Beranda » Humaniora » Bima, Satria Pembela Kebenaran
Bima, sang pembela kebenaran (foto: net)

Bima, Satria Pembela Kebenaran

Ketika kebenaran tidak lagi menjadi pegangan dan panutan, serta manakala kebenaran telah dikesampingkan dan dipandang sebagai sesuatu yang layak untuk dikesampingkan, maka kita akan merasakan suatu kehidupan di padang sabana yang gersang. Kita pun akan merasakan suatu kemarau panjang dan dahaga yang mencekik di kerongkongan. Kita tersiksa. Kita terkekang. Kita menderita.

Dalam kondisi ketakberdayaan seperti itu kita pun lalu merindukan dan berharap munculnya seorang ‘satria pembela dan penegak kebenaran’. Kita berharap akan muncul seseorang yang dengan gagah berani, berjuang tanpa pamrih, membela dan menegakkan kembali kebenaran pada hakekat dan eksistensinya sebagai pegangan kehidupan manusia.

Di dalam jagad pewayangan, tokoh yang selalu disebut sebagai ‘satria pembela dan penegak kebenaran’ itu adalah Bima. Dia seorang satria Pandawa, yang merupakan putera kedua dari Prabu Pandudewanata dan Dewi Kunti.

Bima mempunyai sejumlah nama lainnya, di antaranya Werkudara, kemudian Wijasena yang berarti pelindung keselamatan keluarga (bangsa), dan Kusumayudha atau pahlawan perang yang tak pernah gentar menghadapi musuh yang angkaramurka.

Kenapa Bima menyandang nama harum sebagai seorang kesatria pembela dan penegak kebenaran? Dalam berbagai lakon pewayangan, Bima selalu ditampilkan sebagai tokoh yang tak pernah kompromi dengan keangkaramurkaan, kemunafikan, kelicikan, ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.

Bima senantiasa tampil sebagai kesatria yang mendobrak atau melawan kebathilan. Ia merupakan tokoh yang sepanjang perjalanan hidupnya diabdikan untuk melawan kebathilan dan ketidak-adilan. Sekali pun ia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu mungkin mengandung resiko besar dan berbahaya bagi dirinya.

Apa pun resiko dan bahaya yang dihadapi, asalkan itu semua demi keselamatan keluarga (bangsa), Bima tak pernah gentar menghadapinya. Bima sangat gandrung dengan kebenaran dan keadilan, karenanya ia tidak pernah diam manakala menyaksikan kesewenang-wenangan, kebathilan dan ketidak-adilan terjadi di sekitarnya.

Sejak Kecil
Sifat kesatria yang tangguh sudah dimiliki Bima sejak ia masih kecil. Lakon pewayangan “Bima Bungkus” misalnya, menceritakan bagaimana keperkasaan dan keberanian Bima ketika masih kecil dalam menghadapi musuh negara Astina yang datang menyerang.

Di saat kerajaan Astina dan keluarga Pandawa sedang berduka karena wafatnya Prabu Pandudewanata, ayah para Pandawa, tiba-tiba datang serangan secara serentak dari dua kerajaan. Kedua kerajaan yang menyerang itu masing-masing Kerajaan Garbasumanda dengan rajanya Prabu Kaladaksa dan Kerajaan Paranggubarja dengan rajanya Prabu Kalagubarja.

Sekali pun waktu itu ia masih kecil, tapi Bima sadar bahwa serangan dari dua kerajaan itu sangat mengancam keselamatan dan eksistensi keluarga atau bangsanya. Jika serangan musuh itu berhasil, maka yang akan terjadi kemudian adalah kesewenang-wenangan, keangkaramurkaan dan ketidakstabilan. Bila itu terjadi, maka yang akan menanggung akibatnya adalah rakyat. Rakyat Astina tentu akan mengalami suatu penderitaan karena berada dalam penindasan, tekanan dan ketidakbebasan.

Pikiran kanak-kanaknya sudah menyatakan ketidaktegaannya melihat hal semacam itu terjadi. Karena itulah ia kemudian bertekad untuk melakukan upaya apapun untuk mengusir para musuh penyerang tersebut. Ia telah bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan membendung laju serangan para musuh yang akan menciptakan ketidakstabilan dan keangkaramurkaan.

Bima sungguh luar biasa. Prabu Kaladaksa dan Prabu Kalagubarja langsung dihadapinya sendiri. Semula banyak yang mengkhawatirkan kemampuan ‘si kecil’ Bima dalam menghadapi kedua musuh yang perkasa itu. Tetapi Bima sudah tidak peduli. Ia bertekad akan melakukan apa pun untuk mengusir musuh-musuh bangsa dan negaranya.

Bima melawan habis-habisan. Akhirnya, dengan senjata kuku sakti yang dimilikinya, yakni kuku Pancanaka, Bima berhasil mengalahkan kedua raja perkasa itu. Kedua pimpinan para penyerang itu tewas. Dengan tewasnya Prabu Kaladaksa dan Prabu Kalagujarba di tangan Bima itu, maka kerajaan Astina, segenap keluarga Pandawa dan rakyat terhindar dari malapetaka kehancuran. Kebathilan dan ketidak-adilan yang nyaris terjadi dan dialami oleh rakyat Astina dapat terhindar. Kebenaran telah mengalahkan segala-galanya.

Lakon-lakon lainnya, seperti lakon “Bale Sigala-gala”, “Dewa Ruci”, “Bima Palakrama”, “Pandawa Timbang”, “Kangsa Adu Jago”, “Babad Alas Mertani” dan “Bondhan Paksa Jandhu” juga sarat dengan gambaran betapa Bima tidak pernah mau berkompromi dengan kebathilan dan ketidak-adilan.

Bima benar-benar tokoh atau figur dambaan. Terlebih-lebih ketika kita sedang berada dalam suatu tatanan kehidupan yang penuh ketidakpastian, keputus-asaan karena kebathilan, ketidak-adilan, kesewenang-wenangan, keangkaramurkaan dan korupsi semakin merajalela, maka tokoh seperti Bima benar-benar kita harapkan kedatangannya.

Persoalannya sekarang, di saat Bhatara Kala dan dajjal sedang gencar-gencarnya mencengkeramkan ‘kuku dan taringnya’ untuk merusak, melemahkan, memporak-porandakan dan menterpurukkan kita ke dalam ketakberdayaan, tokoh seperti Bima yang didambakan hanya muncul dalam angan-angan dan khayalan semata.

Dalam ketakberdayaan seperti ini, seharusnya kita tak pernah berhenti berdoa dan berharap agar, agar segera datang kesatria gagah perkasa pembela dan penegak kebenaran yang mampu mengusir Bhatara Kala dan dajjal. Kita benar-benar berharap datang tokoh Bima yang bisa membela dan menegakkan kebenaran serta melawan kebathilan maupun ketidak-adilan di negeri ini.

Lihat Juga

Diskusi Kebangsaan XIV: Perempuan Pelestari Pancasila

DISKUSI Kebangsaan XIV, April 2018, memilih pokok bahasan “Perempuan Pelestari Pancasila”. Perempuan ditantang berperan aktif …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *