Beranda » Seni & Budaya » Democracy is My Li(f)e dalam Cukilan
Simbiosis Mutualisme, foto Ons

Democracy is My Li(f)e dalam Cukilan

Kali ini, selama 8 hari, Bentara Budaya Yogya menyajikan pemarena seni grafis. Satu jenis karya seni rupa, yang jarang dipamerkan. Karena yang seringkali ditampilkan adalah seni lukis kanvas, seolah seni grafis tidak memiliki tempat, atau jarang sekali dihadirkan dihadapan publik dalam bentuk pameran. Ini kali, Gunawan, seorang perupa yang menekuni seni grafis menyajikan karya-karyanya, yang memang apik dan menarik serta mempesona untuk dinikmati. Tajuk dari pameran itu ‘Re-Public: Reminding of existence.

Judul tulisan di atas mengambil judul lukisan karya B. Gunawan, yang sedang dipamerkan di Bentara Budaya,, Jl. Suroto no 2, Kotabaru, Yogyakarta dari tanggal 12-20 Agustus 2017. Gunawan menyajikan karya grafis, satu jenis karya seni rupa, yang hampir-hampir, jarang (di) tampil (kan) di ruang-ruang pamer di Yogyakarta, bahkan mungkin di ruang pamer kota-kota lain di Indonesia. Tajuk dari pameran ini ‘RE-Public: Reminding Of Existence’

 

Karya grafis Gunawan, rasanya lain dengan karya grafis pada umumnya, meskipun teknisnya sama. Karya-karyanya penuh warna, meskipun ada yang menyajikan visual khas grafis, yakni hitam putih. Namun kiranya, bukan soal warna-warna dalam karyanya yang lebih penting, tetapi warna pada persoalan sosial yang mengisi setiap karya grafis. Muatan sosialnya terasa kuat, seolah dia merasakan betul atas deraan sosial dalam hidupnya.

Dalam karya yang diberi judul Democrasy is My Li(f)e’, beragam tanda-tanda persoalan sosial bisa ditemukan. Dalam gambar ini kita bisa melihat figur orang berdasi, perempuan yang hanya mengenakan jarik dan stagen, dalam istilah Jawa. Ada sejumlah binatang dan aneka perabotan rumah tangga.

Demokrasi dalam kehidupan Gunawan, atau setidaknya demokrasi yang dipahami Gunawan adalah demokrasi yang riuh,  banyak hal atau semua hal bisa diekspresikan di ruang demokrasi. Atau pilihan untuk menjalani kehidupannya adalah bentuk dari demikorasi.

Begitulah, aneka persoalan sosial dicukil-cukil oleh Gunawan dan dihadirkan dengan teknik cukilan. Karyanya mempesona, setidaknya dari segi visual, muatan sosialnya kental, sehingga pesona gambarnya bukan sekedar mengutamakan estetika, melainkan sekaligus memberi pesan sosial. Tidak agitatif cara menyampaikan, justru malah sebaliknya indah dan enak untuk diterima.

Anggap saja, secara teknis Gunawan sudah selesai, dia tinggal mengeksplorasi isi, sehingga karyanya tidak hanya sekedar enak untuk dilihat, tetapi memberikan nilai lain. Sebut saja bobot karya memberikan renungan pada orang yang melihat, sehingga selesai melihat karya Gunawan orang akan ‘dipaksa’ untuk berpikir.

 

Makaria, foto Ons

 

Ada satu judul karya yang rasnya menarik, yakni ‘Makarria’. Judul ini mengambil kata dasar makar, yang diberi tambahan satu kata yang terdiri tiga huruf: ria, sehingga orang, mungkin, dikaburkan maknanya. Padahal, Gunawan ingin memaknai kata makar sebagai satu pesta yang menggembirakan, sehingga perlu ditambah kata ria, seperti kata anekaria.

Dalam gambar dengan judul di atas, aneka perilaku dari banyak orang menunjukan aneka tingkah, yang betul-betul ‘ria’ seperti dalam aneka ria. Mungkin, Gunawan hendak menyindir apa yang dimaksud sebagai makar, dan ternyata tidak ditemukan tindakan apa yang dimaksud makar, yang banyak ditemukan malah pesta (ria).

Yang sesungguhnya sering terjadi bukan makar, tetapi apa yang sering kita dengar, yakni OTT, Operasi Tangkap Tangan, dan Gunawan merespon realitas sosial itu dalam gambarnya dan diberi judul yang sama: Operasi Tangkap Tangan. Tentu, dalam gambar ini kita tidak menemukan petugas KPK yang mengenakan jaket KPK sedang menggelandang orang  yang ditangkap, tetapi seorang perempuan  menangkap seorang laki-laki yang mengenakan kaos oblong.

Narasi getir dalam karya-karya Gunawan ini, kiranya menarik untuk diperhatikan. Bahwa karya seni rupa, tidak hanya cukup bagus secara visual, tetapi perlu mempunyai sesuatu yang akan disampaikan, atau kalau dalam bahasa lain,  ‘ngomong sesuatu’, dan sesuatu itu adalah pilihan senimannya sendiri.

Melalaui karya grafisnya, kita bisa melihat dan sekaligus mendengar, aneka perkara sosial dari hal-hal kecil sampai persoalan sosial yang bisa ditemukan di media, disampaikan oleh Gunawan. Sebut saja, karya seni rupa yang tidak sepi atau tidak berbicara untuk dirinya sendiri. (*)

Lihat Juga

Misteri Sumur Tiban di Makam Ronggowarsito Peziarahnya dari Pengangguran Sampai Caleg

KOMPLEK makam pujangga Jawa kenamaan, Raden Ngabehi Ronggowarsito, yang berada di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *