Selasa , 21 November 2017
Beranda » Musik » Cerpen dan Puisi Bersentuhan Musik di Tembi
Ana Ratri dan Ujug-Ujug Musik

Cerpen dan Puisi Bersentuhan Musik di Tembi

Sastra Bulan Purnama selama ini memang banyak diisi pembacaan puisi dan musikalisasi puisi, tetapi bukan berarti jenis karya sastra lain tidak mendapat tempat. Pernah juga ditampilkan pethilan novel untuk dibacakan, atau pembacaan cerpen. Pada Sastra Bulan Purnama edisi 71, Cerpen dan puisi saling berdampingan, dan keduanya bersentuhan dengan musik. Pembacaan cerpen diiringi petikan gitar, sehingga nuansa musikal dari cerpen terasa kuat, dan seperti biasa, pembacaan puisi diiringin musik, dan tidak ketinggalan lagu puisi dialunkan dengan iringan petukan gitar. Pendek kata, cerpen dan puisi bersentuhan dengan musik.

            Kali ini,  cerita pendek, atau yang lazim disingkat menjadi cerpen dipadukan dengan musik dan dipentaskan di Sastra Bulan Purnama edisi 71, Selasa 8 Agustus 2017 di Amphytheater Tembi Rumah Budaya. Dua cerpen karya Bakdi Soemanto dipadukan dengan gitar akustik  yang dimainkan oleh Woody.

 

Krisna dan Woody

 

Krisna membacakan cerpen, bahkan diolah seperti opera, dan Woody mengiringi dengan petikan gitar. Kedua penampil kakak beradik ini adalah  putra dari Bakdi Soemato, sastrwan dari Yogya. Karena daalam Sastra Bulan Purnama 71 yang diberi tajuk ‘Mengenang Yang Tiada Membaca Karyanya’ salah satunya karya-karya Bakdi Soemanto, dan dua cerpen diplih Krisna untuk dibacakan.

Krisna dikenal sebagai seorang penyanyi seriosa. Penampilannya dalam membaca cerpen memang tidak hanya sekedar dibacakan, tetapi, sebut saja ‘diseriosakan’ sehingga penampilannya agak berbeda dengan pembacaan cerpen pada umumnya, meski pada cerpen kedua, dia membacakan cerpen laiknya orang membaca cerpen, dan diiringi petikan gitar.

Ada tiga sastrawan yang dikenang, selain Bakdi Soemanto, dua orang lainnya Teguh Ranusastro Asmara dan Slamet Riyadi Sabrawi. Keduanya rajin datang di Sastra Bulan Purnama dan berulangkali tampil membaca puisi dalam seri yang berbeda-beda pada perhelatan Sastra Bulan Purnama.

 

Sasgmyta Wukandaru

 

Karya keduanya, Slamet Riyadi dan Teguh Ranusastro Asmara dipadukan dengan musik, baik dinyanyikan maupun dibacakan dengan iringan musik. Sashmyta Wulandari membaca puisi karya Teguh Ranusastro Asmara dengan iringan musik, selain gitar diwarnai pukulan kendang, sehingga suasana pembacaan puisi Sashmyta Wulandari terasa renyah.

 

Untung Basuki

 

Lain lagi dengan Untung Basuki, yang selalu mengolah puisi menjadi lagu. Kali ini, satu puisi karya Slamet Riyadi Sabrawi berjudul ‘Perhelatan Pagi’ dibuat lagu dan diiringi dengan petikan gitar. Dua lagu yang lain  dinyanyikan Untung Basuki berjudul “Elegi’ karya Linus Suryadi dan ‘Maju Perang’ karya Rendra.

“Dibidang sastra, setiap bulan kita dimanjakan oleh Tembi Rumah Budaya. Karena setiap bulan di tempat ini selalu ada pentas Sastra,” kata Untung Basuki.

Penampil lagu puisi yang lain adalah kelompok musik yang diberi nama ‘Ujug-Ujug Musik’, kelompok ini dengan vokal Ana Ratri, salah satunya menyanyikan puisi karya Budhi Wiryawan, seorang penyair yang ikut mengawali Sastra Bulan Purnama, dan, hampir-hampir tidak bisa menolak kapan dia diminta membaca puisi di Tembi, bukan hanya untuk acara Sastra Bulan Purnama, bahkan acara pembukaan pameran seni rupa, Budhi Wiryawan dengan senang hati akan membacakan puisi karyanya.

Krisna, putra kedua Bakdi Soemanto memilih dua cerpen untuk ditampilkan, karena bagi Krishna dua cerpen itu menarik kalau ditampilkan dengan petikan gitar dan akan dibacakan seperti model operet, meskipun waktunya agak panjang sedikit dibandingkan membaca dua puisi.

“Mas Ons, waktu saya untuk tampil kurang lebih 12 menit” kata Krishna.

Penampilan Krishna menyerupai pada saat kalau dia tampil menyanyikan lagu seriosa. Suaranya mantap dan gayanya khas seorang penyanyi seoriosa. Penampilan Krishna mengingatkan kita pada Bakdi Soemanto, apalagi wajah Krisna sangat mirip dengan Bakdi Soemanto: sungguh seperti pinang dibelah dua. Krisna pinang yang muda.

Krisna, Untung Basuki, Sashmyta Wulandari dan Ujug-Ujug musik, empat penampil yang meramu karya sastra dengan musik, sehingga menambah nuansa dari Sastra Bulan Purnama edisi 71 yang dihiasi bulan purnama yang bundar penuh di atas langit. (*)

Lihat Juga

Empat Antologi Puisi dari 16 Penyair di Sastra Bulan Purnama

Penyair dari beberapa kota tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 73, di Tembi Rumah Budaya. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *