Minggu , 21 Oktober 2018
Beranda » Essai EAN » Di Sela-sela Hujan Deras

Di Sela-sela Hujan Deras

Setiap aku menulis, kemudian menengok keluar jendela, selalu lantas kusadari bahwa yang kutulis ini kurang tepat, terhampar beribu pengetahuan hidup yang belum kuketahui. Tetapi kubiarkan tulisan ini menjadi catatan untuk momentumnya. Yang penting aku bahagia, karena Tuhan “mencampakkan”ku ke tengah “mereka”.

Siapa mereka? Ini juga bagian dari pengetahuan yang belum benar-benar kuketahui. Sehingga mustahil untuk memahamkanmu atau membawamu mengetahui mereka. Aku hanya menikmati bahwa aku bergembira, di tengah atmosfer zaman yang dipenuhi duka, kabut dan ketidakmenentuan.

Beberapa teman Abu Sittin (usia kepala-6) cemburu pada kegembiraan hidupku. Hampir tiap malam kumpul dengan ribuan orang sampai menjelang pagi. Seharusnya bersama tulisan ini disertakan ratusan atau ribuan foto-foto hamparan massa itu, terutama anak-anak muda “millennium” termasuk Ibu-Ibu Bapak-Bapak Nenek-Nenek Kakek-Kakek yang sumringah, bahagia, tertawa cekikikan dan cekakakan, garis-garis wajahnya plong, karena semakin merdeka dari Indonesia.

Duduk bersila di lapangan, tenang, tidak ingin kencing 5-7 jam. Anak-anak kecil sampai bayi juga ada di antara mereka tanpa terdengar tangis atau rewelnya. Badan sehat, hati mongkog, perasaan tenteram, pikiran jernih, mental kokoh, jiwa seimbang. Tak ada desakdesakan, rebut-rebutan, aman tanpa keamanan, tak ada niat buruk, saling toleran, senang mengalah, gembira memberi, ada tali-temali rahasia yang sangat kukuh kuat mengikat mereka
di dalam kebersamaan.

Mereka di lapangan-lapangan, yang kemudian berhimpun dan menjaring perhubungan satu sama lain di wilayah masing-masing itu adalah manusia-manusia merdeka. Sedangkan teman-teman Abu Sittin mungkin belum merdeka dari Indonesia. Masih dirundung duka oleh Indonesia. Masih merasa direpotkan bahkan diporotin oleh Indonesia. Masih traumatik dan paranoid oleh cara berpikir Indonesia dan Negara. Mereka belum berlatih bagaimana “tidak
terlalu basah kuyup berjalan di sela-sela hujan deras” Indonesia yang penuh kotoran dan najis.

Mereka masih berpikir punya kemungkinan untuk mengubah Indonesia. Bahkan masih menyangka bahwa Indonesia ingin berubah.

Simak juga:  Selamat Datang Juaraku

Tapi ternyata saya salah. Teman-teman Abu Sittin mentertawakan saya dalam hal Indonesia: “In lam yakunillahu Godlibun ‘alayya, fala ubali…”

Gresik, 22 Oktober 2017

Lihat Juga

Presiden Bombongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.