela negara RI di bawah Kementerian RI, memberikan satu aspirasi yang luar biasa, bahwa di dalam religi dan budaya itu menjadi satu-kesatuan, tetapi dalam konteksnya, sampai sekarang banyak pertentangan-pertentangan dan perang saudara. Dinamika yang sekarang berbicara adalah konteksnya perang antara saudara satu dengan saudara yang lain. Dinamika yang kedua adalah kita berbicara tadi, bahwa ada yang menyampaikan revisi tentang Pancasila empat pilar. Kalau bisa saya garis bawahi bahwa di mana satu Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, namun di dalam konteksnya ada copy paste yang ada di dalam UUD 45 atau disampaikan adalah kekasaran periode Jepang, ada tekanan-tekanan di situ sehingga menjadikan para pendorong pendahulu kita membuat secepat mungkin untuk membuat dan menganalisis, strategis-strategi antar bangsa. Di mana itu merupakan salah satu langkah-langkah konkrit yang ada. Yang ketiga adalah ketahanan dalam religi, budaya dan perabadan. Saya ingin bertanya apakah bangsa Indonesia ini akan memiliki satu religi yang luar biasa terhadap pancaran-pancaran yang ada di, terhadap manusia maupun kepada Tuhan, tapi sekarang kita juga hanya memiliki peradaban kebudayaan, itu saja, matur nuwun,. (ASW)

Lihat Juga

Paguyuban Anggara Kasih, Mencintai Jawa, Menjaga Indonesia

BANYAK cara yang sesungguhnya bisa dilakukan untuk menjaga Indonesia dan menjaga persatuan bangsa. Banyak cara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *