Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Seni & Budaya » Dalang Wayang Kulit, Dulu dan Kini

Dalang Wayang Kulit, Dulu dan Kini

KI DALANG, pada masanya dulu merupakan tokoh terpandang, disegani, disanjung, dan diteladani. Sejak wayang kulit diperkenalkan oleh para empu di bumi Jawa, para peyampai kisah-kisah pewayangan yang kemudian dikenal dengan sebutan Ki Dalang itu mendapat tempat yang terpandang di tengah-tengah tatanan kehidupan masyarakat.

Hal itu dikarenakan masyarakat memandang Ki Dalang sebagai seseorang yang sarat dengan pengetahuan, paham dengan berbagai filsafat kehidupan serta nilai-nilai moral, dan mampu menguraikan beragam kisah dalm pewayangan yang di dalamnya penuh dengan  wewarah maha tinggi.

Seorang dalang di masa dulu, tidak hanya dipandang sebagai yang ‘serba tahu’ dan ‘serba bisa’, tetapi juga diyakini sebagai penyampai kebenaran, penggugar dan penyadar manusia agar bisa menjalani kehidupan sesuai dengan tatanan dan norma-norma yang sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta melalui kisah-kisah di dalam lakon pewayangan.

Di masanya dulu juga, Ki Dalang memang sudah memposisikan dirinya sebagai agen perubahan sosial, agen pembaharu, penyampai informasi atau komunikator yang selalu menyampaikan informasi atau berita tentang kebenaran, kebaikan dan kemuliaan kehidupan manusia. Bahkan ketika Islam berkembang dan menanamkan pengaruh besarnya di Jawa, para Dalang tidak hanya sekadar dipandang sebagai seorang pembawa cerita maupun penyampai informasi.

Tapi lebih dari itu. Ki Dalang juga memainkan perannya sebagai pembawa kebenaran ajaran-ajaran Islam, atau dipandang sebagai pendakwah, penyampai kebenaran Islam, yang selalu mengingatkan masyarakat untuk senantiasa berbuat kebaikan dan kebajikan di dalam kehidupan, mematuhi perintah-perintah Allah SWT agar kelak bisa menikmati kehidupan yang maha damai serta menyenangkan di surga.

Peran mulia dan luhur itu memang masih disandang para Dalang hingga hari ini. Kisah-kisah pewayangan yang dipentaskannya, masih tetap merupakan kisah-kisah yang sarat dengan wewarah atau petunjuk kehidupan, agar manusia dalam menjalani kehidupannya senantiasa berpegang pada ketentuan yang sudah ditata oleh Sang Maha Pencipta. Akian tetapi, di mata masyarakat kini perannya sudah tidak lagi semulia dan sehebat dulu.

Simak juga:  Pagelaran Wayang Kulit 1 Muharram di Kwarasan

Ki Dalang kini hanya dipandang atau dinilai sekadar sebagai pembawa cerita wayang, dan pemberi hiburan. Bahkan kini, tidak sedikit pula masyarakat yang memandang wayang tidak lebih hanya sekadar bentuk seni hiburan biasa, yang tidak berbeda dengan bentuk-bentuk seni hiburan lainnya, seperti pentas musik campursari, pentas musik dangdut, dan lainnya.

Di banyak tempat sekarang ini, masyarakat tak terlalu bergairah menonton pentas wayang kulit bila tidak disertai pentas kolaborasi dengan musik campursari atau musik dangdut. Pentas wayang kulit tidak lagi cukup dengan menampilkan para pesinden, tapi juga menampilkan penyanyi-penyanyi campursari atau penyanyi-penyanyi dangdut. Kemerduan suara pesinden, keluwesan dan kelembutan tampilannya, kini harus bersaing dengan aksi genit penyanyi-penyanyi campursari dan desah serta goyangan menggoda penyanyi-penyanyi dangdut.

Karenanya kini, pentas-pentas wayang kulit di banyak tempat hanya dipandang sebagai bentuk hiburan semata yang sudah kehilangan greget dan nilai adiluhungnya. Bukan wewarah atau nilai-nilai kehidupannya lagi yang diperlukan kebanyakan penonton kini, tapi justru tampilan gemerlap, hiruk-pikuk dan nuansa keduniawiannya yang dicari.

Menonton pergelaran atau pentas wayang kulit bukan lagi dijadikan media penambah wawasan kehidupan, penambah semangat kehidupan, atau pemberi pencerahan jiwa dan pikiran, tetapi hanya sekadar obat pelipur lara, penghibur diri, agar terbebas dari himpitan dan belitan kehidupan. Tetapi menonton wayang kulit agar bisa bebas tertawa, bebas berteriak Karena puas dan gembira.

Diakui atau tidak, sesungguhnya realitas yang seperti itu merupakan sesuatu yang memprihatinkan. Bila hal seperti itu terus berlangsung tanpa ada upaya untuk pengendaliannya, nilai-nilai adiluhung yang sudah beratus tahun disandang oleh wayang, akhirnya akan punah. Dan, pentas wayang pada akhirnya hanya sekadar hiburan biasa yang tidak lagi bermakna apa-apa. Pentas wayang pada akhirnya hanya tempat pelarian mereka yang sekadar ingin mencari hiburan, ingin tertawa bebas dan sesuka-hati.

Simak juga:  Wayang Indonesia (Bedhol Negoro, 5)

Para Dalang dan komponen-komponen pewayangan lainnya, terutama yang tergabung di dalam Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) semestinya tidak terlena dengan realita seperti ini. Harus ada tindakan dan langkah nyata agar wayang bisa tetap bertahan sebagai warisan budaya yang maha tinggi dan adiluhung. Warisan budaya yang penuh dengan ajaran-ajaran kehidupan manusia.

Ini memang tugas berat. Tapi, seberat apa pun, tugas untuk mempertahankan kemuliaan dan keagungan wayang harus tetap dijalankan. Kecuali bila memang ingin melihat kemuliaan dan nilai-nilai adiluhung di dalam wayang itu hilang tak berbekas.***  (Sutirman Eka Ardhana)

 

* Sutirman Eka Ardhana, redaktur Warta Kebangsaan dan penyuka budaya Jawa.

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.