Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Dalam Bingkai Filosofi Jawa Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Dalam Bingkai Filosofi Jawa Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

MENURUT faham ajaran spiritualita Budaya Jawa, Pancasila sebagai sebagai Dasar Perilaku hidup, merupakan bagian dari Wahyu Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya. Yang dimaksukan adalah  Wahyu tujuh kelompok ajaran dengan masing-masing kelompok berisi lima butir ajaran  untuk mencapai kemuliaan, ketenteraman, dan kesejahteraan kehidupan alam semesta hingga alam keabadian dunia hingga akhirat.

Sapta Warsita Panca Pancataning Mulya itu terdiri atas sila-sila yang merupakan butir-butir ajaran yang perlu dijadikan rujukan pembentukan sikap dasar atau akhlak manusia. Tentu sila-sila yang dimaksudkan di sini adalah sila-sila sebelum menjadi Dasar Negara Republik Indonesia.

Yang pertama disebutkan adalah  Hambeg Manembah adalah sikap ketakwaan seseorang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Manusia sebagai makhluk ciptaanNya wajib memiliki  rasa rumangsa  lan ‘pangrasa’- menyadari bahwa keberadaannya di dunia ini sebagai hamba ciptaan Ilahi, yang mengemban tugas untuk selalu mengabdi hanya kepadaNya.

Dengan pengabdian yang hanya kepadaNya itu, manusia wajib melaksanakan tugas amanah yang diemban, yaitu menjadi khafilah pembangun peradaban serta tatanan kehidupan di alam semesta ini, agar kehidupan umat manusia, makhluk hidup serta alam sekitarnya dapat tenteram, sejahtera, damai, aman sentosa, sehingga dapat menjadi wahana mencapai kebahagiaan abadi di alam ‘kelanggengan’ –akhirat kelak atau ‘Memayu hayu raharjaning bawana, Memayu hayu raharjaning Jagad Raya, Nggayuh kasampurnaning hurip ing Alam Langgeng’.

Dengan sikap ketakwaan ini, semua manusia akan merasa sama, yaitu  berorientasi serta merujukkan semua gerak langkah, serta sepak terjangnya, demi mencapai ridhla Ilahi, Tuhan Yang Maha Bijaksana- ‘Hyang Suksma Kawekas’.

‘Hambeg Mangeran’ ini mendasari pembangunan watak, perilaku, serta akhlak manusia. Sedangkan akhlak manusia akan menentukan kualitas hidup dan kehidupan, pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kemudian ‘Hambeg manunggal’ adalah sikap bersatu. Manusia yang ‘Hambeg Mangeran’ akan menyadari bahwa manusia itu terlahir di alam dunia ini pada hakekatnya sama. Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap insan itu memang merupakan tanda-tanda kebesaran ‘Hyang Suksma Adi Luwih’– Tuhan Yang Maha Luhur.

Oleh karena itu sebagai salah satu bentuk dari sikap ketakwaan seseorang adalah sikap hasrat serta kemauan kerasnya untuk bersatu. Perbedaan tingkatan sosial, tingkat kecerdasan, dan perbedaan-perbedaan lain sebenarnya bukan alat untuk saling berpecah belah, tetapi malah harus dapat dipersatukan dalam komposisi kehidupan yang serasi serta bersinergi. Hanya ketakwaan lah yang mampu menjadi pendorong tumbuhnya hambeg manunggal ini, karena manusia akan merasa memiliki satu tujuan hidup, satu orientasi hidup, dan satu visi  di dalam kehidupannya.

Di dalam salah satu ajaran spiritual, ‘hambeg manunggal’ itu dinyatakan sebagai, –kadya keris dan warangkanya’‘manunggaling kawula lan gustine’– bersatunya rakyat dengan pemimpin,  manunggale jagad gedhe lan jagad cilik -bersatunya jagad besar dengan jagad kecil , manunggale manungsa lan alame– bersatunya manusia dengan alam sekitarnya,manunggale dhiri lan bebrayan>- bersatunya individu dengan masyarakat luas, manunggaling sapadha-padha persatuan di antara sesama, dan sebagainya.

‘Hambeg Welas Asih’ adalah sikap kasih sayang. Manusia yang ‘hambeg mangeran’, akan merasa dirinya dengan sesama manusia memiliki kesamaan hakikat di dalam hidup. Dengan kesadaran itu, setelah ‘hambeg manunggal’, manusia wajib memiliki rasa welas asih atau kasih sayang di antara sesamanya. Sikap kasih sayang  itu akan mampu semakin mempererat persatuan dan kesatuan.

 

Tujuan  Hidup

Selanjutnya, Pancasila sebagai pegangan hidup bangsa mempunyai makna ‘Hambeg Wisata’ adalah sikap tenteram  dan mantap. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, manusia akan bersikap tenteram dan merasa mantap di dalam kehidupannya. Sikap ini tumbuh karena keyakinannya bahwa semua kejadian ini merupakan kehendak Sang Pencipta.

Hambeg wisata bukan berarti pasrah menyerah tanpa usaha, tetapi justru karena kesadaran bahwa semua kejadian di alam semesta ini terjadi karena kehendakNya, sedangkan Tuhan juga menghendaki manusia harus membangun tata kehidupan untuk mensejahterakan kehidupan alam semesta, maka dalam rangka hambeg wisata itu manusia juga merasa tenteram dan mantap dalam melakukan usaha, berkarya, dan upaya di dalam membangun kesejahteraan alam semesta.

Manusia akan merasa mantap dan tenteram hidup berinteraksi dengan sesamanya, untuk saling membantu, bahu membahu, saling mengingatkan, saling ‘mat- sinamatan’, di dalam kehidupan.

‘Hambeg Makarya’ Jaya Sasama adalah sikap kemauan keras berkarya, untuk mencapai kehidupan, kejayaan sesama manusia. Manusia wajib menyadari bahwa keberadaannya berasal dari asal yang sama, oleh karena itu manusia wajib berkarya bersama-sama menurut potensi yang ada pada dirinya masing-masing, sehingga membentuk sinergi yang luar biasa untuk menjapai kesejahteraan hidup bersama. Sikap hambeg makarya jaya sesama akan membangun rasa “tidak rela” jika masih ada sesama manusia yang hidup kekurangan atau kesengsaraan.

Lantas, Panca karya merupakan butir-butir ajaran  sebagai rujukan  berkarya di dalam kehidupan.

‘Karyaning Cipta Tata’ sebuah kemampuan pikir secara runtut, sistematis, tidak semrawut– tidak ‘worsuh’– tidak tumpang tindih. Manusia wajib mengolah  kemampuan berfikir agar mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya secara sistematis dan tuntas. Setiap menghadapi permasalahan wajib mengetahui duduk permasalahannya secara benar, mengetahui tujuan penyelesaian masalah yang benar beserta berbagai standar kriteria kinerja yang hendak dicapainya, mengetahui kendala-kendala yang ada, dan menyusun langkah atau strategi penyelesaian masalah yang optimal.

‘Karyaning Rasa Resik’ merupakan kemampuan bertindak obyektif, bersih, tanpa dipengaruhi dorongan hawa nafsu, keserakahan, ketamakan, atau kepentingan-kepentingan pribadi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebenaran Ilahi atau budi luhur.

‘Karyaning Karsa Lugu’ adalah kemampuan berbuat bertindak sesuai suara kesucian relung kalbu yang paling dalam, yang pada dasarnya adalah hakekat kejujuran fitrah Ilahiyah- yang sesuai kebenaran sejati yang datang dari Tuhan Yang Maha Suci atau Hyang Suksma Jati Kawekas.

‘Karyaning Jiwa Mardika’ adalah kemampuan berbuat sesuai dengan dorongan Sang Jiwa yang hanya menambatkan segala hasil karya, daya upaya, serta cita-cita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, terbebas dari cengkeraman pancaindera dan hawa nafsu keserakahan serta ketamakan akan keduniawian. Karyaning Jiwa Mardika akan mampu mengendalikan keduniaan, bukan diperbudak oleh keduniawian. ‘Sang Jiwa wus bisa murba lan mardikaake sagung paraboting kadonyan’.

‘Karyaning Suksma Meneng’ adalah kemampuan berbuat berlandaskan kemantapan peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Bijaksana, berlandaskan kebenaran, keadilan, kesucian fitrah hidup, “teguh jiwa, teguh suksma, teguh hing panembah”.

         

Tugas Manusia

DI dalam setiap gerak langkahnya, manusia wajib merujukkan hasil karya ciptanya pada kehendak Sang Pencipta, yang menitipkan amanah dunia ini kepada manusia agar selalu sejahtera.

‘Panca gun’a  merupakan  butir-butir ajaran untuk mengolah potensi kepribadian dasar  manusia sebagai modal dalam mengarungi bahtera kehidupan.

‘Guna empan papaning daya pikir’ adalah kemampuan untuk berkonsentrasi, berpikir  secara benar, efektif, dan efisien dan tidak berfikir melantur, meratapi keterlanjuran, mengkhayal yang tidak bermanfaat, tidak suka menyia-nyiakan waktu .

‘Guna empan papaning daya rasa’ adalah kemampuan untuk mengendalikan kalbu, serta perasaan – rasa, rumangsa, lan pangrasa , secara arif dan bijaksana.

‘Guna empan papaning daya karsa’ adalah kemampuan untuk mengendalikan, dan mengelola kemauan, cita-cita, niyat, dan harapan.

‘Guna empan papaning daya karya’ adalah kemampuan untuk berkarya, berbuat sesuatu yang  bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negaranya.

‘Guna empan papaning daya panguwasa’ adalah kemampuan untuk memanfaatkan serta mengendalikan kemampuan, kekuasaan, dan kewenangan secara arif dan bijaksana -tidak menyalahgunakan kewenangan. Kewenangan, kekuasaan, serta kemampuan yang dimilikinya dimanfaatkan secara baik, benar, dan tepat untuk mengelola ,merencanakan, mengatur, mengendalikan, dan mengawasi kehidupan alam semesta.

Panca dharma merupakan butir-butir ajaran rujukan pengarahan orientasi hidup dan berkehidupan, sebagai penuntun bagi manusia untuk menentukan visi dan misi hidupnya.

‘Dharma marang Hingkang Akarya Jagad’ adalah melaksanakan perbuatan mulia  sebagai perwujudan pelaksanaan kewajiban umat kepada Sang Pencipta. Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Mahaesa untuk selalu menghambakan diri kepada-Nya. Oleh karena itu semua perilaku, budi daya, cipta, rasa, karsa, dan karyanya di dunia tiada lain dilakukan hanya semata-mata sebagai bentuk perwujudan dari peribadatannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, untuk mensejahterakan alam semesta dengan ‘memayu hayuning harjaning bawana, memayu hayuning jagad raya’.

‘Dharma marang dhirine’ adalah melaksanakan kewajiban untuk memelihara serta mengelola diri secara baik.  Olah raga, olah cipta, olah rasa, olah karsa, dan olah karya perlu dilakukan secara baik sehingga sehat jasmani, rohani, lahir, dan batinnya.

Manusia perlu menjaga kesehatan jasmaninya. Namun demikian mengasah budi, melalui belajar agama, budaya, serta olah batin, merupakan kewajiban seseorang terhadap dirinya sendiri agar dapat mencapai kasampurnaning urip, mencapai kebahagiaan serta kesejahteraan di dunia dan di akhirat.

         

Migunani Tumraping Liyan

Dengan kesehatan jasmani, rohani, lahir, dan batin tersebut, manusia dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri.

‘Dharma marang kulawarga’ adalah melaksanakan kewajiban untuk memenuhi hak-hak keluarga. Keluarga merupakan kelompok terkecil binaan manusia sebagai bagian dari masyarakat bangsa dan negara. Pembangunan keluarga merupakan fitrah manusiawi. Kelompok ini tentunya perlu terbangun secara baik. Oleh karena itu sebagai manusia memiliki kewajiban untuk melaksanakan tugas masing-masing di dalam lingkungan keluarganya secara baik,  benar, dan tepat.

‘Dharma marang bebrayan’ adalah melaksanakan  kewajiban untuk turut serta membangun kehidupan bermasyarakat secara baik, agar dapat membangun masyarakat binaan yang tenteram damai, sejahtera, aman sentosa.

‘Dharma marang nagara’ adalah melaksanakan kewajiban untuk turut serta membangun negara sesuai peran dan kedudukannya masing-masing, demi kesejahteraan, kemuliaan, ketenteraman, keamanan, kesentausaan, kedaulatan, keluhuran martabat, kejayaan, keadilan, dan kemakmuran bangsa dan negaran beserta seluruh lapisan rakyat, dan masyarakatnya.

Panca jaya merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan penetapan standar kriteria atau tolok ukur hidup dan kehidupan manusia.

‘Jayeng dhiri’ artinya mampu menguasai, mengendalikan, serta mengelola dirinya sendiri, sehingga mampu menyelesaikan semua persoalan hidup yang dihadapinya, tanpa kesombongan- ‘ora rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa lan hangrumangsani, kanthi rasa, rumangsa, lan pangrasa’.

‘Jayeng Bhaya‘ artinya mampu  menghadapi, menanggulangi, dan mengatasi semua bahaya, ancaman, tantangan, gangguan, serta hambatan yang dihadapinya setiap saat, dengan modal kepandaian, kepiawaian, kecakapan, akal, budi pekeri, ilmu, pengetahuan, kecerdikan, siasat, kiat-kiat, dan ketekunan yang dimilikinya.  Dengan modal itu, seseorang diharapkan mampu mengatasi semua permasalahan dengan cara yang optimal, tanpa melalui pengorbanan tanpa mendatangkan dampak negatif, sehingga sering disebut ‘nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake’ – menyerang tanpa pasukan, menang  dengan tidak mengalahkan.

‘Jayeng donya’ artinya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan di dunia, tanpa dikendalikan oleh dorongan nafsu keserakahan. Dengan kemampuan mengendalikan nafsu keserakahan di dalam memenuhi segala bentuk hajat serta kebutuhan hidup, maka manusia akan selalu peduli terhadap kebutuhan orang lain, dengan semangat tolong menolong, serta memberikan hak-hak orang lain, termasuk fakir miskin ( orang lemah yang menderita kesusahan= papa cintraka   ‘Jayeng bawana langgeng’ artinya mampu mengalahkan semua rintangan, cobaan, dan godaan di dalam kehidupan untuk mempersiapkan diri, keturunan, dan generasi penerus sehingga mampu mencapai kebahagiaan hidup dan kehidupan di dunia dan akhirat.

‘Jayeng  Lana’mangwaseng hurip lahir batin kanthi langgeng’.

Jayeng lana artinya mampu secara konsisten menguasai serta mengendalikan diri lahir dan batin, sehingga  tetap berada pada hidup dan kehidupan di bawah ridla Ilahi.

 

Masyarakat Berkeadilan

Pancadaya  merupakan butir-butir ajaran sebagai rujukan sikap dan perilaku manusia sebagai insan sosial, atau bagian dari warga masyarakat, bangsa dan negara. Di samping itu sementara para  penghayat spiritual kebudayaan Jawa mengisyaratkan bahwa pancadaya itu merupakan komponen yang mutlak sebagai syarat pembangunan masyarakat yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan sentosa lahir batin.

‘Daya kawruh luhuring sujanma’ artinya kekuatan ilmu pengetahuan yang mampu memberikan manfaat kepada kesejahteraan alam semesta.

‘Daya adiling pangarsa/tuwanggana‘ artinya kekuatan keadilan para pemimpin. ‘Daya katemenaning pangupa boga’ artinya kekuatan kejujuran para pelaku perekonomian para pedagang, pengusaha .

‘Daya kasetyaning para punggawa lan nayaka’ artinya kekuatan kesetiaan para pegawai/ karyawan.

‘Daya panembahing para kawula’ artinya kekuatan  kemuliaan akhlak seluruh lapisan masyarakat mulai rakyat kecil hingga para pemimpinnya; mulai yang lemah hingga yang kuat, mulai yang nestapa hingga yang kaya raya, mulai kopral hingga jenderal, mulai sengsarawan hingga hartawan.

         

Panca Panunggal

Panca pamanunggal adalah butir-butir ajaran rujukan kriteria sosok manusia pemersatu. Sementara tokoh penghayat spiritual jawa menyebutkan bahwa sosok pimpinan yang adil dan akan mampu mengangkat harkat serta martabat bangsanya adalah sosok pimpinan yang di dalam jiwa dan raganya bersemayam perpaduan kelima komponen ini.

‘Pandita suci hing cipta nala’ adalah sosok insan yang memiliki sifat fitrah, yaitu kesucian lahir batin, kesucian pikir dan tingkah laku demi memperoleh ridla Ilahi.

‘Pamong waskita’ adalah sosok insan yang mampu menjadi pelayan masyarakat yang tanggap aspirasi yang dilayaninya.

‘Pangayom pradhah ber budi bawa leksana’ adalah sosok insan yang mampu melindungi semua yang ada di bawah tanggungjawabnya, mampu bersifat menjaga amanah dan berbuat adil  berdasarkan kejujuran.

‘Pangarsa mulya limpat wicaksana’ artinya sosok insan pemimpin yang berbudi luhur, berakhlak mulia, cakap, pandai, handal, profesional, bertanggungjawab, serta bijaksana.

‘Pangreh wibawa lumaku tama’ artinya sosok insan pengatur, penguasa, pengelola yang berwibawa, memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, mampu mengatur bawahan dengan kewenangan yang dimilikinya, tetapi tidak sewenang-wenang, karena berada di dalam selalu berada di dalam koridor perilaku yang mulia atau ‘laku utama’.. Salaam (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jiwa Jawi Menjawab Kerinduan Barat

PASCA revolusi industri yang terjadi di Barat, masyarakatnya kehilangan pola pikir spiritual. Umumnya mereka berlomba …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *