Jumat , 19 Oktober 2018
Beranda » Sastra » “Cipto Waskito” Ajaran Jawa yang Penting bagi Politikus

“Cipto Waskito” Ajaran Jawa yang Penting bagi Politikus

KERAJAAN-kerajaan di Jawa, sejak zaman Mataram Kuno, Majapahit hingga Mataram (Yogyakarta dan Surakarta) kaya akan para pemikir kehidupan atau pujangga. Para pujangga yang besar dan terkenal di zamannya itu telah menghasilkan karya-karya besar yang sulit tertandingi hingga kini. Dan, tidak sedikit di antara para pujangga itu adalah para raja itu sendiri.

Sri Susuhunan Paku Buwono IV, raja di Keraton Surakarta, merupakan salah seorang raja yang juga menjadi pujangga. Salah satu karya besar darinya adalah “Cipto Waskito”. Cipto Waskito merupakan karya agung dari Sri Susuhunan Paku Buwono IV yang berbentuk serat atau puisi. Buah karya dari raja di Keraton Surakarta ini benar-benar sarat dengan ajaran falsafah hidup manusia. Ajaran-ajaran kehidupan di dalamnya penuh dengan tuntunan bagi kehidupan manusia dalam menuju ke arah kesempurnaan hidup.

Menurut Ki Hudoyo Doyodipuro Occ yang telah ‘mewedarkan’ atau menterjemahkan Serat “Cipto Waskito” ke Bahasa Indonesia, falsafah dan tuntunan bagi manusia dalam menjalani hari-hari kehidupan menuju kesempurnaan hidup yang hakiki tersebut terurai jelas di dalam bait demi baitnya. Seperti tuntunan dalam memilih guru, pengertian tentang Ilmu dan Ngelmu, pemahaman tentang Bawana Ageng dan Bawana Alit. Terurai juga pengertian tentang Ngelmu Mistik Terapan dalam kehidupan sehari-hari, syarat-syarat khusus bagi calon penghayat Ngelmu Mistik, tentang Rahasia Rasa Sejati serta peran empat warna dalam kehidupan.

Tentang memilih guru di dalam Serat “Cipto Waskito” antaralain diuraikan bahwa siapapun harus mempelajari dan mengenal suatu syarat mutlak untuk menentukan seseorang apakah pantas atau tidak untuk diangkat sebagai guru. Karena guru itu adalah seseorang yang akan menjadi narasumber dari ilmu-ilmu yang akan kita pelajari.

Simak juga:  Sasmita

Guru yang dimaksud bukan hanya para pengajar di sekolah, perguruan tinggi atau padepokan-padepokan, tetapi juga termasuk di dalamnya para politikus, tokoh atau elit-elit politik, tentu juga para wakil rakyat di lembaga legislative, yang menjadi tumpuan dan harapan rakyat.  Serat “Cipto Waskito” mengajarkan kita agar mencari guru yang berilmu tinggi, karena ilmu akan membuka jalan kemandirian “di sini dan di sana”.

 

Rahasia Hidup

Para politikus atau kader-kader partai politik yang kini sedang sibuk dengan aktivitas politiknya, baik sebagai pimpinan atau pengurus partai maupun sebagai anggota legislatif, baik DPRD Kota/Kabupaten, DPRD Provinsi, bahkan sampai DPR RI perlu mempelajari Serat “Cipto Waskito” ini. Karena Cipto Waskito juga memesankan agar manusia yang pandai itu harus benar-benar mengetahui rahasia hidup ini, rahasia lahir maupun batin. Atau “kamuksan sandi sastra” kata bijak yang menjurus sempurnanya ilmu pengetahuan. Sempurnanya ilmu pengetahuan, bagi pemiliknya adalah manusia yang dapat menempatkan diri di manapun “kanggo ing kene-kana (berguna di sini dan di sana).

Namun serat “Cipto Waskito” itu juga mengingatkan kepada kita yang sedang menggandrungi suatu ilmu atau ngelmu, untuk tidak terperosok menjadi gandrung kepada gurunya. Sebab bila terjadi hal seperti itu maka keadaannya akan menjadi lain. Tujuan untuk mendapatkan ilmu menjadi sirna, karena perhatian kita hanya tercurah kepada kekaguman terhadap sang guru tersebut.  Gandrung atau cinta yang dimaksudkan adalah yangh identik dengan seks, bukan cinta murid dengan guru seperti cinta anak kepada orangtuanya.

Serat itu pun mengingatkan, agar kita waspada karena untuk mencapai suatu tujuan haruslah menempuh jarak. Seperti dijelaskan Ki Hudoyo Doyodipuro, ibaratnya orang akan memasuki pintu, dari terik matahari yang menyengat. Pintu itu adalah gerbang ilmu. Setelah daun pintu terbuka, maka kita masuk dan lubang pintu itu kita lewati begitu saja. Kita terus masuk dan lubang pintu yang kita lihat tadi kita tinggalkan.

Simak juga:  DALAM BINGKAI FILOSOFI JAWA: Pancasila Menjadi Pedoman Perilaku

Satu hal yang terpenting, serat “Cipto Waskito” mengajak kita untuk paham bahwa belajar ilmu dan ngelmu ibarat orang menimba di sumur. Kalau sumur itu airnya keruh, maka keruh pula air yang kita timba. Kalau sumur itu sumber atau mata airnya kurang, maka sedikit pula kita mendapatkan air. Tetapi kalau mata airnya besar dan jernih, tak akan habis-habisnya kita timba dan jernih pula air yang didapatkan. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Foto dan Puisi: Dua Karya Seni Dalam Satu Antologi Puisi

Antologi puisi yang diberi judul ‘Kepundan Kasih’, bukan hanya berisi puisi, tetapi juga berisi karya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.