Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Peristiwa » Diskusi Kebangsaan VII: Darurat Ideologi, Pancasila Harus “Working Ideology”
Idham Samawi, Anggota DPR RI (ft. Ist)

Diskusi Kebangsaan VII: Darurat Ideologi, Pancasila Harus “Working Ideology”

“Tanpa ada mendung, tanpa ada petir, pidato Megawati Soekarno Putri dalam Kongres ke 3 PDI Perjuangan, April tahun 2010 mengatakan bahwa suatu waktu, negara ini akan melewati suatu keadaan “darurat ideologi”. Saat itu, Megawati telah memberi warning (peringatan) akan ada masa dimana ideologi kian terdegradasi”.
Hal itu disampaikan HM Idham Samawi, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan dihadapan para peserta Diskusi Kebangsaan di Kampus Universitas Atmajaya, Babarsari Yogyakarta, yang sebagian besar adalah para mahasiswa. Acara ini dihelat oleh Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, Universitas Atmajaya Yogyakarta dan berbagai pihak lainnya.

Kini, fenomena menguatnya gerakan yang akan mendegradasi ideologi bangsa mulai terasa. Sebagaiamana pernah dikatakan Megawati pada waktu itu. Maka, saatnya bangsa ini kembali ke jati dirinya. Ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila, hendaknya tetap tertanam di dada para anak bangsa.

Idham menjelaskan bahwa lambang burung Garuda mencerminkan tertanamnya ideologi Pancasila di dada burung garuda, yang mencengkeram erat Bhinneka Tunggal Ika. Tentu bukan kebetulan jika para pendiri bangsa waktu itu memutuskan lambang negarakitaburung Garuda, membentangkan sayap, di dadanya bersemayamKetuhanan YME hingga Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, di kakinya burung Garuda mencengkeram tulisan Bhinneka Tunggal Ika.

Maka generasi penerus bangsa, para pemimpin yang sekarang berkuasa, mulai dari Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota, hendaknya didada mereka bersemayam jiwa Pancasila. Sehingga membawa pada semangat dan perilaku dalam menjalankan pemerintahan dengan berlandaskan ideologi tersebut. Bahkan Idham Samawi mengusulkan agar pembinaan tentang ideologi negara dimulai sejak dari bangku TK, SD, SMP, hingga SLTA agar mereka memahami filosofinya.

Disamping itu, sebagai pemimpin bangsa, di berbagai levelnya, mereka harus tahu bahwa negara ini dibentuk berdasarkan berbagai perbedaan. Baik suku, agama, etnis dan golongan. Dari sanalah, menurut Idham, imajinasi kebhinnekaan menjadi bagian penting dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Bhinneka Tunggal Ika adalah upaya pendiri bangsa untuk menyepakati dan berkonsensus bersama dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Semangat Kebangsaan Kedepan Penuh Tantangan

Namun demikian, tak bisa dimungkiri, bahwa ada pihak-pihak tertentu yang tidak rela Indonesia menjadi negara yang besar dan kuat. Maka yang menjadi sasaran untuk memperlemah bangsa adalah dengan melemahkan ideologinya. Jika ingin mencengkeram sebuah bangsa dalam “penjajahan”, maka habisi dulu ideologinya. Caranya? Dengan memutus mata rantai sejarah atas ideologi tersebut. Itulah yang menjadi fatsun bagi penjajah. Yaitu putus dulu sejarahnya. Sehingga generasi berikutnya tak tahu lagi mata rantai kesinambungan ideologi.

Memang, di dalam Pembukaan UUD 1945 tidak termaktub kata Pancasila. Alinea ke 4 itu adalah merupakan wujud dari cita-cita kemerdekaan. Untuk membentuk pemerintahan negara yang melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraanumum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan dan perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Ketika kita berbangsa, bernegara, di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, satu-satunya dokumen, pada sidang hari ke-4 Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan, dokumen yang sekian itu hilang. Padasidanghari ke-4, pidato Ir Sukarno, anggota BPUPK secara eksplisit menyampaikan dan memberi nama itu Pancasila. Lalu Bung Karno dalam pidatonya mengatakan demikian:“kalau tuan-tuan yang terhormat tidak suka dengan bilangan lima, maka dapat diperas menjadi tiga, sosionasionalisme, sosiodemokrasi, ketuhanan, tapi kalau tuan-tuan tidak suka dengan bilangan tiga, maka bisa diperas menjadi satu, gotong royong. Nah, tiga dan satu tadi, sebetulnya hanya untuk penguat dari yang lima, yaitu nasionalisme, internasionalisme, musyawarah, kesejahteraan, dan ketuhanan.

Hari-hari ini, bangsa ini betul-betul diuji. PDI Perjuangan di bawah kepemimpinan Megawati Sukarnoputri sudah mendeklarasikan siap pasang badan, bagi siapapun juga yang akan mencoba mengubah dasar negara kita,atau ideologi negara kita. Karena diyakini kalau tidak lima ini, maka bangsa ini akan cerai-berai.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan VII: Dialog

Jika dibandingkan dengan ideologi bangsa lain, Amerika dan Tiongkok misalnya, Indonesia lebih lengkap. Namun sekarang, The Rising Star itu adalah Tiongkok. Lalu kenapa kita punya lebih sempurna, lebih hebat dan sebagainya, namun pada usia 72 tahun belum ada tanda-tanda bangsa kita akan mewarnai peradaban dunia?

Pertanyaan sebaliknya yang patut kita kemukakan adalah kapankah Pancasila ini digunakan betul-betul dalam kehidupan berbangsa, bernegara di Negara KesatuanRepublik Indonesia seperti yang seharusnya? Tentu di hari ini atau kemarin-kemarin, Pancasila masih ditempatkan di tempat yang “serem”, setiap Jumat Kliwon sama Selasa Kliwon dibakari kemenyan, ditaburi bunga, dijadikan barang sakti, dan dikeramatkan. Tapi Pancasila tidak pernah dijadikan sebagai ideologi yang “bekerja”. Itu salah satu kesalahan dasar bangsa kita.

Merdeka! (Hzw)

Lihat Juga

Malam 7 Tahun Sastra Bulan Purnama Puisi Tidak Berhenti Dibacakan

Puisi seringkali dibacakan dibanyak tempat, untuk mengisi acara tertentu, atau malah untuk lomba baca puisi. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.