Senin , 10 Desember 2018
Beranda » Sastra » Daladi, Penyair-Guru Di Sastra Bulan Purnama
Daladi

Daladi, Penyair-Guru Di Sastra Bulan Purnama

Daladi (Ft. Ist)
Sehari-harinya seorang guru SMP di Ngluar, Magelang. Tetapi kecintaannya pada puisi tak bisa dihentikan, dan dia produktif menulis puisi. Maka, selain dikenal sebgai guru, sekaligus dikenal sebagai penyair. Daladi Ahmad, demikianlah penyair-guru, yang sering menggubah puisi menjadi lagu, dan dialukan melalui petikan gitar  sudah beebrapa kali Daladi mengisi Sastra Bulan Purnama dengan petikan gitar untuk mengiringi lagu puisi.

Daladi Ahmad, yang akrab dipanggil Daladi, untuk kesekian kalinya tampil di Sastra Bulan Purnama (SBP). Lagi-lagi dia memetik gitar dan mengalunkan lagu puisi karyanya. Pada SBP edisi 70, yang diselenggarakan Sabtu, 8 Juli 2017 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya,  Daladi mengalunkan dua lagu puisi karyanya, salah satunya berjudul ‘Rindi Setua Waktua’

Barangkai, Daladi sudah mulai merasa tua, bukan karena usianya sudah menginjak lebih dari 60 tahun, bahkan belum genap pada usia itu. Tetapi, karena dia baru saja mempunyai cucu, dan mulai dipanggil kakung, inilah yang menandai seseorang ‘mulai tua’ dan Daladi mengalami itu. Puisi berjudul ‘Rindu Setua Waktu’ rasanya kontekstual dengan peran barunya sebagai seorang kakek.

Simak juga:  Menyembah Guru Besar dari Utara

“Sudah lama saya tidak menyanyi, mudah-mudahan suaranya tidak mengecewakan,” kata kakek Daladi sebelum memulai memetik gitar.

Umi Kulsum, yang memandu acara Sastra Bulan Purnama menyebut Daladi sebagai Ebit from Magelang. Karena suara Daladi mengingatkan pendengarnya pada suara Ebit. Padahal kita tahu, betapa susahnya ‘menirukan’ suara Ebit.

Setiap Daladi disebut seolah seperti Ebit, dia hanya tersenyum, bahkan terkadang tertawa lepas. Penampilan Daladi khas, selalu mengenakan selendang yang dikalungkan di leher, Suaranya juga khas, dan memang mengingatkan suara Ebit G. Ade.

Memang sudah agak lama Daladi tidak tampil di Sastra Bulan Purnama. Karena kesibukan dia sebagai guru, dan kesehataannya seringkali menghalangi dia untuk pergi. Daladi tinggal di Ngluar, Magelang, sehingga jarak tempuh dari tempat tinggalnya terasa jauh, namun Daladi dengan gembira, bersama istrinya sering bertandang di Sastra Bulan Purnama.

“Saya sedang OTW  Sastra Bulan Purnama” melalui pesan WA Daladi mengabarkan bahwa dia akan datang dalam acara Syawalan Sastra (wan) Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya.

“Sudah sampai mana?”

“Sayegan” jawab Daladi

Begitulah Daladi, dia seperti tidak bisa jauh dari puisi. Sebagai penyair sekaligus seorang guru SMP, Daladi terus menulis puisi dan tidak meninggalkan tanggung jawabnya sebagai guru. Keduanya dijalani dengan penuh suka cita. Gitar dan puisi, bagi Daladi tak bisa dipisahkan, bahkan dia sering menggarap puisi penyair lain untuk dibuat menjadi lagu. Kita sertakan puisi “Rindu Setua Waktu’ yang dialunkan penyair Daladi, yang belum tua dan malah dari wajahnya masih terlihat muda: baby face. Mari kita nikmati puisi tersebut.

Simak juga:  Menyembah Guru Besar dari Utara

 

RINDU SETUA WAKTU

ingin ‘ku bertanya pada bebunga ilalang
adakah kau simpan butir rindu yang telah usang,
ingin ‘ku menyusur pematang waktu yang lekang
untukku mengulang jejak yang telah terbuang

ingin aku bersulang meski sendiri
mereguk senyumu yang berlarian
cukup sudah untukku menebus semua
beban yang kutanggung, berat yang kurasa

rindu yang setua waktu
membatu di karang hati
di setiap hembus napasku
terlepas hanya namamu

tersadar diriku yang tak akan sanggup
menghapus jejak yang kau tinggal
biarlah kupahat dan ketebalkan
di dinding waktu yang setua rinduku
tentangmu

Magelang, Juli 2017

Lihat Juga

Menyembah Guru Besar dari Utara

Yang sedang berkuasa di negeri ini menyangka bahwa rakyat Indonesia adalah cacing-cacing yang terus menerus klugat-kluget di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *