Selasa , 22 Agustus 2017
Beranda » Pariwisata » Borobudur Dibangun dengan Imaji Futuristik

Borobudur Dibangun dengan Imaji Futuristik

SUATU kota atau darah tidak pernah lepas dari masa lalu dan masa depan. Artinya, suatu kota tidak hanya punya sejarah, tetapi juga punya cita-cita. Suatu kota, bahkan juga desa, dibangun oleh para pembangunnya dengan pemikiran dan gagasan yang bukan hanya untuk kepentingan sesat. Bukan hanya sekadar untuk tempat tinggal. Bukan sekadar tempat berkumpulnya sekelompok masyarakat dalam kehidupan bersama di suatu komunitas. Tetapi juga dibangun untuk kepentingan yang lebih besar dan mulia ke depan.

Saya memang belum pernah membaca di buku-buku sejarah atau di buku mana pun tentang bagaimana riwayat Rakai Sanjaya ketika di tahun 730-an Masehi memilih kawasan seputar tepian Sungai Progo (wilayah Kedu, Jawa Tengah) dijadikan sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram (Kuno). Tapi saya yakin, Rakai Sanjaya tidak sekadar memilih, tidak sekadar memutuskan sekehendak hatinya sendiri dalam membangun sebuah negeri. Ia tidak hanya sekadar melampiaskan keinginannya, tak hanya semata-mata mewujudkan ambisinya, tapi juga punya gagasan cemerlang, punya cita-cita besar, harapan serta target yang melambung jauh ke masa depan.

Saya pun merasa yakin, bahwa penerus-penerus Rakai Sanjaya, juga melakukan hal yang sama. Misalnya, sang putera yang bernama Pancapana, yang juga terkenal dengan sebutan Rakai Panangkaran, membangun Candi Borobudur dengan cita-cita dan target tujuan besar. Ia bukan hanya sekadar ingin membangun sebuah tempat peribadatan, atau hanya ingin mempersembahkan sesuatu yang berharga sebagai tanda cinta sucinya kepada sang permaisuri, Dewi Tara.

Pancapana tak hanya seorang pecinta sejati, tapi juga penggagas dan pembangun yang agung. Ia membangun Candi Borobudur dengan kekuatan cinta dan kehebatan imaji futuristiknya. Ia tidak hanya berpikir untuk masa-masa kehidupannya waktu itu saja, tapi ia merancangkan gagasan besarnya ke depan, ke masa-masa ratusan tahun arau bahkan ribuan tahun setelah kejayaannya.

Dalam imaji futuristiknya, Pancapana ingin Borobudur (tentunya kawasan Magelang sekitarnya sekarang ini) menjadi pusat perhatian dunia. Ia ingin mata dunia tertuju ke wilayah ini. Ia ingin kawasan ini menjadi pusat peradaban dan kemajuan. Pusat peradaban yang memberikan atau memancarkan sinar pencerahan kehidupan kepada umat manusia. Ia ingin kawasan ini menjadi “buku kehidupan” yang maha tebal. Karena itulah dinding-dinding tebal Candi Borobudur dipenuhi pelajaran-pelajaran suci tentang kehidupan yang tergambar dalam relief-relief indah dan sakral.

 

Meteseh

            Demikian pula halnya dengan Rakai Balitung (Rake Watukura Dyah Balitung Sri Dharmodya Mahasambu) yang memerintah di Kerajaan Mataram (kuno) pada tahun 898 sampai 910 Masehi, saya merasa yakin, keputusannya menjadikan daerah Mantyasih (Meteseh) sebagai daerah Perdikan yang dipimpin setingkat Patih, Sima Kapatihana, pada tahun-tahun awal 900-an, tentu didasari juga oleh gagasan dan target yang cemerlang.

Kawasan Mantyasih memang kawasan pilihan. Rakai Balitung sengaja memilih kawasan Mantyasih untuk dijadikan daerah Perdikan, karena dalam mata batin dan imaji futuristiknya ia melihat kawasan ini sebagai daerah yang menjanjikan dan penuh harapan. Kawasan ini diyakininya sebagai kawasan yang strategis, kawasan yang suatu saat akan berkembang dan memberikan manfaat besar bagi kehidupan manusia. Kawasan yang diharapkannya dapat memberikan sinar dan semangat kehidupan kepada daerah-daerah sekitarnya.

Seperti para pendahulunya, Rakai Balitung bukan hanya seorang raja, bukan hanya seorang penguasa yang dihormati rakyatnya, tetapi juga seorang penggagas dan pemikir kehidupan masa depan. Ia seorang futuris yang handal dan cemerlang. Di jaringan-jaringan otaknya sudah terancang dan tergambar jelas tentang Mantyasih masa depan, tentang Mantyasih beratus-ratus tahun bahkan beribu-ribu tahun kemudian.

Terus terang, saya sempat kagum kepada karya-karya futuristik Alvin Toffler. Tapi kemudian kekaguman saya menjadi agakn surut, setelah menyadari bahwa di negeri beratus-ratus tahun lalu sesungguhnya  sudah terdapat banyak tokoh futuristik yang handal dan mengagumkan. Kita bisa menyebut, misalnya Rakai Sanjaya, Rakai Panangkaran dan Rakai Balitung. Berdirinya Kerajaan Mataram (Kuno) di tepian Sungai Progo, bangunan megah Candi Borobudur dan lahirnya daerah Perdikan Mantyasih (sekarang Magelang), setidaknya sebagai bukti bahwa para penggagas atau pembangunnya adalah tokoh futuris yang memiliki imaji futuristik sangat brilian.

Tetapi selama beberapa malam ini, saya tak berhenti merenung, tak berhenti bertanya, meski kepada diri sendiri — mampukah kita semua mewujudkan imaji-imaji futuristik yang sudah dibangun oleh Rakai Sanjaya, Rakai Panangkaran dan Rakai Balitung beratus-ratus tahun lalu itu? Mampukah kita menjadikan kawasan ini sebagai kawasan yang memancarkan sinar pencerahan peradaban dan kemajuan manusia? Mampukah kita menjadi kawasan atau daerah ini benar-benar bermanfaat bagi kehidupan warganya?

Saya agak terharu ketika melihat bulan yang berada di balik rimbun pepohonan itu seperti tersenyum mencibir. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan VI: Dialog

  Rudi Sofyan (Mahasiswa STIPRAM Yogyakarta) Masalah pariwisata yang berkelanjutan  masih mempunyai kelemahan. Yang pertama, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *